Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Dukun Milenial


__ADS_3

Irma diminta tiduran di atas ranjang pasien, asisten Elz yang bernama Yayuk menyelimuti tubuhnya sebatas dada. Entah apa yang dimasukkan Elz ke dalam minuman Irma, efeknya tubuh wanita itu menggigil dan memanas dalam satu waktu seperti orang demam. Irma bahkan tak jenak ketika disuruh tiduran.


Elz mendekati Irma, “Masih kuat, Mbak?”


“Sialan kamu, Elz! Badanku sakit semua seperti diiris-iris,” jawab Irma seraya meringis. Ia berusaha santai agar syarafnya tidak tegang dan tetap bisa mengendalikan kesadaran seperti yang diperintahkan Elz.


“Sebentar lagi juga keluar sumber penyakitnya!” sahut Elz santai.


Irma menggeliat gelisah menahan sakit, lututnya tiba-tiba seperti bergerak sendiri. Berderak di bagian persendian. Detik berikutnya, Irma merasakan udara keras yang keluar dari tulang tempurung lututnya. Ia sampai memekik terkejut, "Elz!"


Yayuk mengambil kawat berduri yang jatuh ke lantai–tepat di bawah ranjang, benda misterius itu muncul dari ruang hampa. Asisten Elz langsung memasukkannya ke dalam baskom berisi air.


Menit-menit selanjutnya disusul oleh benda-benda aneh lainnya. Beling, jarum, besi berkarat hingga keris jatuh di lantai, berdenting dan diam di dekat kaki ranjang Irma. Yayuk memunguti satu persatu untuk dikumpulkan.


Seandainya saja bisa dijual lagi ….


Beni membuka mata karena mendengar Irma mengaduh berkali-kali. Ia mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pekik kaget keluar dari mulutnya. “Irma, kamu nggak apa-apa? Gila … ini gila, apa-apaan ini yang keluar dari tubuh kamu!”


Tian menghalangi Beni yang akan menyentuh Irma, “Tolong jangan mengganggu proses pengobatan, Mas! Lihat saja dari sini!”


Beni mengangguk, "Oh sorry!"


“Aduh Elz … aku nggak kuat lagi!” keluh Irma. Ia memang tak sanggup mempertahankan kesadaran karena ada sesuatu yang bergerak menyakitkan dalam tubuh. Sesuatu yang tak mau keluar dari dirinya. Sesuatu yang bersikeras menginjak jiwanya–mengambil kesadarannya.


“Jangan dilawan, Mbak! Kalau nggak kuat, lepaskan, nggak usah ditahan! Aku akan memanggil batin dukun yang sudah memasukkan benda-benda santet ini ke dalam tubuh Mbak Irma. Biar mereka yang mencabutnya!”


"Oke!" Irma memejamkan mata ketika Elz merapal mantra. Giginya bergemeretak dan telinganya mulai berdengung.


Sebelum kehilangan kesadaran, Irma masih sempat merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya dengan kecepatan cahaya. Irma pun menjerit dan cepat membuka mata. Tapi Irma bukanlah dirinya, ia telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Irma sudah terinjak tanpa bisa mencegah sosok-sosok yang mengambil alih tubuhnya.


“Siapa yang berani memanggilku?” Sosok yang masuk ke dalam tubuh Irma membuka suara–serak dan berat.


“Aku!” jawab Elz dingin. Alisnya terangkat, menantang.


“Ada kepentingan apa kau memanggilku, Bocah?”


Elz menyeringai, lalu dengan ringan, tangannya mencekik leher Irma hingga sosok itu megap-megap kesakitan. “Cabut tanamanmu atau batinmu ini tak akan pernah kembali lagi ke ragamu!”


“Kau mengancamku, Bocah?”


“Lakukan saja perintahku!”

__ADS_1


“Tidak bisa, aku melakukan ini di bawah perintah teman! Wanita ini adalah sundal yang sudah merebut suaminya, dia patut dihukum!” ceracau sosok dalam tubuh Irma menghakimi, mulai menggelepar karena cekikan Elz semakin mengencang.


“Siapa namanya?”


