
Selesai makan, Irma membereskan meja dibantu Beni. Mantan suaminya itu bahkan ikut mencuci piring dan perlengkapan masak yang kotor.
“Kaki kamu kenapa, Ir? Aku lihat jalanmu dari tadi kok kesusahan. Sudah dibawa ke dokter?” Beni mengambil lap untuk mengeringkan air yang menetes dari bekas cucian piring.
“Lututku sakit kalau buat gerak, rasanya kaku. Hari ini mau aku bawa ke ….”
“Dukun?” Beni kembali duduk di kursi, memperhatikan kaki Irma yang kesusahan dipakai jalan.
Irma tak mau menjawab langsung, “Nanti juga sembuh!”
Beni menatap Irma iba tapi juga kesal, “Aku nggak habis pikir sama kamu, sakit lutut aja dibawa ke dukun! Nalarmu kemana, Ir?”
“Aku sudah ke dokter! Mas Beni bisa lihat obat radang sendi yang diberikan dokter di atas kulkas. Udah aku minum selama dua hari, tapi sama sekali nggak ada perubahan. Tetap sakit dan susah buat jalan!” Irma duduk berseberangan meja dengan Beni untuk mengistirahatkan kakinya yang berdenyut nyeri.
“Sejak kapan kamu punya sakit itu?”
“Sejak malam kamu pulang dari sini!”
Memperhatikan ekspresi Irma yang agak sewot ketika menjawab, Beni menanggapi lebih serius, “Kamu pasti nuduh Suzan yang melakukan itu ke kamu?!"
"Siapa lagi yang memiliki kepentingan menyingkirkanku dari sisimu selain dia?"
"Tuduhanmu sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat, Irma! Asal bicara saja!"
"Sudah jelas kok penyakit ini datangnya dari mana?! Nggak perlu kamu sebut dengan jelas, aku sudah tahu. Harusnya kamu juga berpikir seperti aku!"
Beni menukas dengan nada lebih tinggi, "Lama-lama kamu jadi paranoid kalau terus saja berpikiran buruk sama orang lain tahu nggak?”
“Mas Beni pulang saja deh, kalau mau ketemu anak-anak bisa siang atau sore nanti! Aku mau jalan sama Dewi bentar lagi!” Irama terlalu lelah untuk berdebat dan membela diri, toh ujung-ujungnya Beni tetap membenarkan istrinya.
“Kayaknya Dewi ini yang bawa penyakit jiwa ke kamu, bikin kamu jadi percaya sama omong kosong dukun dan paranormal!”
“Tapi pada kenyataannya aku sembuh setelah berobat ke dukun!” sahut Irma santai.
“Masa? Dukun yang mana? Yang kemarin kita datangin itu? Buktinya kamu sakit lagi gitu loh. Kamu tahu nggak yang namanya dukun itu memiliki kekuatan magis untuk mindahin penyakit, yang kemarin sakitmu di perut sekarang dipindah ke lutut! Pada dasarnya orang pintar itu itu cuma pintar ngibulin pasien!”
“Mas!” potong Irma cepat. “Aku ini serius sakit aneh yang nggak bisa dideteksi secara medis, bukan pura-pura atau terkena gejala sakit jiwa! Kamu nggak percaya karena nggak pernah lihat apa yang sudah dikeluarkan paranormal dari tubuh aku!”
"Apa yang keluar dari tubuhmu memangnya?" tanya Beni sarkastik.
Irma menjawab dengan ekspresi lelah, "Jarum, paku, jenglot, beling!"
Beni terkekeh tak percaya, “Oke, oke aku antar kamu berobat ke tukang sulap. Kali ini aku harus ikut masuk, aku mau lihat aksi penipuan paranormalnya. Deal?”
__ADS_1
Irma menatap lurus ke mata Beni, “Oke, deal!”
“Dimana lokasi prakteknya?”
Irma mengedikkan bahu, “Aku masih belum tahu!”
“Hubungi temanmu sekarang, aku anter ke sana mumpung aku belum sibuk!”
Tanpa diminta dua kali, Irma langsung menelpon Dewi, menanyakan apakah mereka bisa pergi lebih pagi mumpung ada yang mengantar.
Secara kebetulan Dewi memang sedang bersiap mau berangkat menjemput Irma. Ia mengatakan hanya bisa mengantar sampai siang karena sore ada acara bersama suaminya.
“Kamu bawa mobil siapa?” tanya Irma di sela-sela menunggu kedatangan Dewi.
“Suzan! Kenapa?”
“Cuma tanya!”
“Aku mau belanja banyak kebutuhan salon, makanya bawa mobil, trus kepikiran mampir karena pengen sarapan sama anak-anak!”
Irma mengangguk, “Kamu nggak ada pikiran buat beresin Iben Salon? Semua barang milikmu masih utuh di sana, kalau udah nggak kepake aku rombengkan kiloan saja ya? Biar tempatnya bisa aku pakai buat usaha yang lain!”
