Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Ingat Pulang


__ADS_3

Sepanjang malam, Irma menghabiskan waktunya untuk beribadah. Berusaha melawan sendiri rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Hal itu dikarenakan dua butir obat sakit kepala yang diminumnya sama sekali tidak efektif menyembuhkan.


Irma tidak mungkin menambah obat lagi atau dia akan overdosis dan berakibat fatal. Ia tau kalau sakit itulah yang diharapkan oleh orang yang mengiriminya penyakit. Seperti yang pernah Pak Dulah katakan, kalau ia sedang diserang oleh orang yang tak menyukainya.


Ketika akhirnya rasa sakit mereda, hari sudah menjelang pagi. Irma lemas akibat kurang tidur dan kehabisan energi karena melawan sesuatu yang gigih ingin mengambil alih tubuhnya.


Irma tak menyerah meski badan rasanya remuk redam, ia tetap mengurus kebutuhan anak-anak sekolah dan mengantarkan dua buah hatinya mengenyam pendidikan, sebelum akhirnya ambruk dan pulas di kamarnya. Warung dititipkan kepada ibunya yang kebetulan memang sedang tidak ada kesibukan. Ia bahkan melewatkan beberapa panggilan telepon dan pesan dari pelanggan warung yang minta segera dibalas.


Irma baru bangun empat jam kemudian, ketika anak-anaknya pulang sekolah. Novan dan Novia menghambur masuk ke kamarnya sudah dengan pakaian rumahan, dengan wajah berseri-seri, dan berceloteh kalau mereka pulang bersama Sang Papa.


"Mama, ayo bangun!"


"Astaga!" Irma terperanjat dan seketika duduk. "Kalian pulang dijemput papa?"


"Iya beneran, Ma!" jawab Novia, menarik tangan Irma agak keluar kamar.


"Trus papa dimana sekarang?"


"Ada di depan, Ma!" jawab Novia lagi. "Ayo ma temui papa! Nanti papa pergi lagi kalau mama nggak keluar."


"Kok papa nggak diajak masuk?"


Novan menjawab dengan raut kecewa, "Papa nggak mau, katanya ini bukan rumah papa lagi."


“Novan sama Novia sekarang ajak papa masuk ke ruang tamu, mama mandi sebentar sama bikin minum!”


“Iya, Mama!” Dua suara anak-anak terdengar gembira ketika meninggalkan kamar Irma.


Jantung Irma berdegup keras, ini kali pertama Beni pulang dengan sendirinya. Meski mengatakan kalau ini bukan rumahnya lagi, tapi setidaknya Beni masih mau bertemu dengannya. Terbukti tidak langsung pergi setelah mengantarkan kedua anaknya sampai rumah. Menjemput anaknya di sekolah juga atas inisiatif sendiri. Sungguh mengejutkan.


Rasa canggung mulai melanda. Sepertinya ada yang tidak tepat. Irma bahkan salah tingkah karena akan bertemu Beni lagi. Irma merasa tak beda dengan gadis yang akan didatangi kekasihnya pada malam minggu.


Irma mandi lebih cepat, tapi lebih bersih dan wangi. Ia juga sedikit berdandan untuk menutupi wajah bangun tidurnya. Irma baru keluar kamar setelah meneguhkan diri. Ia pergi ke dapur dan satu gelas kopi sudah ada di tangan, untuk pria yang masih dicintainya itu.


Suara kedua anaknya yang sedang bercanda dengan papanya di ruang tamu melegakan hati Irma. Ia langsung luluh dan lupa dengan perselingkuhan Beni. Baginya tawa anaknya itulah segala-galanya.

__ADS_1


Setelah meletakkan kopi di atas meja dan duduk manis, Irma menyapa Beni dengan suara lembut. “Kopinya, Mas!”


"Iya, terima kasih!" ucap Beni tanpa melihat ke arah Irma. Tetap asyik melanjutkan bermain dan bercanda dengan kedua anaknya.


"Aku masak sop sama ayam goreng, mau makan siang di sini sama anak-anak?" kata Irma kembali mengajak bicara. Kebetulan sudah masuk jam makan siang untuk dua anaknya yang baru pulang sekolah.


"Nggak usah, Ir! Aku udah makan tadi," tolak Beni datar. Ia memang sudah sarapan dan belum lapar.


"Kenapa papa nggak mau makan di sini?" tanya Novia sambil bergelayutan manja. "Tadi papa makan apa? Papa beli bakso ya? Kenapa aku nggak diajak?"


"Nggak, papa nggak makan bakso hari ini!"


"Tapi kenapa papa nggak mau makan di rumah? Biasanya kita makan siang bersama kalau aku pulang sekolah?" tanya Novia cerewet.


"Papa belum lapar!"


"Tapi aku lapar, Pa! Ayo kita makan bersama!" Novan menyahut tak sabar.


