Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Bukan Suami Istri


__ADS_3

Irma menahan diri untuk tidak mengusik Beni saat di rumah. Pasalnya, dari sejak mendapatkan pertanyaan kapan Beni akan menceraikan Madam Suzan, mantan suaminya itu mendadak jadi pendiam.


Irma memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah pulang dari rumah Mbah Kancil. Warung sembako akhirnya ia serahkan penuh pada ibunya hari itu. Ia ingin memaksimalkan pemulihan setelah pengobatan. Maka dari itu Irma mengurung diri di kamar seharian.


Untuk santap malam, Irma order makanan online karena malas masak. Tubuhnya yang masih lemas serasa hanya ingin tidur di kasur tanpa gangguan pekerjaan apapun. Bisa dibilang ia sedikit diuntungkan dengan kehadiran Beni, karena siang tadi anak-anaknya makan di luar bersama ayahnya tanpa merepotkannya.


“Mama sudah sembuh ya?” tanya Novia perhatian.


“Sudah! Tadi cuma sakit kepala sedikit.” Irma tersenyum menenangkan putrinya sembari menata hidangan yang baru tiba di meja makan. Keluarganya telah lengkap berkumpul di satu tempat seperti dulu. Hal itu membuat hatinya sedikit bahagia.


“Kalau sudah enakan kenapa kamu nggak masak, Ir?” tanya Beni tiba-tiba. “Aku sebenarnya tadi berharap kamu membuat makan malam kesukaanku!”


Irma menatap kesal, lalu menjawab agak ketus, “Aku capek, Mas! Lagian yang aku beli ini makanan favoritmu!”


“Ya tapi beda rasanya, aku di sini karena mau makan masakan kamu!” Beni makan malas-malasan seperti anak kecil yang tak cocok dengan menu lauk pauk yang dihidangkan ibunya.


Astaga! Irma benar-benar tak habis pikir dengan mantan suaminya yang bertingkah manja. “Bukannya sekarang kamu udah biasa makan hasil beli?”


“Justru keseringan makan beli makanya aku ingin suasana beda, makan hasil masakan kamu! Menu kayak gini ini bikin aku nggak selera makan,” jawab Beni tak kalah kesal.


Irma tak menanggapi lebih lanjut karena ada kedua anaknya di antara perdebatan mereka. Semua diam sampai akhirnya makan malam selesai. Piring Beni masih meninggalkan setengah porsi yang tak dihabiskannya.

__ADS_1


Dengan nafas besar mengandung kekecewaan, Irma membereskan meja makan dan membuang makanan sisa dari piring Beni. Ia mendiamkan lagi pria itu sampai kedua anaknya pergi tidur.


“Kamu nggak pulang, Mas? Udah malam ini,” sindir Irma sembari melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dari tadi ia menunggu mantan suaminya yang sedang nonton siaran langsung liga Indonesia itu undur diri. Kenyataannya, Beni malah mengambil bantal dan menikmati acara televisi sembari tiduran seperti di rumah sendiri.


“Nunggu bola selesai!” jawab Beni santai.


“Aku nggak enak sama ibu! Tadi aku ditegur karena udah jam delapan kamu belum pulang juga. Pikirin juga apa kata tetangga dong, Mas! Jangan egois begini,” ujar Irma sarkas. Sungguh, ia tidak menyukai kelakuan Beni yang seenaknya padanya.


“Kenapa harus memikirkan tetangga, kita makan nggak minta sama mereka!”


Beni menoleh, “Kamu ngusir aku?”


“Bukannya sebaiknya kamu selesaikan urusanmu dengan Madam Suzan lebih dulu kalau mau pulang ke rumah ini?”


“Ya tapi nggak sekarang, Ir! Aku udah bilang kalau Suzan sedang keluar kota, kan?”


“Jadi karena itu kamu di sini? Kenapa aku merasa kalau kamu datang cuma karena ada butuhnya saja ya, Mas?”


“Aku memang ada butuhnya, aku butuh bertemu anak-anak! Kamu tidak bisa memisahkan mereka dariku apapun keadaannya,” tukas Beni keras kepala. “Soal hubunganku dengan Suzan, aku akan mengurusnya. Aku akan menceraikannya!”

__ADS_1


Irma terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Ohya, kapan?”


“Setelah dia pulang dari Banyuwangi!”


“Oh oke, aku tunggu kabar baiknya!”


“Jadi aku boleh nginep di sini, kan?”


Hati Irma berperang, antara boleh dan tidak, antara salah dan benar, antara cinta dan kebingungan. “Ya sudah kamu tidur sama anak-anak!”


Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Irma mengunci pintu depan. Ia beranjak ke kamarnya untuk beristirahat tanpa memperdulikan Beni.


Namun, Beni mencegatnya di depan kamar anak-anak. “Aku tidur di kamarmu ya, Ir? Sempit kamar anak-anak kalau dipakai bertiga!”


Irma menghela nafas lelah, “Mas … kita ini bukan suami istri!”


“Iya aku tau. Paling nanti cuma peluk-peluk kayak waktu kita masih pacaran dulu, Ir!” ujar Beni dengan senyum meyakinkan.


BERSAMBUNG....


***

__ADS_1


__ADS_2