
Kebahagiaan sore hari anak-anak Irma berakhir indah di kedai es krim tak jauh dari water park. Persis seperti dulu ketika mereka sekeluarga menghabiskan waktu libur anak sekolah. Canda tawa Novan dan Novia mendominasi meja tempat mereka berkumpul.
Irma tidak sepenuhnya bisa berbaur karena Beni juga bersikap kaku padanya. Tapi Irma bisa melihat kalau sorot mata Beni tidak sejahat kemarin, hanya berupa ungkapan yang penuh kebimbangan padanya.
Selama menghabiskan waktu sore bersama Beni, Irma beberapa kali melihat mantan suaminya itu harus menjauh darinya dan juga anak-anak, karena harus menerima panggilan telepon.
Yeah, Irma bisa menebak kalau yang menghubungi Beni tiap setengah jam adalah istri barunya. Irma menatap kasihan pada Beni, pikiran pria itu pasti sedang bercabang oleh tarikan dua kekuatan.
Siapa yang tidak tau kalau Irma dan Madam Suzan sama-sama menggunakan kekuatan magis untuk mempengaruhi pikiran Beni?
Sungguh Irma jadi merasa was-was dengan situasi tersebut. Ia khawatir Beni tidak kuat dan menjadi gila karena diombang-ambing perasaannya oleh dua wanita.
Malam seram dan gangguan mistis membayang di benak Irma. Nalurinya mengatakan kalau akan ada hal tak baik terjadi. Firasat Irma pun semakin memburuk ketika mereka semua sampai di rumah dengan perasaan bahagia. Setidaknya kebahagiaan utuh bagi kedua anaknya. Untuk Irma dan Beni, bahagia yang dirasa seperti hanya kesemuan belaka.
Senja telah berakhir, makan malam juga sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Kekhawatiran Irma dari sejak sore terbukti benar karena Beni yang tak kunjung pulang ke rumah istri barunya. Entah kenapa pria itu berlama-lama di rumahnya? Padahal ponselnya semakin sering berdering, menandakan yang menghubungi sudah tidak punya kesabaran lagi.
Siapa sangka Madam Suzan berani datang ke rumah Irma? Alasannya tentu saja untuk menjemput suaminya. Sengaja merusak kebahagiaan Novan dan Novia yang sedang mengerjakan PR bersama papanya.
__ADS_1
Tidak ada salam sapa ramah seperti umumnya orang bertamu. Madam Suzan langsung berbicara pada pokok masalah tanpa basa-basi pada Irma.
"Mbak, apa kamu masih belum paham kalau Beni itu suami perempuan lain? Dan kamu menahannya di dalam rumah ini dengan mengumpankan anak-anaknya?" seru Madam Suzan berapi-api sambil berkacak pinggang di depan pintu ruang tamu yang terbuka lebar.
“Novan sama Novia belajar di kamar dulu ya, mama ada tamu!” kata Irma sembari mengelus kepala dua anaknya.
“Iya, Mama!” jawab Novan dan Novia serempak.
Beni menatap istri barunya dengan wajah bodoh, “Kamu kok kesini? Aku kan udah bilang sebentar lagi pulang!”
Irma memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berdiri dan menyapa wanita yang sudah menjungkirbalikkan dunianya. "Anak-anak berhak mendapatkan kasih sayang dan nafkah dari papanya, apapun keadaannya!"
Irma menahan rasa sakit hatinya dengan tidak menyangkal larik-larik kalimat pedas yang keluar dari mulut Madam Suzan. Ia tidak mau kedua anaknya mendengar debatnya, lalu menyimpulkan macam-macam mengenai hubungan mereka bertiga.
Dalam kebimbangan, ia harus segera mengambil sikap untuk meredakan ketegangan. Mencegah hal paling memalukan terjadi di rumahnya. "Mas Beni … silahkan keluar dari rumah ini!"
Dengan raut rumit, Beni keluar ruang tamu. “Aku pulang, Ir! Sampaikan ke anak-anak kalau aku akan menemui mereka lagi secepatnya!”
__ADS_1
Madam Suzan langsung menyahut sinis, “Kamu tidak bisa seenaknya mengunjungi anakmu ke rumah ini! Irma bukan lagi istrimu, mana boleh kamu berduaan di dalam rumah dengan wanita lain? Aku tidak akan mengizinkan dan membiarkan hal itu terjadi! Kalau kamu memang ingin bertemu anakmu … di tempat lain saja!”
Beni menatap Irma sekilas, memastikan kalau wanita yang menjadi ibu dua anaknya tidak sedang meneteskan air mata. "Salam buat Novan sama Novia, sorry aku nggak bisa nemenin sampai mereka tidur!"
"Oh, jadi kamu ada rencana nginep? Pantesan dari sore ditanya jawabannya muter-muter!" sindir Madam Suzan sarkas. "Baru kemarin janji nggak bakal nemui anakmu tanpa seizinku, taunya malah reuni akbar!"
Beni menarik tangan Madam Suzan agar segera pergi meninggalkan rumah Irma. Emosinya sedikit terbakar mendengar kalimat istrinya yang berusaha mendominasi kepentingannya. "Sudah-sudah cukup! Ayo pulang sekarang! Jangan bikin ribut di sini, malu sama tetangga!"
"Aku datang memang mau jemput kamu, Sayangku! Aku itu nggak bisa jauh dari kamu lama-lama. Aku gampang kangen orangnya," ujar Madam Suzan manja. Sengaja dikeraskan agar Irma mendengar suaranya. "Kita nongkrong di kafe dulu mau? Apa mau langsung pulang? Kamu pasti capek seharian di luar ngurus perceraian, aku pijetin ya!"
Irma mengelus dada, bukan hanya soal cemburu, tapi ia sakit hati dengan wanita perebut suaminya itu. Amarah bergemuruh dalam dadanya. Ingin rasanya ia pergi ke Pak Dulah atau ke orang pintar lainnya untuk memberi pelajaran pada Madam Suzan.
Namun, Irma segera menepis niat jahatnya. Yang ia butuhkan adalah suaminya kembali, bukan menyakiti sesama wanita apalagi sampai melukai fisiknya.
Masuk ke dalam rumah, Irma mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan untuk Dewi kalau akan berkunjung esok hari. Meminta Dewi menemani ke rumah Pak Dulah, sekalian berbagi cerita soal efek syarat yang diberikan Pak Dulah yang sudah ditebar di depan salon.
Irma juga tidak tahan untuk bergosip mengenai pertemuannya dengan Elz, si paranormal sableng yang bertransformasi menjadi orang yang sangat berbeda.
__ADS_1
***