Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Mbah Suro


__ADS_3

Irma termangu di ruang tamu rumah Dewi, ditemani segelas kopi panas yang masih mengepulkan asap. Di seberang meja, Dewi sibuk berbalas pesan dengan suaminya. Memberitahukan kabar duka dari rumah Pak Dulah.


Mungkin memang takdir hidup Pak Dulah telah selesai, tapi entah mengapa Irma merasa bersalah dalam hal ini. Ucapan Dewi yang menyatakan kalau dukun kalah sakti dalam perang gaib bisa sakit dan mati sangat menyakiti hati kecil Irma.


Irma meneguk kopi dari cawan selagi hangat untuk mengurangi pening di kepala. Benarkah Pak Dulah meninggal karena membela kepentingannya?


“Gimana, Mbak? Mau ke rumah Mbah Suro nggak ini?” tanya Dewi setelah tak sibuk lagi dengan ponselnya.


“Jauh nggak rumahnya?”


“Tiga puluh menit dari sini! Antri dikit kalau berobat di tempat Mbah Suro!”


Irma menimbang keputusan, “Misal aku nggak kesana gimana, Wi?”


“Terserah mbak sih! Yang merasakan sakit itu kan Mbak Irma, aku cuma bisa bantu nganter!”


Irma merasa tak enak hati dan luar biasa bimbang, “Jujur aku bingung, Wi! Aku merasa bersalah dengan keluarga Pak Dulah!”


“Mbak, kalau cara pikirmu begitu, kamu nggak akan mau berobat lagi ke paranormal. Masalahnya, penyakit non medis siapa yang bisa menyembuhkan kalau bukan orang seperti Pak Dulah? Soal Pak Dulah sampai meninggal itu resiko pekerjaannya. Mbak Irma berobat kesana nggak gratis, bayar mahal malahan.”


“Iya aku ngerti, tapi siapa yang mau menjadi penyebab kematian orang lain, Wi? Aku beneran nggak bisa cuek atau tidak menganggap kalau Pak Dulah mati karena membelaku!”


“Hanya Tuhan yang tau soal itu, Mbak! Aku nggak mau komentar lagi!”


Irma kembali dilanda dilema, ia baru menanggapi pernyataan Dewi setelah diam beberapa saat. “Iya deh kita pergi ke paranormal itu!”


“Ya udah ayo berangkat sekarang, belum nanti kalau antrinya panjang!”

__ADS_1


“Wi, kamu masih inget sama ceritaku … itu loh yang nggak sengaja ketemu Elz di jalan? Yang aku nabrak mobilnya?”


Dewi berpikir sejenak, “Iya inget! Kenapa emangnya, Mbak?”


“Semua ramalan Elz nggak ada yang meleset ya, Wi! Apa dia itu sebenarnya paranormal? Maksudku sebenarnya dia itu pintar tapi disembunyikan. Pura-pura boddoh intinya. Soalnya pas aku ketemu kemarin … Elz yang sekarang beda banget sama yang dulu. Elz udah nggak kelihatan sablengnya!”


Dewi menjentikkan jari, “Nah … aku pernah dengar orang yang lelaku gila demi ilmu kesaktian. Mungkin Elz juga gitu, Mbak! Pura-pura sableng untuk mendapatkan ajian tertentu! Untuk bisa jadi paranormal lah bahasanya.”


“Kalau gitu Elz sebenarnya sakti dong, Wi!” sahut Irma sembari menaikkan bokongnya ke atas motor. Hatinya berdesir tak nyaman dan tubuhnya semakin berat ketika mulutnya menyebut nama Elz berulang kali.


Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang tak menyukai nama pemuda itu. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang menolak keras pembahasan mengenai Elz. Seperti ada rasa takut yang tak terjelaskan setiap kali nama Elz disebut dengan mulutnya.


“Rumah Mbah Suro ini dekat sama rumah Lala loh, Mbak! Nanti mampir yuk, siapa tau dia ada info soal Elz! Dulu mereka juga dekat, kan?”


“Lala?” Irma berusaha mengingat tim frontline yang dulu bekerja bersamanya. “Seingatku yang dekat sama Elz itu Nadia!”


“Oh ya aku ingat, Lala yang seminggu sekali ganti warna rambut, kan? Gimana kabar dia sekarang, Wi?”


