
Perjalanan dari salon Madam Suzan ke rumah terasa lebih lama bagi Irma. Mungkin karena dipengaruhi hatinya yang kalut atau memang motornya yang terasa berat seolah memiliki muatan.
Irma bahkan harus ekstra fokus pada jalanan yang tidak terlalu ramai. Dua kali berhenti di tukang tambal karena udara dalam ban motor bagian belakang mendadak kempes seperti kelebihan beban.
Angin yang berhembus ringan dari arah depan pun seakan berubah menjadi badai beliung yang menerpa kencang kendaraannya. Irma sampai harus mengencangkan pegangan pada setir motornya agar tidak oleng dan selamat sampai rumah.
Namun, entah bagaimana awalnya … Irma juga tidak tahu, ia sekarang justru sudah berkendara di jalan raya, jauh dari rumahnya. Apa karena Irma banyak melamun sehingga jalan pulang justru dilewati begitu saja, atau memang ada sesuatu yang sengaja mengarahkannya ke jalan utama?
BRAK!!!
Irma tersungkur, jatuh terguling dari motor setelah menabrak bagian belakang mobil yang mendadak mengerem di depannya. Tidak, mobil itu berjalan normal, Irma menabrak karena kurang konsentrasi.
Seketika, Irma menyerukan nama Sang Pemilik Semesta karena saking kagetnya. Saat itulah kesadaran Irma kembali penuh. Tidak linglung. Ia pun berusaha berdiri dengan cepat untuk menyingkirkan motor dari jalan raya.
“Ya Tuhan!” desis Irma berulang-ulang sambil mengusap wajah dan dada. Bersyukur karena tidak ada luka berarti di tubuhnya. "Untung masih selamat! Untung di belakang nggak ada kendaraan!"
Lalu lintas ramai, mobil yang ditabrak Irma malah tidak berhenti untuk meminta pertanggungjawaban penabraknya. Mobil suv mahal itu tetap melaju santai meninggalkan Irma.
Beberapa detik berlalu. Irma dalam dilema. Satu sisi ia diuntungkan karena tidak harus keluar uang untuk lecet dan penyok pada bemper belakang mobil yang ditabraknya. Ia menebak bahwa body repair untuk mobil mahal seperti itu pasti tidak murah!
Namun, hati nuraninya memerintah untuk mengejar mobil itu. Ia harus meminta maaf dan berani mengambil resiko mengeluarkan banyak uang untuk membayar jasa bengkel body repair. Kalaupun pemilik mobil nanti tidak meminta ganti rugi, setidaknya Irma tidak bersikap seperti pecundang yang melarikan diri setelah terjadi tabrakan. Apalagi yang salah adalah dirinya.
Irma segera saja melajukan motornya cepat, mengejar mobil suv yang sudah tidak kelihatan lagi. Ia berharap jalan lurus yang sedang dilalui membawanya bertemu lagi dengan mobil tersebut.
Selang beberapa waktu, Irma melihat mobil itu ada di depannya. Irma tancap gas dan langsung membunyikan klakson beberapa kali ketika posisinya ada di samping mobil. Irma lalu mendahului, berkendara di depan mobil sambil memberikan kode berhenti pada pengemudinya.
Irma bersyukur sekaligus deg-degan ketika mobil yang mendahuluinya akhirnya menepi. Ia pun berhenti di belakang mobil dan turun lebih dulu, menunggu di trotoar untuk berbicara pada empunya mobil.
__ADS_1
Seorang pemuda turun dari tempat duduk penumpang, diikuti sopir yang membawa mobil. Mereka berdua menghampiri Irma yang memasang wajah bersalah.
“Ada apa, Bu?” sapa pemuda pertama.
“Ibu yang nabrak mobil ini tadi ya?” tanya si sopir.
Irma menatap pemuda yang menyapanya lebih dulu, dengan sangat antusias, mengabaikan si sopir. Ia hanya menyahut dengan anggukan dan tiba-tiba saja merasa dejavu. Lupa-lupa ingat dengan sosok jangkung yang berdiri di depannya.
Muda, tampan, berkharisma dan matanya tajam bak elang pemangsa. Senyumnya sangat menawan dan ramah, mengingatkan Irma pada … lupa! Irma mengumpat dalam hati. Sial!
