
Setengah satu malam, pintu rumah Irma diketuk dari luar. Mulanya hanya ketukan ringan, lama-lama menjadi suara berisik seperti gedoran dari perampok makam. Irma bangun dari lelapnya, terganggu karena bunyi tersebut menggema di dalam rumah tiada henti.
Alih-alih merasa takut, Irma justru merasa sangat penasaran dengan tamu tengah malamnya. Tapi Irma tetap waspada, karena di rumah hanya ada anak-anak dan dirinya. Bagaimanapun situasinya, ia adalah satu-satunya tempat berlindung bagi Novan dan Novia.
Maka dari itu, sebelum mengintip ke ruang tamu, Irma mengambil pisau daging dari dapur. Menyiapkan benda tajam itu untuk menakuti orang jahat, untuk menjaga keluarganya dari segala bentuk kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Langkah Irma ringan tanpa suara–mengendap dan berjinjit. Degup jantungnya memacu lebih cepat dari normalnya. Ia deg-degan, apalagi pintu diketuk semakin rapat, menunjukkan betapa tidak sabaran sosok yang ada di luar sana.
Perlahan, Irma menyingkap tirai sedikit, membuat celah untuk matanya agar bisa mengintip keluar. Beruntung ruang tamu gelap dan teras rumahnya terang benderang. Sehingga bisa memperlihatkan jelas sosok pria yang sedang mengetuk pintu dengan ekspresi kesal. Mungkin karena sudah terlalu lama menunggu untuk dibukakan.
"Mas Beni …," desis Irma. Matanya melebar tak percaya mendapati mantan suaminya lah yang ada di luar rumahnya. Irma menyalakan lampu ruang tamu lebih dulu sebelum memutar kunci–membuka pintu untuk Beni.
Beni terpaku pada seraut wajah tegang campur mengantuk di depannya. Dan tiba-tiba saja ia merasa bersalah. Beni lalu menatap pisau daging yang ada di tangan kiri Irma dengan sedikit mengerutkan dahi. Tapi raut wajahnya kembali normal karena rasa maklum.
"Ir … boleh aku masuk?"
Melihat wajah memelas Beni, Irma jadi tak enak hati dan salah tingkah. Satu sisi merasa tidak etis menerima tamu pria yang bukan suaminya di tengah malam. Sisi hatinya yang lain bimbang, mendorong untuk mengajak Beni agar segera masuk rumah. Karena memang begitulah efek yang disampaikan paranormal yang dikunjunginya. Mantan suaminya bisa pulang sewaktu-waktu.
Irma mundur dan bergeser memberikan jalan, "Silahkan!"
Suasana langsung canggung, Irma dan Beni sama-sama duduk dalam diam. Hanya saling menatap dan salah tingkah di ruang tamu. Semilir angin malam masuk melalui pintu yang terbuka lebar.
"Ehem … kamu udah tidur ya barusan?" Beni memulai pembicaraan karena Irma tak kunjung menanyakan alasan kedatangannya.
"Iya!" Irma bergerak meletakkan pisau daging di atas meja. Ia sampai lupa kalau masih menggenggam benda tajam itu–karena rasa terkejutnya.
"Maaf!" Beni menghembuskan nafas panjang. Terdengar frustasi tapi juga ada kelegaan. Seperti mala rindu yang baru saja terobati. Hening sejenak, dan Beni mengucap kalimat pendek lagi. "Aku nginap sini ya, Ir?!"
Irma menatap wajah kuyu Beni, "Eh gimana ya … kita 'kan udah bukan suami-istri, Mas!"
Beni menelan pahit ludahnya, "Aku tidur sama anak-anak! Aku kangen sama mereka. Boleh, kan?!"
"Tapi nanti kamu dicariin istrimu, Mas! Aku nggak mau ada ribut-ribut tengah malam di rumah ini. Ada anak-anak tidur, sungkan juga kalau sampai ada tetangga yang dengar!"
Situasi yang terjadi setelah pelet Mbah Suro bekerja ternyata tidak seperti yang diperkirakan Irma. Ia berpikir kalau sewaktu-waktu itu butuh beberapa hari. Siapa yang bakal menyangka kalau Beni pulang secepat ini, pun pada waktu tengah malam?!
Beni tersenyum lembut, “Nggak akan ada keributan! Suzan juga nggak mungkin kemari malam ini.”
__ADS_1
"Malam ini nggak, tapi besok pagi iya!"
"Nggak, Ir! Percaya sama aku!"
Dalam hati, Beni memuji ide briliannya mengunci Madam Suzan di dalam salon. Selain agar istrinya tetap aman di dalam salon sendirian, Beni juga akan aman dari kejaran sewaktu Madam Suzan sadar kalau ia tinggalkan.
Irma tak mau bertanya lebih lanjut, “Ya sudah mas ke kamar anak-anak aja sekarang, motor dimasukin dulu! Udah terlalu malam buat mengobrol.”
Tak perlu dikomando dua kali, Beni segera memasukkan motor ke garasi samping yang hanya berisi motor Irma. Ia lalu masuk lagi ke ruang tamu dan menguncinya dari dalam.
“Ir … aku numpang ke kamar mandi bisa?” Beni baru ingat kalau tubuhnya bau keringat dan bau l e n d i r persetubuhan dengan Madam Suzan.
Irma menatap Beni yang memperlakukan dirinya sendiri seperti orang asing di rumahnya, “Masih ingat dimana tempatnya ‘kan, Mas?”
Beni terkekeh senang, “Sorry! Aku pinjam handuk juga ya?!”
