Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Pengobatan Mbah Suro


__ADS_3

“Mbak … ayo masuk, kita dipanggil sama asisten Mbah Suro!” Dewi menepuk bahu Irma yang tak berhenti bergetar.


“I-iya, Wi!” sahut Irma. Suaranya serak parau seperti orang yang kesulitan berbicara. Tubuhnya yang semakin berat mulai menegang kaku dan sulit digerakkan.


Dewi membantu memapah tubuh Irma, dibantu oleh asisten Mbah Suro. “Ayo mbak dilawan pengaruh jin yang tidak mau bertemu Mbah Suro ini!”


“Heerrrmmm,” jawab Irma tak jelas bicaranya. Tubuhnya bergetar hebat dan kesadaran sedikit menurun.


Sampai di dalam ruang khusus pengobatan, Irma didudukkan di kursi khusus yang disediakan untuk pasien Mbah Suro. Dewi lalu bercerita singkat mengenai keluhan Irma pada sang paranormal dan menyerahkan beberapa persyaratan pengobatan kepada asistennya, termasuk foto Beni dan Irma.


Mbah Suro bertubuh kurus kering, jangkung dengan cambang tak terurus, berusia sekitar lima puluh tahun. Penampilannya sedikit 'mengerikan' karena tulang pipinya menonjol keluar, sementara matanya cekung ke dalam.


“Mbak … ini Mbah Suro! Beliau yang akan mengobati sakitmu, kalau mas asisten biasa dipanggil Mas Bagus!”


Irma hanya mengangguk kaku karena sudah sulit bicara, sulit bergerak dan sulit berpikir jernih. Namun, matanya nyalang menyiratkan kebencian ketika melihat Mbah Suro.


Mbah Suro balas menatap tajam pada Irma. Beberapa detik berikutnya, Mbah Suro mulai berkomat-kamit membaca mantra dan doa-doa.


"Ambilkan air keramatnya, Gus!"


"Nggeh, Mbah!"


Setelah menerima air yang dimaksud, Mbah Suro memercikkannya ke wajah Irma.


"Penebah, Gus!"


"Nggeh, Mbah!"


Selesai dengan percikan air, Mbah Suro memukulkan penebah (sapu yang berisi beberapa lidi) ke punggung dan kaki Irma.


Anehnya Irma hanya diam, tak bereaksi apapun. Wanita itu seperti tidak merasakan sakit seperti yang seharusnya terjadi.

__ADS_1


"Pergi! Ini bukan rumahmu!" perintah Mbah Suro. Ibu jarinya menekan dahi Irma – mengusir dengan tenaga supranaturalnya.


Irma benar-benar merasa aneh. Ia sadar kalau tidak ada perubahan apapun dalam tubuhnya setelah ditangani Mbah Suro! Badannya tetap kaku tidak bisa digerakkan. Hanya matanya saja yang melotot marah pada Mbah Suro yang terus saja berkomat-kamit dan memukuli pelan tubuhnya dengan sapu lidi.


"Kamu mau melawan Mbah Suro?" tanya Mbah Suro mulai tak sabar. Aku akan menyakitimu jika kamu tak mau keluar dari tubuh Irma.


Tapi memang tidak ada rasa sakit yang dirasakan Irma. Tidak ada rasa tersiksa seperti ketika Irma berobat ke Pak Dulah. Irma hanya sesekali menggeram untuk menunjukkan rasa tak suka karena Mbah Suro mengganggunya.


"Keluar!" Mbah Suro mendadak membentak dan memukulkan sapunya dengan keras ke punggung Irma. Tak percaya kalau mantra, air doa dan pemukul jin miliknya tidak memberi efek apapun pada si pasien.


“Apa-apaan kamu?” teriak Irma tiba-tiba, dengan suara parau dan berat. Ia berdiri, merebut sapu lidi yang dipakai untuk mengusir jin dalam tubuhnya dan menghancurkannya dengan kedua tangan tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.


Mbah Suro dan asistennya mundur, sementara Dewi segera menyingkir karena Irma sepenuhnya dikuasai oleh jin yang bersemayam dalam tubuhnya.


“Hahaha … kamu tau tidak, dari tadi kamu komat-kamit baca mantra aku itu cuma merasa gatal-gatal. Cuma geli seperti dikitik-kitik ketika kamu memukulkan sapu lidi ini!" Irma melemparkan remukan penebah ke arah Mbah Suro.


Irma mendekati Mbah Suro, menunjuk wajah si pria tua itu dengan tatapan congkak, "Heh, dukun sialan … mulutmu bau! Jangan berani kamu meniup-niupkan ababmu itu ke wajahku kalau tidak ingin celaka!”


Mas Bagus keluar ruangan cepat-cepat. "Nggeh, Mbah!"


Irma mondar-mandir di dalam ruangan dengan tangan berkacak pinggang. “Sudahlah … Suro! Kau tak akan bisa mengusirku dari tubuh ini! Ilmumu masih terlalu cetek (rendah) untuk mengurus masalah seperti ini!”


