
Sebelum masuk ke dalam mobil, Beni melipir menjauh dari Irma dan Dewi karena ponselnya beberapa kali berbunyi. Panggilan dari sang istri tidak bisa diabaikannya karena ia memang belum absen dari sejak bangun tidur.
[“Mas … lama banget sih angkat teleponnya, aku keburu berangkat acara ini!”]
“Sorry, aku nggak denger hp bunyi! Dari semalem aku silent biar bisa tidur nyenyak. Ada apa, Sayang?”
[“Aku cuma mau pamit, kalau nanti aku nggak hubungi sampai sore berarti aku sibuk banget. Ohya aku tadi telepon rumah, Carla bilang kamu ambil mobil?”]
“Iya aku bawa mobil, mau belanja kebutuhan salon. Banyak banget yang harus dibeli jadi nggak mungkin aku pakai motor!”
[“Ya udah sebentar lagi uang belanjanya aku transfer. Besok kita bakal sibuk dari subuh, banyak job rias anak wisuda soalnya! Toko perlengkapan salon udah buka belum, Mas?”]
“Aku belum sampai tokonya, ini aku mampir ke rumah Irma buat ambil surat nikah sama kartu keluarga, sekalian mau anter dia berobat sebentar! Kakinya bengkak, kasihan! Nggak apa-apa, kan?”
Terdengar dengusan tak suka dari ujung telepon sebelum sebuah suara manis menyahut. [“Kamu nganter Irma berobat pakai mobil aku?”]
“Iya, kan sekalian keluar! Kasihan dia!”
[“Kalau kasihan terus gimana kamu bisa lepas dari mantan istrimu, Mas?”]
Mendengar istrinya merajuk dan mulai marah, Beni kelimpungan. Ia memutar otaknya, mencari jawaban yang tepat agar sambungan telepon segera berakhir.
“Gini loh sayangku … Irma ini lututnya sakit parah, susah buat jalan, kalau dia lumpuh nanti yang ngurus kedua anakku siapa? Yang ngantar jemput anak-anak sekolah sama les siapa? Aku kan nggak mungkin kamu bolehin antar jemput mereka! Misalkan Irma nggak bisa apa-apa, otomatis kedua anaknya dibebankan ke aku. Kamu mau aku ajak merawat dua anak yang masih kecil?”
[“Tapi janji yang kamu lakuin ini yang terakhir ya, Mas! Aku nggak mau kamu lebih banyak ngurusin mantan kamu daripada aku!”]
“Iya, Sayang! Setelah masalah surat-surat selesai, aku nggak bakal kesini lagi! Doakan saja Irma selalu sehat biar tidak merepotkan aku lagi!” janji Beni, terdengar meyakinkan meski hatinya diliputi kegamangan. Ia melirik iba pada Irma yang sedang berjalan pincang ke arah mobil.
__ADS_1
Namun demikian, Irma tetap menampakkan wajah ceria. Mantan istrinya itu tidak berhenti bercanda dengan sahabatnya, membahas si dukun muda yang akan mereka datangi. Topik yang membuat hati dan telinga Beni panas.
Madam Suzan berdecak kesal lagi, tapi tak bisa mencegah Beni karena posisinya sedang tidak berada di kota yang sama dengan suaminya. Berdoa untuk Irma memang dilakukan oleh Madam Suzan, tapi mendoakan agar wanita yang menjadi rivalnya itu segera mati, dan suaminya bebas dari gangguan mantan.
Kalau bisa semua penderitaan Irma berakhir hari ini, seperti yang dijanjikan lima orang paranormal yang menjadi jaringannya dalam paguyuban. Sehingga ia tak perlu repot jadi tertuduh karena posisinya yang sedang jauh dari Beni. Apalagi alibinya menghadiri acara 'ngunduh mantu' kerabatnya sangat menguatkan. Beni tak akan sedikitpun menaruh curiga padanya jika terjadi sesuatu dengan Irma.
[“Ya udah, setelah belanja langsung pulang ya! Besok aku temani kamu ke pengadilan, jadi usahakan semua surat pengantar yang dibutuhkan selesai hari ini. Aku berangkat dulu, sampai ketemu nanti malam, Suamiku! Love you!”]
