
Fatal bagi Irma, rasa lelah setelah ibadah malam membuatnya kembali terlelap tanpa sengaja. Padahal, ia sudah diwanti-wanti Dewi untuk tidak lengah pada saat ada sesuatu yang ganjil di sekitarnya.
Sahabatnya itu berkali-kali mengingatkan, kalau kejahatan bawah tangan seperti santet bisa masuk ke dalam tubuh korban saat lengah–bukan hanya saat tidur saja. Tapi semua sudah terlanjur terjadi, menyesal pun tidak berguna lagi.
Irma bangun dengan kondisi tak baik-baik saja. Telinganya terus saja berdengung seperti kemasukan air, kepalanya sakit luar biasa. Tubuh terasa berat untuk bergerak dan bagian bawah perutnya masih nyeri–juga berbau busuk.
Setelah minum teh hangat dan menelan obat sakit kepala, Irma mengantar anaknya pergi ke sekolah tanpa memberikan sarapan seperti biasanya. Ia hanya memberikan uang saku lebih agar kedua anaknya bisa membeli makan dan jajan di sekolah.
Irma langsung pergi ke rumah Dewi untuk diantarkan ke pak Dulah. Meski harus berjalan lambat agar konsentrasinya tidak pecah, Irma akhirnya sampai di rumah Dewi.
Melihat kedatangan Irma, Dewi yang sedang mempersiapkan kebutuhan suaminya yang akan berangkat kerja meminta Irma menunggu di ruang tamu.
“Maaf mas, aku bertamu pagi-pagi,” kata Irma mengangguk sopan pada suami Dewi.
“Iya nggak apa-apa, Mbak! Kebetulan Dewi juga tak punya teman di rumah kalau aku tinggal kerja. Mau ke Pak Dulah lagi, Mbak?” tanya suami Dewi.
Irma membenarkan, “Iya, Mas! Dari semalam badan saya rasanya berat.”
“Aku ada kenalan paranormal lain kalau Mbak Irma mau, menurutku paranormal itu cocok-cocokan sih! Malah ada yang bilang kalau berobat ke satu paranormal tapi tidak mendapatkan kesembuhan, jangan kembali lagi ke tempat itu! Artinya paranormal itu tidak berjodoh atau tidak mampu menyembuhkan penyakit pasien!”
Dewi muncul dari dalam membawakan tas kerja suaminya, “Kalau memang tidak mampu, kenapa si dukun tidak berkata jujur, Mas? Kasihan pasiennya dong kalau gitu!”
“Dia akan hanya berusaha membantu karena masih dipercaya sama pasiennya. Bisa jadi ada motif lain kenapa si dukun masih menerima pasien yang sama–uang misalnya!” jawab suami Dewi. “Aku ada teman yang dikibulin sama dukun soalnya, makanya bisa ngomong gini!”
Irma mengangguk-anggukkan kepala, kalimat suami Dewi terasa masuk akal baginya. “Benar juga sih, Mas! Kita kalau berobat ke rumah sakit, misal sakit itu bukan bidang yang ditangani dokter yang kita kunjungi, pasti dirujuk ke dokter lain yang lebih mengerti. Bahkan di rujuk ke rumah sakit lain yang lebih besar!”
“Nah itu maksudku, Mbak! Kalau berkali-kali datang ke dukun yang sama dan tidak mendapatkan kesembuhan, kenapa masih diteruskan? Kenapa tidak cari alternatif lain?”
“Ya udah aku terakhir ini ke Pak Dulah, misal nanti belum ada kemajuan … aku minta alamat paranormal kenalan mas itu, ya?”
__ADS_1
Suami Dewi menjawab, “Dewi sudah tau tempatnya, nanti Mbak Irma bisa kesana dianter Dewi. Paranormal itu sudah tau kalau Dewi istriku!”
Irma menukas antusias, “Terima kasih banyak, Mas!”
“Ya sudah saya tinggal dulu!”
Irma kembali duduk menunggu Dewi yang ikut pergi ke halaman, mengantarkan suaminya berangkat kerja.
“Berangkat sekarang, Mbak?” tanya Dewi. “Mbak sudah sarapan?”
“Aku nggak bisa makan apa-apa, Wi! Rasanya mual terus. Sini duduk bentar di sebelahku!”