"Aku mau makan sama papa, Mama!" ujar Novia.


"Iya, deh! Ayo kita makan siang anak-anak!" ujar Beni kikuk. Ia akhirnya mengikuti anak-anaknya pergi ke ruang makan yang sebelumnya tidak pernah asing di kehidupannya.


Huh, Beni sendiri dalam kebingungan … bagaimana bisa ia sampai ke rumah Irma dan sekarang justru makan bersama mantan istrinya itu?


Dari sejak keluar salon kemarin siang, mendadak ingatannya pada keluarga kembali. Ada rindu yang menggelitik sanubarinya. Rindu terhadap kedua anaknya dan juga Irma.


Beni sadar kalau sudah menceraikan Irma dan menikah dengan Madam Suzan, tapi perasaan ingin pulang ke rumah dan bertemu kedua anaknya tidak bisa dibuang begitu saja. Akhirnya ia mengabari Irma kalau akan menjenguk Novan dan Novia sore itu juga.


Namun, rencana tinggal rencana. Istri barunya merengek minta ditemani belanja, jalan-jalan dan akhirnya mereka malah tidak pulang. Check-in di sebuah hotel dekat tempat wisata untuk kembali memadu kasih dengan sangat panas.


Seketika, Beni lupa dengan janjinya pada Irma.


Tadi, sebelum pergi menjemput Novan dan Novia, Beni pamit pada Madam Suzan kalau ia akan mengambil surat nikah dan kartu keluarga untuk mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan agama. Ia juga mengatakan pada sang istri kalau mungkin bakal seharian di luar, karena harus mengurus berkas dari tingkat kelurahan lebih dulu.


Irma mengisi piring Beni lebih dulu sebelum menyiapkan makanan dua anaknya. Seperti dulu, sebelum mereka memiliki masalah rumah tangga yang begitu rumit.

__ADS_1


"Mau pakai sambel, Mas?"


"Dikit aja!" jawab Beni sungkan. Ia menatap Irma yang tersenyum tulus padanya, dan hatinya berdesir. Wanita yang delapan tahun menjadi istrinya itu sangat keibuan dan memperhatikan kebutuhan perutnya dengan sangat baik. Sedangkan Sang Madam memperhatikan kebutuhannya sebagai lelaki dengan sangat baik pula.


Beni membuang pandangan ke arah dua anaknya, ia mendadak merasa dalam dilema besar. Saat bersama keluarganya, ia tidak bisa mengikis sosok Madam Suzan dari kepalanya. Wanita bahenol itu seolah menari-nari di pelupuk mata, dan memanggilnya untuk segera pulang. Padahal kemarin saat bersama Sang Madam, Beni rindu dengan keluarganya!


"Makan kok sambil melamun, Mas? Mikir apa?"


Beni tersenyum kaku, "Aku kesini mau pinjam … uhuk, uhuk!"


Irma mengulurkan gelas berisi air putih, "Ditelan dulu makanannya kalau mau bicara, ini minumnya!"


Beni melegakan tersedaknya lebih dulu, bernafas panjang beberapa kali baru berbicara. "Sorry!"


"Mas Beni mau pinjam apa?"


Beni diam beberapa saat, lidahnya seolah kelu ketika ingin mengatakan kalau ia ingin meminjam surat nikah asli untuk kebutuhan perceraian. Entah mengapa ia malah merasa kasihan pada Irma, pada kedua anaknya ketika akan melakukan hal yang sudah diniatkannya dari sejak menikahi Madam Suzan.


"Aku kesini mau ambil beberapa baju, itu aja!" jawab Beni ngelantur.


"Iya silahkan! Mas ambil sendiri saja di kamar, masih di tempat yang sama."


Mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, Novan langsung merajuk. "Papa mau kemana kok bawa baju? Papa nggak tidur di sini lagi sama Novan? Papa kan udah janji mau ajak kita berenang tadi pas jemput di sekolah!"


"Papa juga janji mau beliin es krim di rumah biru!" sahut Novia ikut kecewa.


Irma hanya melihat Beni tanpa ekspresi meminta. Tapi diam-diam ia berdoa kalau keinginan anak-anaknya dikabulkan oleh papanya.


Beni melirik Irma sekilas, lalu memasang senyum, "Oke, gimana kalau kita berangkat berenang agak sore? Setelah tidur siang? Sekarang … selesaikan dulu makan kalian!"


"Horeeee … makanku sudah habis, Pa!" kata Novan. Dengan mulut masih penuh, ia menunjuk piringnya yang sudah kosong.


Novia melihat papanya lebih lama sebelum bertanya, "Nanti mama ikut berenang juga kan, Pa? Kalau mama nggak ikut, aku juga nggak ikut! Nanti nggak ada yang temani aku main perosotan. Biasanya kan sama mama!"


Beni tersenyum kikuk, "Iya, nanti mama ikut!"

__ADS_1


***


__ADS_2