Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Definisi Jenuh


__ADS_3

Sudah seminggu Beni berubah, semakin sayang dengan ponselnya hingga kadang lupa ada istri dan anak di sekitarnya. Perangainya juga jadi mudah tersinggung, pemarah dan banyak mendiamkan Irma.


Malam hari, anak-anak sudah tidur, Irma menunggu Beni tutup salon. Ia ingin bicara dari hati kehati sebagai suami istri. Sebenarnya dalam seminggu terakhir, Irma sudah dua kali berusaha mengobrol dan mendekat, tapi Beni menghindar dengan berbagai alasan.


“Baru tutup, Mas?” tanya Irma lembut, membuka pintu pun dengan wajah tulus dan manis. Padahal, waktu menunjukkan satu jam lebih malam dari biasanya ketika Beni menutup salon dan kembali ke rumah.


“Iya,” jawab Beni singkat.


“Mas mau makan?” Irma tahu kalau tawarannya pasti ditolak. Sebelum tutup warung sembako tadi, ia melihat Beni membeli bakso yang lewat di jalan depan salon. Dimakan sendiri tanpa menawari istri dan anaknya.


Beni menatap malas pada istrinya, “Aku masih kenyang.”


Irma tersenyum kecut menghadapi tingkah Beni yang cenderung dingin dan menyebalkan, “Mau mandi air hangat? Aku siapin ya?”


“Mau langsung tidur!” ujar Beni. Ia meninggalkan Irma yang menyambutnya di depan pintu tanpa perasaan.


Irma menyusul ke kamar setelah mengunci pintu depan. “Capek ya? Sini aku pijitin biar bisa tidur nyenyak!”


“Nggak usah, kamu agak sanaan aja tidurnya, jangan deket-deket, aku belum mandi!”

__ADS_1


“Masa mau dekat suami sendiri nggak boleh? Mas mandi apa nggak, buat aku nggak ada bedanya. Aku tetep cinta!” ujar Irma menahan emosi. Ia menjaga ekspresi wajahnya agar tetap enak dilihat suaminya.


“Aku lagi nggak mood dua-duaan, capek!” tolak Beni sarkas.


“Barusan aku nawarin pijet, mau pake plus plus juga boleh! Aku ambil lotion ya? Mas mau aku pakai baju dinas warna apa? Merah?”


Wajah Irma rasanya kaku ketika menawarkan dirinya dengan gaya sensual. Ia merendahkan diri, bermanja dan merayu agar tampak menggemaskan, berdandan dan memakai parfum lembut agar lebih menarik dan menggoda.


Sejujurnya di dalam piyama tidurnya sudah ada pakaian super seksoi yang Irma pakai untuk mengejutkan Beni.


“Kamu denger aku nggak? Aku capek … nggak ada mood buat deket sama kamu, apalagi bercinta. Kamu pakai baju seksoi atau nggak pakai baju juga nggak bakal bikin aku horney!”


“Bisa kita bicara serius, Mas? Sepuluh menit saja!” Irma akhirnya langsung pada pokok tujuannya.


“Besok aja, aku ngantuk!” tolak Beni.


“Kamu menghindari aku seminggu ini, ada apa sebenarnya? Kita menikah udah delapan tahun ….”


“Lama menikah bukan jaminan orang mengerti pasangannya luar dalam!”

__ADS_1


Irma memicingkan mata, “Maksudnya gimana? Aku nggak ngertiin kamu selama ini gitu? Bagian mana yang aku kurang ngerti, Mas? Ayo kita bicarakan baik-baik, kalau untuk hal baik buat pernikahan kita kenapa kita nggak membahasnya sekarang?!”


“Kamu kalau milih waktu bicara selalu nggak tepat, kenapa nggak dari sore tadi?” tanya Beni sambil membuka sosial medianya.


“Bukannya kita sore tadi sama-sama sibuk? Misal aku ajak bicara, Mas juga pasti nolak dengan alasan masih ada yang dikerjakan di salon.”


“Ya udah kamu mau ngomong apa?” tanya Beni dengan raut malas.


“Sikap kamu jadi dingin aneh begini apa penyebabnya? Aku ingin tau alasannya!”


Beni memperhatikan Irma sekilas, “Mungkin aku lagi jenuh sama pekerjaan salon!”


“Bukan lagi jenuh sama aku?” tanya Irma sinis.


“Bisa jadi aku jenuh juga sama kamu!” jawab Beni dengan nada tak bersalah. Irma menantangnya untuk bicara apa adanya. Bukankah sudah biasa rumah tangga yang dibina sekian tahun tak sehangat awalnya?


Irma tercekat, jenuh memiliki definisi lelah tapi masih ingin bertahan. Semoga pilihan kata itu tepat untuk Beni. Pria itu masih ingin bertahan dengannya meski situasi hatinya sedang awut-awutan. Setidaknya, rumah tangga masih bisa diselamatkan kalau kedua belah pihak masih ingin bertahan.


***

__ADS_1


__ADS_2