
Irma menarik nafas panjang sebelum menemui ibunya yang sedang berjaga di warung. Menguatkan diri agar ibunya tidak ikut terbebani dengan masalahnya.
Wanita yang melahirkannya itu sudah cukup menderita karena ulah ayahnya yang tak setia. Irma tak ingin menambah penderitaan Ibunya dengan kasus yang sama.
Cukuplah Irma menyimpan air mata untuk dirinya sendiri. Toh ia sudah diuntungkan bisa pulang dalam kondisi sehat dan selamat terlepas dari pengaruh linglung dalam perjalanan. Luka lebam akibat terantuk aspal di dekat di siku di tutupi dengan memakai baju lengan panjang.
Irma berjalan ke warung dengan hati teguh. Tidak ada mimik sedih atau luka ditampakkan. Yang ada hanya wajah datar dengan sedikit senyum. Setidaknya penampilannya yang bersih dan rapi setelah mandi bisa sedikit menyembunyikan pergolakan batin yang sedang terjadi.
“Ramai, Bu?” tanya Irma dengan ekspresi biasa-biasa saja, seolah tidak sedang terjadi hal menyedihkan pada hidupnya.
“Lumayan, hari ini banyak orang beli telur. Katanya mau dipakai selamatan satu Suro. Aku kok lupa nggak bilang kamu dari pagi tadi. Sekarang telepon aja tukang telurnya, minta dianter dua peti lagi secepatnya!”
Irma tidak menunda pekerjaan, stok telurnya memang tipis. Ia menghubungi supplier telur sambil mengecek stok yang lain. Mencari kesibukan agar ibunya tidak banyak bertanya hasil pengintaiannya.
Lagipula, warung itu adalah sumber penghasilannya. Ia harus benar-benar memperhatikan barang yang harus segera ditambah dan dijual cepat.
Irma mengucap syukur ketika melihat laci uang. Ibunya sudah memisahkan lembaran uang sesuai nominal, dan itu terhitung banyak. Dua kali lipat dari kemarin.
Mengherankan memang, meski salon yang dikelola Beni sudah tidak beroperasi, tapi keuangan Irma tetap stabil. Warung sembakonya lebih laris dari biasanya. Tuhan memang baik, tidak sedikitpun mengurangi jatah rezeki kedua buah hatinya.
"Aku ambil tiga peti telurnya, Bu! Ada pesanan khusus satu peti untuk Jeng Meme, nanti orang suruhannya yang ambil! Dia sama ambil beras lima puluh kilo," kata Irma.
"Diambil jam berapa?"
"Dua jam lagi."
__ADS_1
“Oh pas sama telur kiriman datang! Gimana kamu … ketemu suamimu?” tanya Ibu Irma ingin tahu. Sudah seminggu sang menantu tidak pulang, sudah seminggu ibunya Irma menahan diri untuk tidak bertanya, atau ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
“Ketemu, Bu!” jawab Irma getir.
“Dimana? Apa dia sama wanita lain?”
Irma menelan ludah kasar, lalu mengangguk, “Di Salon desa sebelah. Sama wanita lain. Mereka … mereka katanya sudah menikah!”
“Bagaimana bisa Beni menikah lagi tanpa persetujuanmu, Ir? Berarti Beni menceraikan kamu tanpa berbicara apapun sama ibu? Kamu ditinggalkan, tapi kamu tidak membicarakan masalah ini pada ibu?"
"Aku masih mengusahakan agar Mas Beni ingat pulang, Bu!"
"Bagus sekali kelakuan suamimu … apa dia tidak ingat menikahi kamu cuma modal dengkul? Sekarang berlagak tampan dengan menikahi wanita lain dan lupa pulang?”
Irma tidak mau menjawab pertanyaan ibunya. Sudah cukup hatinya sakit hari ini, ia tidak ingin menambah luka dengan membahas Beni bersama ibunya. Anggap saja semua yang dikatakan ibunya benar! Dan memang kenyataannya begitu ….
"Sudahlah, Bu! Bantu do'akan Mas Beni ingat pulang! Kasihan Novan dan Novia kalau sampai Mas Beni juga tidak ingat dengan dengan anaknya."
“Dasar laki-laki tidak tau diuntung!”
Irma termenung meresapi kata-kata ibunya. Benarkah suaminya adalah laki-laki yang tidak tahu diuntung?
Irma keberatan dengan predikat yang disematkan ibunya. Beni tidak demikian buruk. Beni hanya sedang tergoda oleh wanita lain. Itu pun dengan penyebab magis. Bukan murni dari hati Beni yang sengaja ingin mendua apalagi meninggalkan anak dan istrinya.
Tapi Irma tidak berani menyangkal kalimat frontal ibunya. Ia hanya diam dan diam tanpa membela ayah dari kedua anaknya. Berharap ibunya mau ikut mendoakan agar rumah tangganya kembali utuh.
__ADS_1
"Ibu istirahat sekarang saja! Biar aku yang jaga warung!" Irma sengaja meminta ibunya istirahat agar darah tingginya tidak kumat.
"Ya sudah ibu tinggal, nanti kalau kerepotan panggil aja ibu!"
"Novan sama Novia suruh ke warung aja, Bu! Buat teman aku!"
"Ya!"
Dan berjam-jam berikutnya, Irma menyibukkan diri dengan kedua buah hatinya sambil menjaga toko. Karena lelah, Irma menutup toko setelah senja berganti malam.
Irma masih sempat bersenda gurau dengan kedua anaknya di depan televisi hingga tiba waktu makan malam. Ia bahkan menunjukkan pesan masuk dari Beni pada si kecil Novia yang mengatakan kalau ayahnya akan segera pulang.
"Jadi papa besok pulang ya, Ma?"
"Iya!"
"Hore, kita jadi berenang ke water park!" sahut Novan gembira.
Irma tersenyum. Ia menyimpulkan kalau Beni pasti melangkahi syarat yang ditebarnya di depan pintu salon. Buktinya Beni langsung mengirimi Irma pesan singkat. Hanya saja, Irma seratus persen yakin kalau Madam Suzan tidak memberikan waktu pada Beni untuk keluar rumah.
Wanita nakal itu pasti mencengkram Beni dengan pesona tubuhnya. Membuat Beni sibuk dengan gairahnya, sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan Irma dan kedua anaknya.
WUSS!!!
Malam semakin larut, Irma mulai merasa lelah luar biasa. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri dan sesuatu berdentum di dalamnya. Sesuatu yang baru saja masuk melalui lubang telinga. Bukan benda atau binatang kecil, tapi lebih mirip dengan angin panas yang ditiup oleh seseorang yang tidak terlihat oleh matanya.
__ADS_1
Irma memegangi kepala, memijat dan memejamkan mata untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera. “Novia … ambilkan mama obat sakit kepala, mama pusing sekali!”
***