Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Definisi Bosan


__ADS_3

Beni sebenarnya tak paham dengan apa yang sedang terjadi pada perasaannya. Kadar cintanya pada Sang Istri seolah menurun drastis akhir-akhir ini. Ia berusaha berpikir keras, apakah hal itu disebabkan kehadiran Madam Suzan? Atau disebabkan kejenuhan dalam berumah tangga dengan Irma yang rasanya biasa-biasa saja?


Bukan, yang dirasa beni bukan jenuh, tapi bosan. Sungguh Beni merasa bosan dengan istrinya. Bosan yang memiliki arti bahwa ia lelah berumah tangga dengan Irma dan tak berniat meneruskannya lagi.


Beberapa waktu lalu, secara kebetulan Madam Suzan hadir sebagai teman ngobrol yang menyenangkan. Beni mendapatkan kenyamanan, perhatian dan tentu saja kasih sayang.


Disanjung, dimanja dan diperlakukan layaknya laki-laki sejati. Ditempatkan sebagai pemimpin dalam setiap pembicaraan, diberikan dominasi pada tiap kesempatan. Dan banyak hal yang dilakukan Madam Suzan yang membuat Beni akhirnya kesengsem dan kelimpungan.


Perbedaan itu terasa mencolok dalam kebersamaannya dengan Irma. Istrinya terlalu pengatur dan bersikap lebih dominan dalam segala hal, dan itu terjadi dari sejak mereka menikah.


Beni baru tau kalau dirinya selalu ada dibawah kendali istrinya. Hal itu disadarinya setelah kenal dekat dengan Madam Suzan. Irma mengatur segala hal dalam rumah tangga karena ia tidak memiliki apa-apa yang bisa membuatnya berharga dan memiliki nilai tinggi sebagai suami.


Ya, Beni memang menikahi Irma hanya bermodal wajah yang lumayan tampan tanpa diikuti standar keuangan yang layak.


Kini, Beni mendadak jenuh dengan rutinitas pernikahannya. Ia merasa diperlakukan seperti sapi perah. Hanya bertugas mencari uang setiap hari. Ia tidak memiliki kebebasan seperti yang Madam Suzan katakan.


“Apa? Kamu jenuh sama aku?” Ingin rasanya Irma melempar bantal ke muka Beni. “Oh … apa karena aku udah nggak muda lagi? Nggak cantik dan pandai merawat diri seperti Madam Suzan?”


“Kenapa bawa-bawa Madam Suzan? Maksud kamu apa? Kamu cemburu sama dia?” cerca Beni marah. Ekspresinya spontan berubah garang.

__ADS_1


“Kalau kamu nggak ada hubungan apa-apa dengan Madam Suzan, ya udah jawab aja santai. Kenapa harus marah? Itu nunjukin kalau kamu memang ada apa-apa sama wanita sialan itu!” tuduh Irma kesal. Ia juga bisa marah.


“Kamu bilang dia wanita sialan? Kalau aku ada apa-apa sama Madam Suzan sialan itu, kamu mau apa?”


“Mas!” bentak Irma nyaris menangis. Pertahanannya hancur mendengar ucapan Beni yang dirasa sangat keterlaluan. “Berarti kamu menghianati kepercayaanku selama ini?”


Beni tak menjawab, tapi memunggungi Irma yang mulai terisak. Ia benci dengan situasi yang membuatnya tersudut. Madam Suzan benar, ia sebenarnya tertekan dengan pernikahannya.


Setelah saling diam beberapa waktu, Beni bertanya malas, “Salahku apa? Aku memang sedang bosan dengan pernikahan kita! Aku butuh suasana baru, butuh hiburan!”


“Kamu tega banget sama aku, tega sama anak-anak, Mas! Tidak seharusnya kamu menghadirkan wanita lain dalam kehidupan kita sebagai hiburan hanya karena bosan dengan pernikahan. Kamu sadar nggak sih dengan kelakuan kamu itu?”


“Berarti ada unsur kesengajaan? Mau kamu apa sebenernya, Mas? Mau nikah lagi apa gimana?” Irma tak mampu lagi mengendalikan emosi. Suaranya sudah mulai parau ketika bicara.


Selama delapan tahun, tidak pernah sekalipun Beni berbicara seenaknya seperti itu padanya. Dalam kondisi marah, Beni bahkan masih berhati-hati ketika bicara, tidak berani mengeluarkan kalimat yang akan membuat rumah tangga mereka tercerai berai.


“Aku mau kita pisah!”


“Pisah ranjang?”

__ADS_1


“Aku mau cerai sama kamu!” ujar Beni tanpa keraguan.


Irma nyaris pingsan mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut suaminya. Yang Irma pahami jika seorang suami sudah mengucapkan kata sakral itu, posisinya pun sudah tertalak sebagai istri.


“Cerai? Kamu menceraikan aku semudah ini? Apa kamu nggak berpikir apa yang sudah kita lalui selama delapan tahun pernikahan? Kamu lupa janji kamu waktu dulu mau nikahin aku? Lupa sama semua impian yang mau kita wujudkan bersama cuma karena wanita nggak jelas itu?!”


Beni bergeming, ia menatap Irma dengan tatapan tajam, menantang, tak merasa bersalah, ataupun menyesali kata-kata sakti yang telah diucapkannya tanpa pertimbangan.


“Wanita nggak jelas itu lebih baik daripada kamu! Dia lebih cantik, lebih perhatian, lebih pengertian dan lebih bisa cari duit dibandingkan dengan kamu!”


“Oh, jadi sekarang kamu bandingin aku sama Madam Sialan gitu? Kamu benar-benar sudah berubah, Mas!”


“Berubah untuk yang lebih baik kenapa tidak? Toh selama delapan tahun pernikahan, kamu juga nggak ada perubahan bagus, nggak lebih menyenangkan … akhirnya cuma sekedar teman tidur buatku!”


“Teman tidur? Tega banget kamu, itu sama aja kamu anggap aku ini wanita bayaran! Oh ya, jangan lupa satu hal … teman tidur kamu ini adalah ibu dari Novan dan Novia, anak-anak kamu!”


“Sayangnya iya! Nyesel juga kenapa harus kamu yang jadi ibunya anak-anakku!” ucap Beni semakin menjadi, semakin yakin kalau ia tak mencintai Irma lagi.


“Mas ….” Irma tak melanjutkan kalimatnya. Ia memilih pergi ke kamar anak-anak sambil menyeka air mata. Tidak ada pilihan lagi selain menghabiskan malam dengan malaikat-malaikat kecilnya yang sudah terlelap.

__ADS_1


***


__ADS_2