“Saya tidak sengaja menabrak mobil masnya, mohon dicek dulu kondisinya! Kayaknya ada yang lecet dan mungkin penyok karena benturan tadi cukup keras! Saya minta maaf, saya juga siap mengganti kerugian yang ditimbulkan!"
"Tadi sopir saya memang ngerem mendadak karena harus menghindari kendaraan yang motong jalan tanpa menyalakan lampu sen. Jadi wajar kalau ibu menabrak kami dari belakang. Saya juga minta maaf. Soal mobil, nanti saya bawa sendiri ke bengkel, selesai masalah. Lagian sudah biasa kalau ada gesekan di jalan raya, namanya juga jalan umum!" jawab si pemuda tampan kalem.
Fiuh, Irma langsung menghembuskan nafas lega. Dilihat dari penampilannya yang seperti mahasiswa, pemuda di depannya pasti berasal dari keluarga kaya. Mungkin bapaknya pejabat sehingga uang kecil Irma tidak akan berarti apa-apa. Mungkin juga pemuda itu memiliki kekayaan pribadi yang melimpah, dan terlalu mampu kalau hanya untuk membenahi bemper belakang mobilnya.
"Tidak perlu, Bu! Sopir saya juga salah, sudah menyebabkan ibu jatuh terguling dari motor. Apa ibu perlu dibawa ke klinik? Ada luka serius?"
"Tidak ada, tadi itu cuma jatuh, kaget. Berarti tidak ada masalah ya, Mas? Selesai dengan damai?"
Si sopir menyahut, "Betul, Bu! Kita damai saja biar sama-sama enak. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi."
Irma tersenyum, "Terima kasih!"
"Sama-sama, Ibu!" jawab dua pemuda di depan Irma hampir bersamaan.
Sebelum berpisah, Irma menatap pemuda jangkung itu sekali lagi. Dari atas ke bawah. Ingatannya tentang seseorang yang pernah bertemu muka dengannya mulai terbuka meskipun samar.
__ADS_1
Ya mereka berdua mirip. Hanya saja, pemuda satu ini lebih segalanya dibanding pemuda sableng yang pernah meramal dirinya tiga tahun lalu. Pemuda ini jauh lebih tampan, cool, terawat, berwibawa dan tentu saja kaya.
"Apa kita sebelum ini pernah bertemu ya, Mas? Saya lupa … tapi wajah mas kok nggak asing buat saya. Mas mirip sekali dengan seorang teman lama!"
"Nama saya El, dan ini Tian."
"El atau Elz? Ini serius kamu? Apa kalian kembar?"
Elz tersenyum ramah, "Kirain Mbak Irma sudah lupa sama aku hehehe!"
"Brengsek! Ternyata memang kamu, Elz! Aku … aku memang lupa tadi! Kamu juga diem aja, nggak bilang kalau kenal! Kamu beda banget sekarang, Elz! Aku beneran pangling. Kamu dulu nggak seperti ini …."
Elz tidak menanggapi rasa antusias Irma pada perubahannya, ia justru bertanya hal lain. "Mbak Irma beneran nggak apa-apa? Ada yang lecet?"
Irma menggeleng, "Aku nggak apa-apa! Cuma kaget aja tadi."
"Ya udah kalau gitu aku jalan dulu! Ada janji sama orang. Sehat-sehat ya, Mbak! Sampai ketemu lagi!"
"Oke sampai ketemu lagi, Elz!" Irma tersenyum kecil melepas kepergian Elz, si peramal sableng yang sudah bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda.
Mobil Elz menghilang dari pandangan, dan Irma masih termangu. Ia lalu menepuk jidatnya setelah ingat sesuatu, "Duh oon bener, kenapa tadi nggak minta nomor telepon Elz?"
Irma hendak mengejar lagi, tapi nalurinya menolak. Ia mengingat ucapan Elz sebelum pergi. 'Sampai ketemu lagi!' yang artinya Elz meramalkan kalau mereka akan bertemu lagi di lain hari. Bagaimana dengan kalimat 'sehat-sehat ya, Mbak?' Apakah ia akan sakit? Ataukah ia harus selalu menjaga kesehatan?
Irma menggelengkan kepala, ia harus segera pulang, mumpung sedang jauh dari yang namanya bingung dan lingung!
***
__ADS_1