“Persis seperti yang Elz ramalkan, Mbak! Lala jodohnya jauh! Jadi dia belum nikah sampai sekarang!” jawab Dewi sembari menertawakan ramalan konyol yang pernah diucapkan seorang pemuda sableng pada teman-temannya.


“Astaga, jadi ramalan Elz ini tidak berhenti di kita aja?” tanya Irma skeptis. Ia memang tak pernah dekat dengan si peramal sableng, tak terlalu peduli, sehingga tidak mengikuti sepak terjangnya selama berteman dengan Dewi dan yang lainnya.


“Semua anak toko baik secara terang-terangan atau diam-diam itu kena ramal Elz–tanpa kecuali. Tapi akhirnya semua pada marah karena Elz dianggap ngelantur dan mulai mengada-ada, jadi tak ada lagi yang mau percaya dan mau berteman dengannya. Termasuk aku! Padahal kalau dipikir-pikir Elz itu nggak salah! Dia mungkin cuma mengungkapkan apa yang dilihatnya dari kita–dari bisikan atau dari ilmunya.”


“Bo-dohnya aku yang udah ketemu langsung malah nggak minta nomor teleponnya, kayak nggak ingat bagian itu! Pas dia pergi baru tepok jidat!”


Irma semakin mengerti kenapa ia tak ingat untuk meminta nomor telepon Elz. Sesuatu dalam dirinya lah yang membuatnya linglung. Ia juga ingat kalau ada rasa takut ketika mengobrol dengan Elz.

__ADS_1


“Kalau mbak berjodoh sama Elz pasti nanti bertemu lagi! Maksudku bukan jodoh jadi pasangan hidup pengganti Beni, tapi jodoh dalam arti lain. Elz jadi penolong sakitnya Mbak Irma–tapi kalau Elz memang beneran paranormal loh ya!”


Irma tak yakin ia akan bertemu dengan Elz lagi meski pemuda itu mengatakan ‘sampai ketemu lagi’. Karena tanpa sadar, mulutnya mendadak menolak ide Dewi untuk mampir ke rumah Lala. Ia sekarang justru merasa disetir oleh sesuatu yang mengakibatkan adanya ketidaksinkronan antara kata hati dan pikiran.


Seketika Dewi langsung bertanya, “Kenapa nggak mau mampir tempat Lala, Mbak?”


“Aku harus jemput Novan dan Novia juga nanti siang, takut mereka nunggu lama di sekolah. Kita juga belum tau se-antri apa nanti di tempat Mbah Suro! Kapan-kapan aja kita agendakan main ke rumah Lala, kamu bikin janji dulu aja sama dia, ya!”


Dewi menaikkan kecepatan motornya sehingga tidak melanjutkan obrolan. Setelah beberapa menit, Dewi membelokkan motor ke jalan kampung yang tidak terlalu lebar. Berhenti di halaman rumah besar bergaya desa.


Ada tiga motor yang parkir di halaman. Beberapa orang sedang duduk di ruang tunggu di depan pintu berwarna merah bertuliskan nama dan jadwal praktek Mbah Suro.


Irma mengambil duduk di kursi belakang, bersebelahan dengan Dewi. Sepertinya mereka cukup beruntung karena antrian hanya beberapa orang saja.


Dari dalam ruang praktek Mbah Suro, samar-samar terdengar suara raungan perempuan. Tepatnya teriakan kesakitan. Irma memejamkan mata gelisah. Jika dugaannya benar, wanita yang melolong meminta tolong itu pasti sedang dalam penanganan si paranormal.


Dewi menepuk punggung tangan Irma yang bergerak gemetar ketika menggenggam pegangan kursi. "Mbak?"


Irma mengaduh, "Dadaku tiba-tiba panas, Wi!"


"Tahan sebentar ya, Mbak! Itu pasti jin yang ada di dalam tubuh mbak lagi bereaksi dengan kondisi tempat ini. Jin itu gelisah karena akan dikeluarkan dari tubuh Mbak Irma. Jin sialan itu pasti takut sama Mbah Suro!"


Irma menoleh dan menatap Dewi dengan ekspresi tertekan, "Nanti kamu temani aku ya, Wi! Pokoknya aku jangan ditinggal, apalagi kalau pas aku tidak sadarkan diri!"


Dewi tersenyum meyakinkan, "Mbak nggak usah khawatir, aku kenal sama Mbah Suro! Aku bisa tinggal untuk menemani mbak di dalam selama pengobatan berlangsung."


***

__ADS_1


__ADS_2