Namun, Mbah Suro tak berhenti berdoa dan membaca mantra hingga minyak yang dibawa Mas Bagus datang. Mbah Suro langsung memercikkan minyak doa itu ke tubuh Irma dengan jari-jarinya.


“Hahaha … aku bilang juga apa, mau pake minyak atau oli sekalipun, mau kamu bacakan doa sampai kiamat juga tidak akan ada hasilnya. Minyak ini cuma membuat tubuhku sedikit gatal, Suro!” ejek jin dalam tubuh Irma. Kedua tangannya menirukan gerakan monyet yang menggaruk tubuh secara sembarangan.


Terakhir, Mbah Suro menyemburkan air dari mulutnya ke arah Irma, lalu maju dan menangkap tangan Irma. Dibantu asistennya, Mbah Suro memaksa Irma berbaring di atas kasur lantai.


Mbah Suro membacakan mantra cukup lama dan menekan Irma sekuat tenaga hingga akhirnya pasiennya itu lemas. Tapi makhluk halus yang mendekam dalam tubuh Irma tidak berhasil dikeluarkan.


Mbah Suro membiarkan Irma tidur – istirahat di dalam ruang pengobatan, ditunggui oleh asistennya. "Gus … nanti Bu Irma kalau sudah bangun, beri air minum seperti biasanya !"

__ADS_1


"Baik, Mbah!" Bagus mengangguk sopan.


Mbah Suro mengajak Dewi keluar untuk berbicara empat mata. "Ayo ngomong di luar sebentar!"


"Gimana, Mbah?" tanya Dewi penuh kekhawatiran. Setahu Dewi, Mbah Suro bukanlah paranormal kacangan. Mbah Suro memiliki nama cukup bagus di dunia perdukunan. Ia sendiri sudah pernah ditangani Mbah Suro ketika mendapatkan santet dari istri pertama suaminya – yang notabene adalah temannya sendiri.


"Aku buatkan pengasihan saja untuk menarik suaminya pulang! Kalau soal jin yang bersarang dalam tubuh temanmu itu, carikan dukun lain yang lebih bisa! Aku tidak mau ambil resiko celaka jika memaksakan diri membantu temanmu. Jin sakti dalam tubuh temanmu itu dipelihara oleh seorang dukun dari ujung timur Jawa. Aku tidak sanggup menghadapinya!"


Merasa tidak ada pilihan yang lebih baik, Dewi menerima tawaran Mbah Suro. "Baiklah, Mbah! Yang terpenting suami Mbak Irma pulang! Yang lain bisa menyusul!"


Mbah Suro meyakinkan Dewi, "Kalau itu aku jamin bisa, ilmu peletku tidak akan bisa ditolak oleh suami temanmu itu. Pelet pengasihan adalah keahlianku. Kamu tunggu saja di sini, biarkan Irma istirahat sebentar di dalam."


Dewi ditinggalkan di ruang tamu, sementara Mbah Suro masuk ke ruang lain untuk melakukan ritual berbeda. Mbah Suro baru kembali menemui Dewi tiga puluh menit kemudian.


"Berikan ini pada temanmu, suruh dia simpan di tempat aman yang tidak mungkin ditemukan orang. Terutama suaminya nanti saat pulang!" Mbah Suro memberikan bungkusan kain putih sebesar tiga jari tangan.


"Baik, Mbah!" Dewi mengangguk, menerima jimat berisi foto Beni, Irma dan syarat-syarat lain yang berkaitan dengan pelet pengasihan. Dari kantong kain putih itu menguar aroma kembang kantil dan dupa bunga kenanga.


Mbah Suro juga memberikan serbuk seperti remukan cengkeh yang terbungkus plastik klip kecil. "Ini untuk mandi Irma sepulang dari sini. Semoga auranya terbuka dan memancar kuat, sehingga bisa dirasakan suaminya nanti malam."


"Baik, Mbah! Jadi hasilnya bisa dilihat nanti malam ya, Mbah? Kemarin itu sebenarnya suaminya sudah pulang, tapi balik lagi ke perempuan yang melintrik-nya!"


"Ya itu masalah utamanya, perempuan nakal itu bisa melintrik sendiri, sehingga khasiat peletnya makin kuat setiap hari karena diisi ulang terus menerus! Tapi kalau santet yang menyerang temanmu bukan dari si pelintrik, perempuan sundaal itu menggunakan jasa dukun ilmu hitam lain. Kalau dilihat dari energinya, dukun yang mengirim santet pada temanmu tidak hanya satu orang!"


Dewi mengelus dada, prihatin dengan nasib sahabatnya. "Misalkan Mbak Irma melepaskan suaminya, apa santet itu bisa dikeluarkan?"


"Tidak ada yang tidak mungkin. Temanmu hanya perlu bertemu dengan orang yang tepat, karena setauku santet yang bersarang dalam tubuhnya jenis yang ganas – makhluk jahat yang dikontrak untuk membunuh. Jadi dia tidak akan keluar sebelum targetnya mati."


Dewi menelan ludahnya yang terasa pahit, "Sejahat itu lawannya, Mbah?"


"Ya, ini permainan yang sangat jahat. Semoga temanmu kuat sampai menemukan obat!"

__ADS_1


***


__ADS_2