“Kamu mau usaha apa memangnya?”
“Duit dari mana kamu mau buka usaha baru?”
“Aku punya sertifikat rumah dan usaha yang bisa dijaminkan pada ke bank! Walaupun warung sembako tidak besar tapi cukuplah untuk makan sehari-hari! Anak-anak masih perlu dana banyak untuk pendidikan, apalagi kamu sekarang nggak pernah ngasih uang tunjangan buat mereka! Jadi aku harus punya tambahan usaha,” sindir Irma.
Beni memasang raut muram dalam obrolan tersebut. Ia memang belum memberikan apa-apa selama meninggalkan kedua anaknya. Uang yang ada padanya hanya sebatas uang jajan dari Madam Suzan.
“Jadi salonku kamu tutup permanen?”
Irma tertawa masam, “Ya! Kalau dalam seminggu ini kamu tidak mengosongkan tempat itu, aku jual kiloan semua barang salonmu!”
“Harusnya kamu kasih aku waktu untuk mengambil barang-barang itu setidaknya sampai satu bulan kedepan, Ir!”
“Bawa saja barang-barang itu ke rumah istrimu! Beres, kan?”
“Ya sudah nanti aku jual saja, banyak kok teman salon yang mau beli barang itu. Apalagi kondisinya masih bagus semua!”
“Oke!” sahut Irma kalem.
Beni diam cukup lama. Obrolan soal salon menyentil egonya. Tersinggung karena barang-barang miliknya akan dibuang seperti sampah tak berguna.
__ADS_1
Huh, setelah dipikir-pikir, ia juga tak terlalu menginginkan berumah tangga dengan Irma lagi.
Benarkah? Entahlah … hati dan pikirannya selalu terbelah jadi dua. Emosi dan perasaannya tak stabil, baik terhadap Irma ataupun Madam Suzan. Keduanya seperti memiliki magnet yang menariknya untuk mendekat.
Beni mengacak rambutnya, stress dengan hidupnya yang semrawut akhir-akhir ini. Tapi ia benar-benar harus memilih sekarang.
“Nanti pulang dari orang pintar aku pinjam surat nikah sama kartu keluarga ya, Ir! Aku mau nyiapkan berkas-berkas untuk keperluan gugatan cerai di pengadilan.”
Irma mendengus kesal, “Kemarin bilangnya mau cerai sama Madam Suzan, hari ini aku yang mau digugat ke pengadilan?! Plin plan amat sih jadi orang!”
Irma berusaha memahami kondisi Beni yang tak bisa fokus padanya. Hawa lintrik selalu mempengaruhi jalan pikiran mantan suaminya itu. Wajar jika Beni plin-plan dan tak berpendirian karena sedang ditarik dua kekuatan.
"Aku …."
Sebelum Beni menanggapi kalimat sindiran Irma, Dewi datang, sehingga obrolan mereka terjeda.
“Mbak … nunggu dari tadi ya? Berangkat sekarang ‘kah? Pakai motor siapa?”
“Masukin motormu ke dalam, Wi! Kita pergi naik mobil, Mas Beni mau ikut!”
“Oh … syukurlah kalau begitu!” ucap Dewi seraya mengangguk pada Beni.
“Memangnya kamu ada kenalan paranormal baru, Wi?” tanya Irma penasaran.
“Ini yang rekomendasi temanku, Mbak! Katanya dia itu sekali berobat langsung sembuh. Dukunnya masih muda, ganteng pula katanya hahaha!”
Irma terkekeh melirik Beni, “Wah lumayan bisa sekalian tepe-tepe kita nanti! Muda banget?”
“Katanya sih begitu … kayak anak kampusan.”
“Hah? Serius?”
“Begitulah!”
“Ingat Ir, udah ada anak dua kamu itu! Nggak pantes mau tebar-tebar pesona sama brondong!” celetuk Beni jengkel–cemburu. “Dari obrolan kalian saja aku sudah bisa menarik kesimpulan kalau paranormal yang akan kalian kunjungi cuma jual tampang doang. Paling juga endingnya penipuan dan pemerasan!”
“Nah itu fungsinya Mas Beni ikut, kan? Biar kita tidak ditipu dan diperas dengan ketampanan Mas Dukun!” timpal Irma mengulum senyumnya. Kali ini ia akan memaksa paranormal yang dikunjunginya untuk mengurus Beni sekalian.
Beni menyahut percaya diri, “Ya, aku nggak mau kamu dibodoh-bodohi dan dicabuli dengan alasan sebagai kebutuhan ritual!”
Irma terkikik geli, “Ternyata kamu masih mikirin aku ya, Mas? Serius nggak sih mau gugat cerai aku di pengadilan?”
“Ayo berangkat sekarang!” ajak Beni mendahului Irma dan Dewi. Mengabaikan pertanyaan Irma yang mendadak menyentuh hati kecilnya.
__ADS_1
***