
Beni menunggu kedatangan Madam Suzan dengan perasaan tak nyaman. Ia memendam kemarahan dari sejak keluar ruang praktek Elz. Sudah cukup bukti yang didapat Beni, untuk membuat istrinya mengakui kesalahan. Dan tentu saja wanita egois itu harus bersedia meminta maaf, padanya dan juga Irma.
Namun, hingga tengah malam, istrinya tak kunjung menampakkan batang hidung. Madam Suzan malah menghilang tanpa kabar berita dari sejak siang–dari sejak Beni selesai mengantarkan Irma pulang. Info terakhir yang Beni ketahui, Madam Suzan sedang sibuk, dan acara baru akan selesai sore hari.
Setelah malam, sudah entah untuk yang keberapa kali Beni menghubungi ponsel istrinya. Mengherankan karena tidak ada nada sambung sama sekali. Ponsel Madam Suzan tidak aktif hingga sekarang.
Beni membanting ponselnya ke atas ranjang–merasa sakit hati karena dipermainkan. Ia tidak suka dihindari di saat ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Apa wanita memang selalu menyepelekan hal penting seperti telepon yang harus selalu aktif ketika jauh dari pasangan?
Sungguh, ia ingin mengakhiri kegilaan istrinya dan membuat wanita itu mengakui semua kesalahannya saat ini juga. Dengan demikian, mungkin Beni bisa memaafkan dan mereka bisa melanjutkan bahtera rumah tangga yang mulai kehilangan kepercayaan.
Jujur saja, otak waras Beni dalam kebimbangan yang amat sangat. Ia emosional karena berpikir tidak akan mudah menceraikan Madam Suzan, lalu kembali lagi ke Irma tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Ia masih memiliki hati. Rasanya tidak etis saja jika pernikahan menjadi mainan untuknya, Irma dan Madam Suzan. Apalagi usia pernikahannya dengan Sang Madam baru seumur panenan kangkung–empat puluh hari.
Beni membaringkan tubuh di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan raut runyam. Menyadari hidupnya yang semua sangat bahagia bersama Irma dan anak-anak terenggut oleh kehadiran Madam Suzan.
Begitupun sebaliknya, rumah tangganya bersama Madam Suzan–yang bahagia, hangat dan sarat tantangan dalam hubungan percintaan, sekarang ada di ambang kehancuran.
Beni mengusap kasar wajahnya, menggeram marah pada ruang kosong. "Dimana kamu, Suzan?"
"Kamu harus bisa memberikan penjelasan yang memuaskan kalau tidak ingin melihatku marah!"
Suara dering telepon yang ditunggu akhirnya terdengar, Beni sigap menyambar ponselnya. Lega karena akhirnya Madam Suzan menghubungi.
Tapi lagi-lagi kelegaan yang baru saja dirasakan Beni harus terampas dalam hitungan detik. Penelpon itu dari rumah sakit, mengabarkan kalau istrinya kecelakaan dan sedang dalam perawatan. Pihak rumah sakit meminta ia agar segera datang untuk mengurus administrasi atas nama Madam Suzan.
Beni tergopoh-gopoh menyiapkan semua kebutuhan Madam Suzan, ia langsung meluncur ke rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari kota tinggalnya. Rupanya kecelakaan terjadi saat siang, di kisaran waktu Beni mengantar Irma berobat ke dukun milenial. Pantas saja jika ponsel istrinya tidak bisa dihubungi sampai malam.
Tiga jam kemudian, Beni menyusuri lorong rumah sakit dalam sunyi. Masih belum subuh, sehingga aktivitas di dalam rumah sakit masih cukup sepi.
Hal pertama yang dilihat Beni di ruang perawatan adalah istrinya yang terbaring mengenaskan. Kaki dan tangan Madam Suzan bagian kanan terbungkus perban seperti mumi. Rambutnya gundul dengan beberapa jahitan di kepala bagian kanan–yang juga tertutup perban.
Suster jaga lah yang menginformasikan semua kondisi Madam Suzan ketika Beni baru saja datang. Ia melengkapi administrasi yang diminta suster jaga sebelum bertanya dimana istrinya dirawat.
Di kamar pasien, dengan situasi madam Suzan yang demikian parah, entah mengapa Beni tidak merasakan empati berlebihan. Ia melihat istrinya dengan ekspresi lelah dan kurang peduli. Beni bahkan tak langsung mendatangi dan menyentuh Madam Suzan–untuk membangunkannya dan memberitahukan kedatangannya.
Beni justru membuka nakas di samping brankar pasien, mencari tas tangan mahal berwarna hitam yang selalu dibawa kemana-mana oleh istrinya. Beni keluar ruangan, duduk di bangku tunggu depan kamar. Ia tergesa membongkar tas Madam Suzan, mengeluarkan semua isinya hingga menemukan kantong kain berwarna hitam yang sepertinya berisi tumpukan kartu.
Beni menggenggam sekali lagi bungkusan kain itu, memastikan dari luar sebelum akhirnya membukanya. Bau dupa menguar ketika Beni mengeluarkan isi kantong kain tersebut. Bau yang persis sama dengan dupa yang ia temukan di dalam kamar salon.
__ADS_1
“Kartu ceki! Apa kartu ini yang dimaksud mas dukun tadi? Fiuhhh … aromanya benar-benar mistis,” gumam Beni sembari mendekatkan kartu ceki ke hidung–menghirup baunya.
Dengan cekatan, Beni memasukkan kartu itu ke dalam kantong kain lagi dan menyimpannya ke saku celana. Ia membereskan kembali tas istrinya dan buru-buru masuk kamar untuk meletakkannya di dalam nakas seperti semula.
