
Dua hari Beni tak mengunjungi Irma. Selain kesibukan di salon, ia enggan kesana karena Irma saat terakhir bertemu dengannya tidak menunjukkan sikap baik.
Wanita yang pernah dinikahinya itu melemparkan tuduhan-tuduhan yang tak masuk akal pada Madam Suzan. Ia sudah membuktikan kalau tidak ada apapun yang mencurigakan di dalam salon.
Temuannya–baik dupa ataupun bunga kering sudah ditanyakan pada sang istri. Sialnya, Madam Suzan menjelaskan kegunaan benda mistis itu sembari menertawakan kecurigaannya.
Dupa yang ditemukan Beni ternyata dipakai Madam Suzan sebagai aromaterapi. Sang istri menyatakan suka dengan aroma kayu cendana, dan merasa tenang ketika menghirupnya. Begitu juga dengan bunga-bungaan, disimpan karena lupa ketika akan membuangnya.
Sebelum Beni menikahinya, Sang Madam bercerita memang sering membeli bunga untuk wewangian kamar. Ia suka bau alami bunga, dan merasa bahagia karena terbawa imajinasi pergi ke taman bunga.
Bukankah ketika mereka menikah, ranjang yang ada di kamar salon juga bertabur kelopak mawar merah?
Huh, Beni meras malu karena sudah over thinking terhadap Madam Suzan. Pada kenyataannya, istrinya itu pun pergi ke Banyuwangi bukan untuk berdukun, tapi karena ada sanak saudara yang sedang ngunduh mantu.
Hal itu dibuktikan dengan berbagai video kegiatan pernikahan saudaranya yang dikirimkan sang istri padanya. Mereka juga sempat berhubungan via video call di sela-sela kesibukan Madam Suzan.
Beni mengakui, istrinya memang wanita baik, bahkan tidak tersinggung ketika ia mengatakan kalau Irma menuduhnya sebagai wanita tukang lintrik perebut suami orang. Seperti malam ini ketika mereka melakukan panggilan video malam sebelum tidur.
"Sayang nggak marah sama Irma?"
["Ish, kenapa aku harus marah, Mas? Yang terpenting itu Mas Beni sayang dan percaya sama aku, soal Irma mau ngomong ini itu terserah saja. Aku maklum, mungkin dia belum dewasa!"]
"Aku salut, memang nggak salah aku pilih kamu jadi istriku!" ungkap Beni penuh gombalan. "Kamu besok nyampek sini jam berapa?"
"Malam kayaknya, Mas! Besok siang acara terakhir, nganter manten ikut suaminya. Selesai itu baru aku pulang ke pelukanmu! Kangen banget, udah nggak tahan!"
Beni terkekeh gembira, "Siap tempur siang malam, eh?"
["Yo jelas kalau itu, Mas! Puasa dari ben-jun itu sangat menyiksa,"] sahut Mada Suzan cekikikan.
"Ya udah, kamu istirahat! Besok masih banyak kegiatan."
["Mimpikan aku ya, Mas! ]
"Iya dong … nanti aku culik, sekap, aku nikmati sepuasnya hahaha!"
["Good night, Mas Beni!"]
Beni mendekatkan wajahnya ke layar ponsel ketika bibir istrinya mengecup dari jauh.
__ADS_1
"Good night, Istriku!"
Setelah panggilan video berakhir, Beni akhirnya justru menyimpan kekesalan dan kebencian pada Irma. Ia mengumpati mantan istrinya beberapa kali sebelum terlelap di tengah malam.
Anehnya, di dalam mimpinya Beni justru memiliki perasaan yang berkebalikan dengan kenyataannya. Ia tidak memiliki kekesalan dan kebencian sekecil apapun pada Irma.
Beni memimpikan sedang berada di rumah Irma, bercanda dengan kedua anaknya lebih dulu hingga akhirnya ia memiliki waktu berdua dengan mantan istrinya, di dalam kamar.
Seperti pengantin baru yang sedang kasmaran, percintaan mereka di atas ranjang sangat panas dan panjang–tidak seperti sebelumnya. Pun dilakukan berulang kali hingga mereka sama-sama lelah. Irma tidur di pelukannya dalam kebahagiaan.
Beni terpuaskan berkali-kali dalam mimpi tersebut, hingga tak menyadari kalau celana boxer yang dikenakannya basah–dalam arti sesungguhnya. Beni ngompol enak tanpa sadar!
“Astaga!” Beni berdecak kesal mendapati dirinya mimpi basah bersama mantan istrinya. Ia lalu mengusak rambutnya frustasi, memaki dirinya sendiri yang tak bangun dari mimpi erotis tersebut.
Bahkan, cairan enaknya merembes membasah sampai sprei karena sudah tidak keluarkan selama dua hari. Ia sengaja menahan itu untuk pertempuran panas dengan Madam Suzan, ia ingin menghamili istrinya.
Namun, dibalik rasa frustasinya, sudut bibir Beni menyunggingkan senyum tipis. Walaupun hanya sebatas mimpi, ia merasa seperti telah ber g u m u l dengan mantan istrinya secara nyata. Mimpinya terlalu tak biasa, dan yang penting ia terpuaskan, dan yang terpenting dari yang penting … ia tak perlu menanggung malu karena ben-jun dua kali loyo ketika berhadapan dengan Irma.
