
Hari-hari berlalu cepat, sudah seminggu Irma hidup bersama teror mistis di waktu malam. Suara brak bruk di langit-langit kamar semakin sering terdengar dan menjadi-jadi. Bahkan, sesekali pintu rumahnya malah terbuka dan tertutup sendiri.
"Kamu semalam nggak bisa tidur lagi nduk? Lingkar hitam matamu semakin besar dan sembab?" tanya ibunya Irma yang hari itu membantu di warung.
"Iya Bu, kepalaku sampai pusing, kurang tidur. Suara-suara itu beneran bikin aku takut! Aku kalau harus melekan terus tiap malam apa kuat, Bu?"
Ibu Irma memberikan nasehat, "Dilawan to nduk! Caranya dengan mengabaikan suara-suara itu. Bisa jadi suara itu kan dari tikus yang lari-lari di plafon! Ibu malah takut kalau ada ular yang bersarang di langit-langit rumah kamu! Apa perlu ibu panggilkan tukang buat periksa?"
"Aku yakin bukan tikus atau ular, suaranya beda, kalau ular atau tikus pasti ada bunyi suara hewannya. Ada desis atau cicitan tikus yang terdengar. Yang aku dengar tiap malam itu seperti pasir atau kerikil yang dilempar kasar ke atap. Kadang seperti barang jatuh. Setiap malam, hawa di rumah juga rasanya panas. Rasanya ada mata yang mengawasi kalau malam," terang Irma. Bergidik ketika membayangkan malam-malam penuh teror untuknya.
"Sabar … ini ujian berat buat kamu. Ibu yakin kamu mampu melewati semua masalah." Ibu Irma memberikan kekuatan dengan mengusap bahu putrinya. Iba pada Irma yang semakin terlihat kurus. "Apa sudah ada kabar dari suamimu, Beni?"
Irma menggeleng pelan, "Belum ada sama sekali, padahal semua syarat dan perintah dari Pak Dulah sudah aku lakukan."
"Kamu juga sudah minta bantuan Pak Dulah buat ngurangin suara-suara yang menurutmu gaib itu?"
"Sudah, semua aku lakukan sesuai perkataan Pak Dulah, tapi suara itu masih saja datang setiap malam. Cuma kadang cuma sebentar. Jujur aku mulai capek sama teror yang terus menerus begini."
"Ibu juga bingung harus bagaimana lagi, Ir! Ibu cuma bisa bantu doa supaya kamu kuat dan sabar menjalani ujian hidup."
Irma mengulas senyum tabah, "Iya Bu, aku tahu. Terima kasih, ibu sekarang jadi harus meluangkan waktu datang kesini nemenin aku jaga warung!"
Ibu Irma membalas dengan tersenyum getir, menatap kesedihan putrinya. "Lebih banyak ibadah dan berdoa ya, Nduk! Mintalah bantuan sama Gusti Yang Maha Agung!"
__ADS_1
"Iya, Bu!" tukas Irma dengan anggukan kecil.
"Untuk sementara, kalau suara di plafon tidak mengganggu langsung, biarkan saja, abaikan! Jangan terbawa emosi dan takut berlebih. Bersikaplah normal seperti tak ada apa-apa."
"Iya."
Lagi-lagi Irma menjawab dengan gamang, ia tak yakin bisa santai seperti perkataan ibunya. Menurut Irma, suara-suara itu memang ditujukan untuk mengganggu dan membuat dirinya tak nyaman.
*
*
Esoknya, Irma bangun tidur dengan perasaan galau dan sedih berlebihan. Ia meratap melankolis karena suaminya sudah benar-benar lupa arah jalan pulang. Usahanya bertanya dan meminta bantuan pada Pak Dulah nyatanya tak ada hasil.
Untuk itu, Irma dibekali syarat yang harus ditabur di depan rumah si wanita pelakor. Tujuannya agar yang sudah dimantrai Pak Dulah bisa terinjak langsung oleh Beni.
Hari ini, Irma berencana mengajak Dewi mendatangi salon yang seminggu lalu sudah diamati ketika mencari Beni. Ia juga sudah mendapat kepastian kalau salon tersebut memang milik Madam Suzan. Artinya, syarat dari Pak Dulah harus ditebar di sana agar dilangkahi oleh suaminya.