“Hmmpp, aku tidak bisa mengata … hmpp lepaskan du-lu cekikanmu! Sialan, hmmppp! A-aku tidak!”


Elz mengulang pertanyaannya, “Sebutkan namanya? Siapa yang menyuruhmu!”


“Ti-dak! Hmmp … le-paskan aku!”


“Kau memang harus melepaskan apa yang sudah kau tanam dalam tubuh wanita ini! Lakukan sekarang! Kau tak mau mengatakan siapa yang menyuruhmu tak masalah bagiku, tapi kau pasti mati jika batinmu tak kembali!”


“Baiklah! A-aku akan melepaskan semua!”


Tiba-tiba kedua tangan Irma melakukan gerakan aneh, seperti orang yang sedang mencabuti bulu kaki. Tapi kemudian ketika tangan itu membuka, di telapaknya sudah ada paku kecil-kecil yang segera diberikan pada Elz.


“Semua! Itu masih banyak,” perintah Elz mengintimidasi.


“Tidak bisa! Itu bukan milikku,” jawab sosok dalam tubuh Irma, terengah. “Ini terlalu banyak, tumpang tindih dengan tanaman dukun lain!”


Elz menggerutu seraya mengucap mantra, “Kalian memang gila dan bodoh! Hanya untuk menghabisi satu wanita saja, lima dukun sampai harus bekerja sama! Aku akan memanggil teman-temanmu kemari biar kalian bisa reuni batin di sini!”


Mendengar mantra keluar dari mulut Elz, tubuh Irma mengejang sesaat. Ekspresinya mengeras, menunjukkan ketidaksukaan dan kemarahan. Suara lebih berat dari sebelumnya keluar dari mulut Irma, "Ada apa ini? Siapa yang berani memanggilku?"


Elz tak sabar menunggu debat beberapa dukun dari mulut Irma, ia membentak sembari menekan kepala bagian belakang irma, tepat di cekungan yang berada di atas leher. “Diam kalian semua! Bersihkan saja tubuh Irma dari santet kalian, kalau tidak … aku habisi kalian saat ini juga!”


Tak menunggu waktu, kedua tangan Irma kontan sibuk bekerja, kadang mencabut, kadang mengusap, kadang seperti orang yang sedang melepaskan tali dari berbagai bagian tubuh.


Baskom yang disediakan Yayuk untuk menampung buhul santet mulai terisi dengan berbagai bentuk benda tajam yang digunakan untuk menyakiti Irma. Air yang berada di dalamnya pun sudah berubah warna–merah hitam, campuran antara darah dan oli. Bau amis dan karat logam menyengat, menguar memenuhi ruang praktek Elz.


“Ada satu yang tidak bisa dikeluarkan, yang di punggung atas ini sudah lengket dengan organ!” kata salah satu batin dukun yang mendekam di tubuh Irma. Tangannya menunjuk dada.


“Kalian memang sialan! Katakan ide gila ini dari siapa?” tanya Elz dengan suara geram. Kejahatan yang dilakukan oleh tim dukun itu sudah kelewat batas.


Bagaimana bisa satu tubuh wanita yang ditanganinya dihuni oleh ratusan benda tajam? Sungguh tidak manusiawi!


Salah satu dukun mengaku ketakutan, “Aku hanya dimintai tolong oleh seorang teman, aku meletakkan buhul itu agar suatu hari nanti menusuk jantung dari belakang. Sungguh aku hanya disuruh oleh seorang perempuan! Aku akan mengatakannya jika kau berjanji untuk melepaskan kami, dukun muda!”


“Sebutkan namanya dan apa motifnya!”


“Suzan, nama perempuan itu Suzan! Motifnya untuk melindungi suaminya agar tidak balik lagi ke mantan istrinya! Dia bilang, mantan istrinya selalu mengganggu hidupnya yang sudah tenang!”

__ADS_1


Mendengar keterangan dari mulut Irma, Beni shock. Wajahnya memucat. Ia menggeleng, mendesiskan nama istrinya dengan intonasi rendah–penuh ketidakpercayaan. “Su-Suzan?”


