
“Suami Bu Irma saya duga terkena pelet jenis lintrik!” kata orang pintar yang dikunjungi Irma dan Dewi.
Meski Dewi sudah memberitahukan kemungkinan itu, tetap saja Irma seperti sedang tersambar petir di siang bolong. Ia mengusap wajah dan dada yang terasa sesak. Dengan suara tercekat bergumam lirih, “Ya Tuhan! Mas Beni ….”
Dewi mengelus lengan Irma untuk menguatkan. “Sabar ya, Mbak!"
Irma tersenyum kecut, "Iya, Wi! Aku nggak apa-apa, masih kuat."
Mendengar Irma seperti orang berputus asa, Dewi langsung bertanya pada orang pintar yang menatap Irma dengan ekspresi serius. "Jadi apa yang harus Mbak Irma lakukan, Pak?”
"Tunggu di sini sebentar, ada yang perlu saya lakukan di dalam!"
Selama lima belas menit berikutnya, Irma dan Dewi dibiarkan di ruang tamu. Orang pintar bernama Pak Dulah itu pergi untuk membuat syarat di dalam ruangan khusus.
"Perasaanku nggak enak, Wi!" ucap Irma pelan. "Jujur aku gak down dengar Mas Beni kena pelet perempuan lain!"
"Tapi aku memang udah nebak sih! Mas Beni pergi pasti ngejar perempuan yang memasang guna-guna itu!"
__ADS_1
Irma lalu bercerita sedikit mengenai Beni yang salah menyebut nama ketika mereka sedang bergulat di atas ranjang. "Aku memang curiga, tapi tidak berpikir jauh kalau Madam Suzan sampai bermain dukun!"
"Jadi pengen nampol muka itu orang!" kata Dewi geram.
Pak Dulah kembali ke ruang tamu, duduk di hadapan Irma. “Ini untuk diminum suami Bu Irma, berikan ketika dia baru bangun di pagi hari dan sekali sebelum tidur malam. Bisa juga untuk membuat teh atau kopi. Jika airnya berkurang … bisa dipenuhi lagi dengan air yang biasa diminum di rumah.”
Pak Dulah menyodorkan air mineral ukuran 1.500 ml yang sudah didoakan. “Untuk rajah ini, letakkan saja di dalam bantalnya! Bantal dibuka dikit, rajah ini dimasukkan, trus dijahit lagi biar aman. Jadi pas suami ibu tidur, rajah ini ada di bawah kepalanya. Semoga dalam tujuh hari, pelet lintrik yang menyerang suami ibu bisa luntur!”
Irma menerima kertas dengan tulisan tangan Pak Dulah. Berisi huruf dan simbol-simbol tertentu. Kertas yang disebut rajah itu terlipat rapi dan sudah dibungkus dengan plastik transparan. Tangan Irma gemetar ketika menerima rajah yang diulurkan Pak Dulah.
“Baik, Pak!” tukas Irma lirih.
“Ilmu pelet atau pengasihan jenis apapun, butuh waktu untuk mengikat sukma targetnya. Begitu juga dengan suami Bu Irma. Kejadian ini masih baru dan segera disadari oleh ibu, semoga rumah tangga ibu masih bisa diselamatkan!” ujar Pak Dulah menutup petuah dan informasi.
Ketika akhirnya Irma dan Dewi keluar dari rumah Pak Dulah, kaki Irma serasa lemas tanpa daya. Ia berjalan gontai ke arah motornya, digandeng Dewi.
“Mau pulang apa ke rumahku dulu, Mbak? Mungkin kamu masih butuh temen ngobrol! Kita lanjut bikin kue aja biar mbak nggak stress, gimana?”
__ADS_1
“Antar aku ke Suz Salon, Wi! Aku ingin tau tempatnya, siapa tau salon itu memang milik Madam Suzan dan Mas Beni ada di sana!” jawab Irma pelan. Hatinya terombang-ambing antara percaya dan tidak. Antara ingin menangis dan marah. Kepala Irma pusing. Dalam berbagai situasi, Irma belum pernah melihat atau merasakan kekuatan magis dari sebuah mantra pengasihan.
Dewi dengan sigap membawa motor ke arah Suz Salon. Perjalanan tak sampai lima belas menit karena salon tujuan masih satu desa dengan rumah Pak Dulah.
Seratus meter sebelum sampai lokasi yang dituju, Dewi berbicara pada Irma, mengingatkan untuk bersiap. “Suz Salon di depan, Mbak! Ruko dua tingkat yang warna biru, ya?!”
Irma memperhatikan arah telunjuk tangan kiri Dewi. "Jangan kencang-kencang, Wi!"
Motor melaju lambat, Dewi dan Irma menutup kaca helm agar tidak dikenali Beni yang mungkin ada di salon itu. Setidaknya untuk berjaga-jaga! Karena mereka juga tidak tau pasti apakah Beni ada di tempat itu atau tidak.
“Lihat sesuatu yang mencurigakan nggak, Mbak? Aku nggak lihat apa-apa di salon itu soalnya.” Dewi bertanya setelah celingukan dua kali. Suz Salon sudah terlewati dua puluh meter.
“Bisa jadi Mas Beni dan wanita penggoda itu di dalam, bisa jadi mereka ada di tempat lain, bisa jadi … salon itu tadi bukan milik Madam Suzan!” jawab Irma tak berdaya.
“Kita makan di warung depan salon aja kalau gitu, sambil mengamati lokasi. Sekalian nanti aku tanya-tanya ke tukang warungnya! Masa iya bakul nasi nggak kenal sama tetangganya?” usul Dewi yang langsung disetujui Irma.
Motor berbalik arah dan berhenti di seberang salon. Dewi mengajak Irma masuk untuk mengisi perut.
__ADS_1
Di dalam warung, bukannya menikmati makanan, Irma justru melamun. Ia tidak menyentuh piring berisi nasi pecel yang dipesan Dewi untuknya. Irma hanya menyeruput teh manis hangat yang disediakan tukang warung, itu pun dengan malas. Lehernya kaku, rasanya tak bisa menelan makanan yang ada di depannya.
***