Beni memperhatikan wajah istrinya, lalu bermonolog, “Sepertinya Suzan masih dalam pengaruh obat bius setelah operasi patah tulang, jadi meski aku bangunkan juga bakal sulit. Lagi pula kalau dia bangun pasti mengeluhkan kaki, tangan dan kepalanya yang terluka parah, jadi mending aku istirahat saja!"
Beni merapatkan kursi duduk di samping ranjang, menyandarkan punggungnya dan berusaha beristirahat sejenak seraya menunggu istrinya bangun. Ia juga lelah dan mengantuk.
“Pak, saya periksa ibu sebentar ya…!”
Beni tergagap, tak sadar kalau istirahatnya sudah beberapa jam. “Eh, i-iya silahkan, Dok!”
Matahari telah terbit, dalam keadaan mengantuk Beni mendengarkan penjelasan dokter yang datang untuk melakukan pengecekan rutin pasien.
Ia menguap, mengucek mata lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah dokter pergi dan suster jaga mengganti infus istrinya. Beni juga pergi ke cafe rumah sakit untuk membeli kopi dan sarapan.
Di cafe, Beni menelpon Irma dan minta disambungkan pada Elz untuk memastikan temuannya. Dukun muda yang menerima beberapa foto kartu yang dikirim Beni menyatakan kalau benda itu adalah kartu ceki yang telah diritualkan.
Elz menyarankan untuk segera membakar kartu tersebut jika sudah tak dibutuhkan–agar efeknya juga cepat hilang.
Kembali dari cafe, Beni mendapati istrinya sudah bangun–sedang makan dibantu oleh suster jaga. Beni mengambil alih pekerjaan itu dan mengucapkan terima kasih.
“Iya, ini tadi cuma saya tinggal beli kopi sebentar! Maaf merepotkan!”
Madam Suzan menatap Beni dengan wajah memelas, “Mas Beni datang jam berapa?”
“Subuh!” jawab beni singkat, seraya menyuapi istrinya malas-malasan.
“Kok aku nggak dibangunin!”
“Kamu lelap sekali, aku nggak tega!”
“Mungkin efek obat bius!” Setelah beberapa sendok, Madam Suzan menggeleng, mendorong tangan Beni untuk berhenti menyuapinya. “Aku kenyang!”
Beni tak memaksa, ia spontan membantu Madam Suzan minum, lalu diam seperti patung. Enggan untuk memulai pembicaraan meski sebenarnya ingin memaki istrinya habis-habisan.
“Kok diem aja sih, Mas? Kamu marah ya sama aku?”
“Kenapa aku harus marah?” tanya Beni dingin.
__ADS_1
“Ponselku mati! Aku sibuk kemarin dan sengaja ingin membuat kejutan, biar kangen juga … jadi aku membuatmu sulit menghubungiku! Maaf ya, Sayang!”
Beni menghembuskan nafas frustasi, “Kamu memang sangat mengejutkan!”
“Kamu terkejut pas pihak rumah sakit telepon kalau aku kecelakaan?”
“Aku terkejut karena ternyata kamu banyak berbohong selama ini! Kamu menipuku ….”
Ekspresi madam Suzan seketika berubah, “Berbohong? Menipu?”
“Sebenarnya kamu ke Banyuwangi dalam rangka apa?”
“Aku kan sudah jelaskan kalau ada saudara yang hajatan ngunduh mantu, kita beberapa kali video call. Kamu tahu dengan mata kepala sendiri apa yang aku lakukan di sana, Mas!” sungut Madam Suzan tak terima.
Beni berdecak geram, “Selain itu?”
“Tidak ada! Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk, apalagi membohongimu!”
“Kamu tidak pergi ke dukun selama di sana?”
Madam Suzan menjawab yakin, “Tidak! Ke dukun? Yang bener aja, Mas! Buat apa aku ke dukun?”
“Sekarang, katakan dengan jujur apa fungsi bunga dan dupa yang aku temukan di kamar?”
“Astaga! Aku sudah jelaskan kalau kedua benda itu hanya untuk pewangi kamar, Mas Beni …! Kamu ini kenapa sih kok mendadak jadi curiga sama aku?”
“Kamu kecelakaan dalam perjalanan masuk area wisata Pulau Merah, bersama lima pria! Ada yang ingin kamu jelaskan di bagian ini?”
Madam Suzan mengulas senyum manis, “Oh lima orang itu kan saudara-saudaraku semua, Mas! Rombongan yang ikut nganter manten. Tadinya aku berangkat sama manten perempuan, setelah dia turun ya otomatis aku jadi perempuan sendiri, satu mobil sama sepupu yang mayoritas memang laki-laki. Lokasi acara memang di jalan arah Pulau Merah. Mas Beni cemburu ya?”
Beni menggeleng tak percaya dengan keterangan yang keluar dari mulut istrinya. Ia meyakini lima pria yang bersama Madam Suzan adalah dukun paguyuban yang batinnya dipanggil Elz.
Beni lalu merogoh sakunya, menunjukkan bungkusan kain hitam ke depan muka Madam Suzan. “Lalu apa fungsi kartu ceki di dalam kantong ini?”
Madam Suzan membelalakkan mata, suaranya meninggi histeris menyadari benda yang selalu ada dalam penjagaannya itu ada di tangan Beni. “Mas! Darimana kamu dapatkan itu?”
“Apa benar yang dikatakan Irma kalau kamu ini perempuan tukang lintrik?”
BERSAMBUNG….
__ADS_1
***