“Apa tidak cukup dia memasang pemikat lintrik pada suaminya, hah? Kalian mau saja dibodoh-bodohi perempuan itu! Dibayar berapa kalian hingga mau melakukan pekerjaan sejahat ini?” cerca Elz naik pitam. Irma diam cukup lama hingga Elz menyentak tubuhnya dengan aliran energi supranatural.


“Kami tidak diberi uang! Dia memberikan tubuhnya sebagai bayaran. Sudah biasa Suzan meminta tolong kami–rekan satu paguyuban untuk mengerjai orang. Wanita bodoh itu memang selalu tergantung dengan kemampuan kami, karena dia tidak bisa menyantet musuhnya sendiri. Dia yang bodoh, belajar berdukun dari muda tapi hanya bisa menguasai ilmu lintrik saja!”


Beni mengepalkan tangan, mulutnya kembali mengucapkan penyangkalan. “Tidak mungkin!”


“Aku akan melepaskan kalian, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian menggunakan ilmu kesaktian secara sembarangan.” Elz memukuli batin kelima dukun yang bersarang di tubuh Irma dengan ilmu kebatinan. Dan bisa dipastikan, raga kelima dukun di tempat mereka berada, sedang tersiksa. Setidaknya muntah darah.


Sebagai langkah akhir, Elz menggunakan ajian waringin sungsang untuk menyerap kesaktian kelima dukun ilmu hitam tersebut. Sehingga tidak akan bisa lagi digunakan lagi di kemudian hari. (Baca Sistem Kekayaan Dukun Milenial untuk lebih mengenal Elz dan Tian).


Irma sadar sesaat, terbatuk-batuk, “Apa sudah selesai?”


“Tinggal yang di punggung!”


“Sulit ya, Elz?”


“Iya, harus dilakukan pembedahan buat ngangkatnya!” Elz dan Tian menyingkir sejenak karena Irma harus melepas baju.


Irma diberi minuman khusus oleh Yayuk dan minta tidur tengkurap. Yang terjadi, ia malah kebablasan lelap. Hingga tak merasakan apapun pada punggungnya.


“Gila!” Beni bergidik ngeri melihat apa yang diambil Elz dari punggung Irma. Sebuah pusaka melengkung berbentuk kail ikan, tapi memiliki kepala seperti ular.


Benda sepanjang tiga ruas jari itu dimasukkan Yayuk dalam baskom, menggenapi keseluruhan penyakit Irma yang sudah lebih dulu diangkat.


Elz membersihkan punggung Irma dengan kain lalu mengusapnya, menutup bagian yang disayat dengan mantra. Tak ada bekas luka berarti selain goresan tipis seperti luka yang hampir kering. Yayuk menutup menggunakan perban setelah Elz selesai dengan pekerjaannya.


“Biarkan saja dia tidur sebentar!” pesan Elz pada Yayuk. Anestesi gaib yang menenggelamkan Irma ke alam bawah sadar tidak langsung dihentikan oleh Elz. Mantra itu akan bekerja beberapa waktu hingga Irma cukup beristirahat.


Beni menghampiri Elz yang duduk di kursi kebesarannya, “Mas Dukun bisa nyantet? Bisa kasih sedikit pelajaran buat istri saya agar tidak sembarangan menyakiti orang? Kalau semua yang aku lihat dan dengar adalah kebenaran, sepak terjangnya sangat meresahkan. Bagaimanapun Irma adalah ibu dari anakku, kalau dia sampai lewat … kasihan anak-anak!”


Elz menaikkan satu alisnya, lalu berbicara datar, “Temukan saja kartu yang biasa dipakai untuk melintrik!”


“Aku sudah pernah mencarinya, Mas! Tap hasilnya nihil!”


“Tidak mungkin dia meninggalkan benda mistis yang menjadi syarat keampuhan ilmu peletnya di sembarang tempat. Kartu itu selalu ada bersamanya! Posisinya setara dengan suami utama, jadi tidak akan pernah jauh dari sisinya!”


Beni spontan memasang raut keruh, “Jadi aku suami cadangan buat Suzan?!”


BERSAMBUNG….

__ADS_1


***


__ADS_2