Hanya saja, Irma merasa tubuhnya lebih berat dari biasanya. Ia baru saja minum air doa dari Pak Dulah, tapi tetap saja kakinya tetasa berat ketika hendak melangkah.
Irma mengeluh, kenapa selalu ada halangan ketika ia ingin mencari jalan untuk keutuhan rumah tangganya?
Sayangnya, Dewi tidak bisa menemani pergi ke Suz Salon hari ini. Jadi, Irma terpaksa berangkat sendiri setelah membuka warung. Ia menitipkan tempat usahanya pada sang ibu, karena Dina akhirnya pulang ke kampung. Adik iparnya beralasan malu jika harus tinggal dengan Irma tanpa ada Beni di rumah itu.
__ADS_1
Padahal, Irma mengatakan kalau ia tak keberatan dengan kehadiran Dina. Selain bisa membantu bergantian menunggu warung, Dina juga bisa ikut menjaga kedua keponakannya. Irma bahkan menawari Dina untuk mengambil kursus salon dan kecantikan agar bisa meneruskan usaha Beni yang terbengkalai.
Namun, Irma tidak bisa memaksa Dina untuk tetap tinggal bersamanya. Gadis itu berkeras untuk pulang kampung. Harapan Irma pupus sudah. Sebelumnya ia sempat berpikir, dengan adanya Dina di rumah, Beni mungkin akan pulang untuk bertemu adiknya.
Irma menghembuskan nafas panjang ketika mengeluarkan motor ke halaman. Ia berdoa dalam hati sebelum keluar rumah untuk mencari suaminya. Tengkuknya yang terasa berat diabaikan, Irma berusaha berpikir positif kalau tubuhnya yang terasa berat bukan karena gejala mistis. Tapi disebabkan oleh tekanan darah atau kolesterolnya yang meningkat.
Dengan mengendarai motor, Irma melaju ke arah salon yang sudah seharusnya buka karena matahari telah tinggi. Tak butuh waktu lama, Irma sudah terlihat memarkir motornya di depan salon yang masih sepi.
Irma lalu mengambil sesuatu dari tas tangannya dan pura-pura menjatuhkan dompet di depan pintu masuk, agar bisa membuang syarat dari Pak Dulah. Pasir dalam bungkusan kertas yang dijatuhkan Irma tersebar berserakan tepat di depan pintu masuk salon.
Begitu selesai, Irma langsung masuk ke dalam salon seperti pelanggan pada umumnya. Ia disambut ramah oleh seorang hair stylist wanita yang sedang mengelap cermin. Sepertinya, Suz Salon belum benar-benar buka karena belum banyak pegawai yang datang. Kondisi salon juga belum rapi maksimal.
“Ibu mau perawatan rambut, wajah atau kulit?” tanya si hair stylist dengan seulas senyum cantik.
Irma menunjuk pada seorang pria yang sedang membereskan area untuk cuci rambut. Pria itu bergerak gesit untuk menata aneka shampo dan conditioner yang akan digunakan hari itu.
“Saya datang untuk bertemu suami saya, Beni!” ucap Irma tegas.
“Mas Beni suami ibu?” Hair stylist menatap Irma skeptis dari atas sampai ke bawah. Irma hanya memakai baju rumahan longgar dan bersandal jepit. Daripada disebut istri Beni, Irma lebih cocok dianggap sebagai pembantu rumah tangga.
Mendengar namanya disebut, Beni menoleh ke arah Irma. Ia menatap kosong, seolah Irma bukanlah siapa-siapa baginya. “Irma, kamu ngapain kesini?”
Irma belum sempat menjawab ketika satu suara menyahut dari tangga, bersamaan dengan ketukan hak sepatu yang semakin nyaring terdengar. “Tolong ya mbak … jangan ngaku-ngaku kalau kamu istri Beni lagi! Kamu sudah diceraikan seminggu yang lalu, dan Beni sekarang adalah suami aku, kami sudah menikah!”
__ADS_1
***