Kabut gairah masih tersisa dalam otak kotor Beni. Ia mandi sembari membayangkan beradegan mezum dengan Irma. Ah ya … ketika baru menikah dulu, ia dan Irma sering mandi bersama. Mencuri kesempatan untuk saling memuaskan di kamar mandi yang sempit–di rumah mertuanya.
Suara bel salon berbunyi beberapa kali. Karyawan sudah mulai datang, Beni pun menyudahi acara mandi dan lamunannya. Ia segera berganti baju dan turun untuk membuka salon. Bangunnya memang sudah kesiangan, tapi jujur saja ia masih merasa mengantuk.
“Baik, Mas! Oh ya ini list kelengkapan salon yang harus ditambah,” sahut si hair stylist. Ia membaca sekilas catatannya sebelum menyerahkan ke tangan Beni. “Eh, cat rambut yang warna burgundy tambahin dua lagi boleh deh, nanti ada temanku mau mewarnai rambut ke sini!”
“Ya udah aku sekalian keluar belanja kalau gitu! Titip salon ya!”
“Madam pulang kapan, Mas?”
“Mungkin malam nanti baru sampai sini,” jawab Beni sambil mengeluarkan motor operasional dari salon. Sebelum keluar membeli perlengkapan salon, ia berniat menukar kendaraannya dengan mobil istrinya–yang ada di rumah. Belanjaannya cukup banyak kalau melihat dari list.
Selama ini Beni memang tak mau ribet, ia memilih tidur di salon daripada di rumah istrinya agar tak perlu bolak-balik untuk mengawasi salon. Di samping itu, ia tak nyaman dengan anak Madam Suzan yang bernama Carla. Gadis yang beranjak dewasa itu selalu menatapnya tak ramah ketika ia ikut pulang istrinya ke rumah.
Madam Suzan memang lebih tua dari Irma, bahkan lebih tua dari Beni. Putrinya sudah tujuh belas tahun, dan tahun ini akan lulus sekolah menengah atas.
Madam Suzan pernah bercerita kalau dulu menikah di usia enam belas tahun, dan memiliki anak saat berusia tujuh belas tahun. Namun demikian, di usia Madam Suzan yang ketiga puluh enam, ia tampak bugar, cantik, dan seksi menggoda, mengalahkan Irma yang baru mau menginjak angka 30 tahun.
Sampai rumah Madam Suzan, Beni terkejut mendapati Carla tak sekolah. Gadis itu sedang bermalas-malasan di ruang nonton tv bersama kekasihnya. Kalau dilihat dari gelagatnya, sepertinya Carla menginapkan kekasihnya di rumah–selama tidak ada ibunya.
“Ada apa, Om?” tanya Carla terkejut. Baru kali ini suami ibunya datang sendiri.
__ADS_1
“Mau ambil mobil, mau belanja kebutuhan salon!” jawab Beni datar, tapi matanya menelisik sosok pria bertelanjang dada yang tidur terlentang di atas sofa.
Carla salah tingkah. Kepergok Beni bukanlah hal bagus, bagaimana jika Beni melaporkan kebejatannya pada sang ibu?
“Ehem … jangan bilang soal Riki sama mama ya, Om! Nanti aku kena marah," kata Carla, matanya mengikuti arah pandang Beni. Khawatir.
"Oh namanya Riki?" Beni melihat kekasih Carla yang sedang tidur di sofa dengan hanya mengenakan boxer. Sepertinya anak gadis istrinya baru melalui malam panjang penuh leendir, hingga si lelaki tampak sangat kelelahan.
Beni jadi berpikir kotor, apakah Carla sebinal Madam Suzan ketika bermain di atas ranjang?
Tapi gadis itu masih belia!
"Janji rahasiain ini dari mama ya, Om!"
Tak mau berpikir lebih jauh tentang Carla dan pacarnya, Beni menjawab cepat permintaan Carla. “Oke!”
“Thanks! Aku nggak akan melupakan kebaikan, Om. Kalau om butuh bantuan, aku usahain buat balas budi.”
Beni tak menggubris kalimat terakhir Carla, lagian apa yang bisa gadis belia itu lakukan untuknya? Tidak ada!
“Kunci mobil dimana, Carla?”
“Sebentar, aku ambilkan!”
“Oke!”
Tak lama, Carla kembali membawa kunci mobil ibunya. Beni pun tanpa berbasa-basi lagi segera meninggalkan rumah istrinya. Urusan Carla tidak ada hubungannya dengannya. Ia bukan ayah Carla yang harus peduli dengan tingkah polah gadis muda tersebut. Ia jelas tak berhak menegur atau memarahi.
Berpikir demikian, Beni teringat kedua anaknya–terutama Novia putrinya. Akankah Novia seperti Carla nantinya?
Beni menolak pemikiran seperti itu karena Irma bukanlah wanita nakal yang mungkin secara genetik akan menurunkan hal tersebut pada Novia.
Lalu bagaimana dengan Novan?
Beni termenung di dalam mobil. Mungkinkah putranya akan berselingkuh di masa depan seperti dirinya? Atau justru putrinya Novia yang akan diselingkuhi oleh suaminya kelak?
Bayangan masa depan kedua anaknya yang terus melintas di pikiran Beni membuatnya tak tenang. Sementara ingatan mengenai penyatuannya dengan Irma dalam mimpi semalam membawa Beni pulang ke rumah mantan istrinya itu–tanpa disadarinya.
BERSAMBUNG….
__ADS_1
***