Dewi bingung, tapi tak menolak ide Irma. Ia duduk di sebelah sahabatnya itu dengan ekspresi penuh tanya. “Ada apa sih, Mbak?”
“Kau mencium bau busuk nggak?” tanya Irma serius.
“Bau busuk bangkai? Apa ada cicak mati di ruang tamu yang luput tak sapu ya?” Dewi mulai mengendus-endus bau yang dimaksud Irma. “Nggak ada bau busuk kok, Mbak!”
Dewi menghirup udara ruang tamunya lebih banyak untuk memenuhi paru-paru, “Nggak ada bau itu di ruangan ini, Mbak! Ada apa sih sebenarnya?”
“Aku keluar cairan bau dari sini–kayak keputihan tapi baunya tajam sekali. Rasanya nggak mungkin kalau kamu nggak cium bau itu, soalnya hidungku aja sampai jenuh. Makanya aku nggak doyan makan,” jawab Irma sedih. “Ya udahlah, nanti aku tanyakan saja ke Pak Dulah.”
“Aku ambil jaket sebentar!” ujar Dewi.
Udara pagi memang masih dingin di luar ruangan. Dewi duduk di depan membonceng Irma menuju rumah Pak Dulah. Masih membicarakan hal mistis yang dialami Irma semalam.
“Aku kan udah bilang jangan dibawa tidur kalau ada hal ganjil yang dirasain!”
Irma berdecak, “Mungkin gara-gara kecapekan. Aku sore habis bawa anak-anak berenang–sama Mas Beni juga!”
__ADS_1
“Hah? Serius, Mbak? Jangan-jangan masalah itu yang bikin mbak akhirnya dapat serangan malam dari Madam Suzan! Aku yakin banget sih kalau pelakor itu yang sengaja berbuat ulah. Maunya apa coba, udah ambil suami orang eh masih nyakitin yang perempuan?”
“Entahlah, Wi! Tujuannya biar aku mati mungkin, biar tidak ada yang mengganggu Mas Beni lagi,” jawab Irma pasrah.
“Kayaknya harus diberi pelajaran ini madam! Kalau cuma mau bikin Mas Beni kembali secara baik-baik rasanya tak mungkin, karena Suzan sialan itu pasti terus saja mencari cara untuk memisahkan mbak sama Mas Beni.”
Irma bertanya dengan nada terkejut, “Maksudmu kita kirim balik santetnya?”
“Dia sendiri yang bikin masalah, lagian kalau dia nggak mati bakal panjang urusan ini!”
“Waduh … aku nggak berani kalau sampai seperti itu, Wi! Aku cuma mau Mas Beni kembali, meskipun nggak balik jadi suamiku lagi, setidaknya dia tidak lupa dengan anak-anak.”
Dewi mendengus dingin–geregetan dengan sikap Irma. “Mbak Irma terlalu sabar! Eh … ada apa ya di rumah Pak Dulah kok ramai bener jam segini! Banyak banget yang mau berobat, bakal antri panjang kayaknya ini, Mbak!”
Jantung Irma berdegup kencang, matanya terpaku pada bendera putih yang biasa dipasang warga jika ada kematian di kampung. “Kayaknya mereka bukan mau berobat, Wi! Mungkin keluarga Pak Dulah ada yang meninggal!”
Dewi menghentikan motor di seberang jalan rumah Pak Dulah, lalu turun untuk bertanya pada ibu-ibu yang akan masuk ke halaman rumah dukun tersebut.
“Bu … maaf mau tanya, Pak Dulah apa sedang berduka? Siapa yang meninggal?”
Salah satu ibu yang membawa ember menjawab, “Yang meninggal dunia Pak Dulah, Mbak! Tadi sebelum subuh … jadi tempat prakteknya tutup mulai hari ini!”
“Hah?” Dewi dan Irma tercengang secara bersamaan. “Pak Dulah meninggal? Sakit apa, Bu?”
“Kurang tau juga, katanya semalam muntah darah–trus langsung pingsan! Monggo saya tinggal ke dalam dulu, jenazahnya baru mau dimandikan!”
Irma terhenyak mendengar kalimat Dewi setelah ibu yang memberi informasi menjauh dari mereka.
“Sepertinya dukun yang membantu Madam Suzan lebih sakti daripada Pak Dulah, Mbak! Biasanya dukun yang kalah perang gaib, kalau tidak jatuh sakit ya mati!”
__ADS_1
***