“Bye-bye, Sayang! I love you too!”
Beni menyimpan ponselnya, langsung masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Irma dan Dewi yang mengambil duduk di bagian belakang–tempat untuk penumpang.
"Kamu di depan dong, Ir! Masa aku kalian perlakukan kayak supir taksi online!" gerutu Beni sebal. Bisa-bisanya Irma tak peka dengan situasi mereka bertiga.
"Iya, iya aku pindah depan!" Irma terpaksa keluar mobil lagi untuk selanjutnya duduk di kursi penumpang–bersebelahan dengan Beni.
Dewi yang menjawab pertanyaan Beni, "Selatan, Mas!"
"Tempat prakteknya di daerah mana sih, Wi?" tanya Irma penasaran.
Dewi menjelaskan alamat dukun muda yang diketahuinya dari seorang teman, "Kalau info yang aku dapat, lokasinya nggak terlalu jauh dari alun-alun pusat kota, Mbak!"
Beni menyimak sembari memutar musik slow rock, tak ikut nimbrung obrolan Irma dan Dewi lebih lanjut–yang membahas masa lalu mereka ketika masih kerja di tempat yang sama. Ia memilih fokus menatap jalan yang cukup ramai meski tak ada kemacetan.
Lima belas menit kemudian, Beni membanting setir ke kiri dan menginjak rem serampangan karena melihat bayangan hitam melintas di depan mobil.
DUAR!!!
__ADS_1
Suara ban mobil meletus terdengar cukup keras, mengagetkan tiga orang yang ada di dalamnya. Bukan hanya suaranya, tapi gerakan mobil yang mendadak oleng membuat Irma dan Dewi spontan berteriak histeris.
Beni terpaksa menepikan mobil hingga keluar badan jalan, “Pecah ban, Ir! Kamu sama Dewi tunggu di minimarket itu saja, aku belikan minum dingin nanti! Aku ganti ban dulu, sebentar kok ini!”
Irma menurut, ia mengajak Dewi berteduh di minimarket karena matahari pagi mulai menyengat di kulit. Beni membereskan satu ban belakang yang bocor sendirian. Beruntung perlengkapan mobil dan ban cadangan tersedia di bagasi.
Setelah selesai, Beni mengernyit, ban belakang yang pecah tidak terlihat seperti umumnya. Ban itu hancur setengah bagian, terbelah-belah seperti baru saja digergaji. Padahal ia tadi tidak melihat ada barang tajam yang terlindas.
“Apa mungkin ada yang melempar parang? Mustahil … tapi ini beneran terjadi! Dan jelas tidak bisa ditambal lagi kalau sudah rusak parah begini!” Beni bergumam sendiri setelah mengamati ban rusak yang ada di tangannya.
Irma ikut mengamati ban yang siap disimpan Beni di bagasi. Tangannya terulur, memberikan minuman isotonik pada Beni. "Kok bisa pecah ban sampai segitu parahnya, Mas?"
"Aku juga nggak tau, Ir! Untung mobil nggak selip tadi, bisa kecelakaan kita! Padahal aku nggak nabrak apa-apa, cuma tadi sempat kayak ada bayangan hitam melintas." Beni celingukan mengamati jalan yang baru mereka lalui, "Oh ternyata bayangan pohon yang jatuh di tengah jalan!"
"Menurutku ini ada hubungannya dengan …."
"Santet?" potong Beni sarkas. Kesal karena Irma selalu menghubungkan segala keanehan dengan hal mistis.
Irma menjawab sinis, "Ya bisa aja, kan?"
"Dukun gablek mana yang mau nyantet ban mobil, Ir?" tanya Beni dengan suara menekan keras.
"Ya nggak usah nyolot gitu, Mas! Orang bebas berasumsi … lagian ini cuma praduga tak bersalah. Apa aku menyebut nama istrimu sebagai tersangka? Nggak 'kan? Kenapa kamu berubah jadi suami baperan begini sekarang?"
BERSAMBUNG….
***
__ADS_1