Irma tak menjawab, ia langsung ke dapur untuk membuat teh. Meletakkannya di meja makan dan meninggalkan Beni yang sedang membersihkan badan di kamar mandi. Ia cepat-cepat kembali ke kamarnya untuk melanjutkan istirahat. Untuk menghindari tatapan Beni yang penuh godaan dan gairah.
Di dalam kamar mandi, Beni mencuci seluruh pakaiannya. Entah karena alasan apa ia juga tak paham. Untuk menghilangkan bau istrinya atau agar ia bisa mengenakan pakaian lamanya yang mungkin masih tersimpan di kamarnya dulu–yang sekarang ditempati Irma seorang.
Hem, Beni sepertinya pantas didapuk sebagai pria paling egois sejagat Noveltoon karena kelakuannya yang 'enggak banget'! Tapi bukankah begitu sifat kaum lelaki terlepas dari ia terpengaruh mantra pengasihan atau tidak?
Beni menggantung pakaian basahnya di kamar mandi. Tubuhnya yang bersih segar hanya berbalut handuk sepinggang. Ia melihat ke arah dapur yang sepi. Menghampiri meja makan, Beni menuang teh ke cawan dan meminumnya selagi hangat.
Setelah selesai menikmati teh sambil berdiri, Beni berjalan ke kamar Irma tanpa rasa bersalah, karena di sanalah tempat bajunya dan karena di tempat itulah Irma berada. Ia butuh bertanya kalau memang bajunya masih ada. Kalau sudah tidak ada pun, Beni rela bertelanjang sampai bajunya yang basah kering lagi.
Beni menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamar yang ditempati mantan istrinya. "Ir, Irma!"
Dua kali ketukan, dan tampaklah wajah Irma di balik pintu. Terperanjat melihat penampilan Beni yang terbuka di bagian atas, dengan beberapa bercak merah di dekat bahu dan dada depan. "I-iya, Mas?"
"Bajuku masih ada nggak? Kamu pindahin kemana, Ir? Atau udah kamu buang semua?" cerca Beni, masih dengan senyum lembut dan menawannya.
Irma nyaris mati kutu, tergagap ketika menjawab. Tangannya spontan saja menunjuk lemari yang ada di dalam kamar, "Ma-masih utuh di le-mari!"
"Aku ambil sendiri ya! Kamu pasti udah nggak mau lagi menyiapkan baju ganti untukku!" ujar Beni dengan tatapan penuh harap.
"I-iya, Mas ambil sendiri saja!"
__ADS_1
Sial memang! Degup jantung Irma tak bisa dikontrol. Pemandangan Beni yang hanya berhanduk sepinggang menggelitik matanya. Kenangan indah menyapa, mulai menggerus batas norma yang sejak tadi dijaganya.
Beni–pria yang bukan lagi berstatus suaminya sekarang ada di dalam kamar mereka dulu. Dan Irma sangat cemburu melihat jejak gigitan perempuan bi nal itu di tubuh mantan suaminya.
What the hell?!
Irma malah menatap punggung Beni yang sedang memilih baju di lemarinya. Menikmati pemandangan pria yang pernah menjadi suaminya itu memakai celana pendek longgar untuk tidur–tanpa semvak di dalamnya! Dan wajah Irma mendadak panas seperti baru saja disiram air mendidih ketika Beni menurunkan handuk. Bokong Beni terekspos sesaat sebelum tertutup celananya.
Beni berbalik, membelakangi lemari setelah selesai mengenakan setelan tidurnya. Mendekati Irma yang langsung membuang pandangan ke arah lain karena jengah.
"Aku tidur di kamar anak-anak?" tanya Beni lagi, memastikan kalau dirinya memang tak boleh tidur sekamar dengan mantan istrinya itu. Meski ia sangat ingin.
"Iya, Mas!" Irma mengangguk kaku. Meski sebenarnya ingin menjawab yang lain–menawarkan kamar mereka dulu untuk kembali ditempati berdua.
Bukankah malam ini kesempatannya untuk memiliki Beni lagi? Bukankah penyatuan mereka nanti bisa membuat Beni kembali lagi padanya? Karena itulah yang didengarnya dari Mbah Suro ketika memberikan wejangan mengenai efek mantra pelet yang dikidungkan untuk pasangan yang kecantol orang lain.
Beni mengangguk kecewa, tapi menyimpannya dalam segaris senyum tipis. "Baiklah kalau begitu. Istirahatlah, aku akan ke kamar anak-anak sekarang!"
"Biar aku yang taruh handuknya, Mas!" Irma mengulurkan tangan, meminta handuk yang tersampir di bahu Beni.
Namun, uluran tangan Irma disambut Beni dengan sedikit tarikan, hingga Irma maju selangkah dan jatuh dalam pelukan Beni.
"Maafkan aku, Ir!" bisik Beni lirih. Tangannya mendekap erat Irma yang kaget dan berusaha melepaskan diri. "Maafkan aku!"
"Ja-ngan be-gini, Mas!" sahut Irma canggung, sambil menjauhkan punggungnya dengan mendorong dada Beni.
"Biarkan begini sebentar saja, Ir!" Beni mencium puncak kepala Irma, dan sekali lagi mengucapkan permintaan maaf sambil mengeratkan pelukan.
Merasa tak ada penolakan, Beni semakin mengungkung Irma. Menjatuhkan dahinya di bahu Irma sehingga hidungnya bisa menghidu aroma keringat Irma di bagian dekat leher.
Yeah, ada feromon yang menguar dalam keringat manusia itu adalah fakta. Ditambah dengan kerinduan terpendam dan pengaruh hawa mistis yang sangat kuat, Beni semakin tak kuasa menahan diri untuk tidak menempelkan bibirnya di leher mantan wanitanya itu. Mengecupnya lembut.
"Mas Beni?"
"Hem?"
BERSAMBUNG ….
__ADS_1
***