
Setelah satu jam penuh melakukan ritual, Mbah Kancil menunjukkan hasil kerjanya pada Irma dan Beni. Benda-benda tajam berupa jarum tersebar di atas kain hitam yang memang disiapkan sebagai wadah buhul santet.
Mbah Kancil menambahkan jenglot dengan paku di kepala yang berlumur darah di atas kain hitam tersebut. Nafas dukun tua itu memburu, keringat sebesar jagung menetes dari dahinya beberapa kali ketika mencabut benda-benda beraura jahat itu dari tubuh Irma.
Setelah mencuci tangan, Mbah Kancil memberikan air minum untuk Irma yang masih terkulai lemas. "Bu … ini sudah saya keluarkan semua! Bagaimana rasanya sekarang?"
Irma duduk dibantu asisten sang dukun, menghabiskan air dalam gelas lebih dulu sebelum menjawab. "Rasanya capek sekali, Mbah! Seperti baru saja lari keliling lapangan bola sepuluh kali!"
Tapi tak dapat dipungkiri kalau Irma merasa tubuhnya lebih enteng. Beban di kepala dan pinggulnya terangkat. Rasa sakit pada perut bagian bawahnya berkurang signifikan, begitu juga dengan pusing di kepala. Hanya saja Irma merasa belum tuntas.
"Setelah beristirahat dua hari, Bu Irma nanti sudah bisa beraktivitas seperti biasa," tegas Mbah Kancil. Mayakinkan pasiennya agar tidak terlalu khawatir.
"Tapi punggung saya kok rasanya masih berat ya, Mbah?” tanya Irma tak puas. “Kayak masih ada yang belum keluar!”
Mbah kancil tersenyum, “Percaya saja sama saya, Bu! Kalau memang masih ada yang tidak beres, Bu Irma bisa datang lagi saja kesini tiga hari dari sekarang.”
Irma mengangguk berat. Ia bukan sedang mengada-ada atau terkena gangguan psikotik yang sulit membedakan dunia nyata, alam mimpi atau delusi. Ia benar-benar merasakan ada getaran samar di punggungnya. Gerakan yang sering dirasakannya semenjak Beni terlibat hubungan cinta dengan Madam Suzan.
Sesuatu yang mendiami tubuhnya itu memang melemah ketika ia pergi berobat ke paranormal–mungkin jin tersebut terluka, tapi jelas tidak keluar dari tubuhnya.
Setelah Irma sembuh, jin itu juga sembuh dan kuat seperti semula. Membuat masalah dan menyakiti setiap malamnya. Dan sudah bisa dipastikan kalau Irma bakalan kesakitan beberapa hari lagi. Rasanya bak dirajam dan ditusuk benda tajam di bagian punggung hingga tembus ke ulu hati.
Namun, Irma tidak bisa mendebat Mbah Kancil. Ia bukan paranormal yang memiliki dasar kesaktian, bukan praktisi supranatural yang terbiasa berurusan dengan hal gaib. Ia berpikir positif dan berharap apa yang dikatakan Mbah Kancil tidak salah.
Irma memperhatikan kain hitam yang diatasnya berisi buhul santet yang baru dikeluarkan dari tubuhnya, “Mbah … apa bisa menerawang suami saya? Kelihatannya dia terkena guna-guna sejak kenal wanita nakal. Saya sakit seperti ini juga sejak suami saya menikah lagi dengan wanita sundal itu. Suami saya pulang ke rumah juga karena jampi-jampi dari Mbah Suro!”
__ADS_1
Mbah Kancil menjelaskan secara ringkas, “Soal suami ibu, saya tidak berkepentingan mengurusi, hal itu dikarenakan dia sudah diurus oleh Mbah Suro. Kalau saya ikut campur tangan, bisa-bisa suami Bu Irma malah jadi gila!”
“Oh begitu ya, Mbah?”
“Benar, suami ibu ini dalam posisi yang kurang menguntungkan. Ditarik kesana kemari oleh dua kekuatan besar! Kalau saya masuk … kena mentalnya nanti! Bahaya malah!”
“Kekuatan pelet ya, Mbah?” tanya Irma memastikan.
“Benar! Beda dengan ibu yang diserang dengan kekuatan santet,” kata Mbah Kancil seraya menunjuk jenglot dan benda lainnya. “Ini kalau tidak dikeluarkan sakitnya akan menyiksa siang malam!”
“Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah suami saya, Mbah?”
“Mbah Suro sudah berusaha menyelesaikan masalah itu! Bu Irma bantu saja dengan doa. Jangan menekan suami ibu dengan kalimat kasar atau perbuatan yang tidak menyenangkan, karena kalau ia sedikit saja merasa tak senang dengan sikap ibu ….”
Irma langsung paham dengan kalimat Mbah Kancil yang tak selesai tersebut. “Dia akan kembali pada wanita itu!”
Irma menyalami pria tua tersebut, sekaligus menyampaikan terima kasih dan uang dalam amplop. “Saya pamit dulu, Mbah!”
“Salam buat Mbah Suro kalau Bu Irma berkunjung ke sana lagi!” kata Mbah Kancil.
Irma keluar ruang praktek Mbah Kancil disambut Beni. Suaminya itu memang dilarang ikut masuk ke dalam ruangan karena sedang dalam masa penyembuhan Mbah Suro.
Mbah Kancil tidak ingin kinerja mantra dalam tubuh Beni terganggu olehnya. Sehingga pria itu dilarang keras mengikuti ritual pengobatan istrinya.
“Udah, Ir? Kamu nggak apa-apa? Gimana badanmu setelah diobati? Apa semua baik-baik saja? Mbah Kancil bilang apa?” cerca Beni penuh rasa penasaran. Ia langsung menggandeng Irma ketika keluar halaman rumah sang dukun. Memesan taksi online.
__ADS_1
Irma mengabaikan semua pertanyaan Beni. Entah mengapa ia agak kesal dengan pria yang membawa masalah padanya itu. Andai saja Beni tak berulah dan berkenalan dengan Madam Suzan di efbe, kehidupan rumah tangga mereka pasti tak akan diterpa badai.
“Ir … kok diem aja sih dari tadi?” protes Beni begitu mereka sudah ada di dalam taksi.
“Aku capek, Mas!”
Beni tersenyum tipis memahami, “Ya sudah kamu tidur saja! Nanti aku bangunin kalau sampai rumah, sini!”
Dengan sentuhan lembut, Beni menarik Irma ke bahunya–untuk bersandar. Sedikit memberikan ketenangan dan kenyamanan pada ibu dari kedua anaknya.
Selama Irma dalam penanganan Mbah Kancil tadi, Beni sudah menghubungi orang kepercayaan Madam Suzan untuk tetap membuka salon meski dirinya belum datang.
Jujur saja, kesempatan jauh dari Madam Suzan membuat Beni berpikiran untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama Irma. Entah bagaimana semua bermula, tiba-tiba hatinya galau berat. Kali ini Beni bahkan tidak bisa memilih salah satunya. Ia menginginkan Irma dan juga madam Suzan.
“Tidurlah!” ujar Beni sekali lagi.
Irma memejamkan mata, tapi tidak terlelap sama sekali. Ia malah menikmati kehangatan dan perhatian yang diberikan Beni. Hatinya berkecamuk, membaurkan berbagai perasaan yang tak bisa diungkapkan secara gamblang.
“Mas ….”
Beni sedikit menoleh ke bahunya, memperhatikan Irma yang memanggilnya–sambil terpejam. “Hem, ada apa? Ada yang sakit?”
“Kapan kamu cerai sama Madam Suzan?”
BERSAMBUNG ….
__ADS_1
***