
Gelap semakin merangkak naik hingga tengah malam. Toko sembako dan salon Irma sudah tutup dari tiga jam lalu. Namun, Irma belum tidur karena suaminya belum pulang.
Sebelum berangkat, Beni sudah menegaskan kalau gathering selesai jam sepuluh. Tapi acara ngobrol bebas bisa molor entah sampai jam berapa. Irma barusan mengirim pesan, mengingatkan suaminya kalau malam sudah sangat larut.
Beni membalas pesan Irma dengan menyuruh istrinya tidur lebih dulu. Irma tidak perlu menunggu karena Beni sudah membawa kunci cadangan.
“Oh jadi begitu?” gumam Irma pada dirinya sendiri.
Irma mulai paham, Beni memang merencanakan pulang lebih malam dengan sengaja membawa kunci cadangan. Sepertinya ada sesuatu yang sangat menarik perhatian suaminya hingga harus menunda jam pulang setelah acara gathering selesai.
Tak mampu menahan kantuk, Irma akhirnya tertidur dengan ponsel masih tergenggam di tangan dan beberapa jam berlalu. Ia membuka mata saat kasur di sebelahnya terasa ada yang menempati. Dari bau parfumnya, sosok yang merebahkan diri di sampingnya adalah pria yang ditunggunya dari tadi.
“Jam berapa ini, Mas? Baru pulang?” tanya Irma. Ia enggan melihat penunjuk waktu di keremangan cahaya kamar.
“Jam tiga,” jawab Beni. “Iya ini baru pulang, keasyikan ngobrol tadi, sorry!”
__ADS_1
Irma melirik kesal, “Seru banget ya acaranya?”
“Begitulah, ini malah mau ada liburan bareng buat mendekatkan tali kekeluargaan sesama orang salon,” jawab Beni sambil menguap.
Irma mendekatkan tubuhnya, memeluk rapat dengan mata setengah mengantuk. “Liburan keluarga? Aku boleh ikut?”
Beni membiarkan Irma masuk ke dalam pelukan, “Boleh, tapi waktunya masih belum ditentukan!”
“Siapa yang punya ide liburan bersama seperti itu?”
“Memangnya dia ikut turun, kok sampai dapet tip dari pelanggan?”
“Iya, mungkin karena dia cantik … makanya banyak pelanggan cowok yang ngasih tip, katanya pelanggan emang kebanyakan cowok sih!”
“Pake penglaris salonnya?” tebak Irma. Ia membuka mata untuk mengamati raut suaminya.
__ADS_1
Bukan rahasia lagi kalau pekerja salon kebanyakan menggunakan susuk kecantikan untuk memikat pelanggan pria. Kalau ia pemilik salon, biasanya malah sekalian menggunakan penglaris.
Irma dan suaminya termasuk pengusaha yang hanya mengandalkan doa tanpa campur tangan lain untuk mendapatkan customer. Mereka lebih mengedepankan pelayanan. Percaya kalau Tuhan adil, membagi rezeki bagi semua makhluk tanpa harus menggunakan cara-cara hitam.
Beni tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya memeluk Irma sambil merenung. Beni memang tidak tahu apa yang digunakan Madam Suzan untuk menjerat pelanggan salonnya. Yang jelas, wanita itu terlihat memiliki aura mistis yang sulit ditolaknya. Baik itu di media sosial atau di dunia nyata.
Wawasan Madam Suzan luas. Wanita itu anggun, ramah dan tentu saja tidak membosankan ketika diajak bicara. Sisa kecantikan di masa muda masih sangat melekat. Beni tersenyum samar mengingat obrolan mereka yang terasa lebih dekat ketika bertemu langsung di kafe tadi.
Suara Madam Suzan yang mendayu dan manja mampu menghipnotis kewarasan pria manapun. Beni bahkan terngiang-ngiang ketika wanita yang lebih tua darinya itu memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Entah memiliki maksud tertentu atau tidak, tapi Beni menyukai panggilan mesra tersebut. Sentuhan-sentuhan ringan Madam Suzan ketika mereka bercanda juga masih terasa di kulit tangannya.
Berkenalan dengan Madam Suzan di efbe, berkirim pesan, telepon dan akhirnya bertemu di kafe membuat kepala Beni berdenyut. Ia memang tidak bisa memungkiri kalau sudah menikah dan memiliki dua anak, tapi pesona Madam Suzan seperti menyihirnya. Wanita itu tak lepas sedetikpun dari memori otaknya.
Beni lalu meraba-raba tubuh istrinya, membayangkan kalau hal itu sedang dilakukannya dengan Madam Suzan. Dan hanya dengan membayangkan Madam Suzan telanjang, Beni kehilangan kendali terhadap hasratnya. Ia langsung menyerang istrinya habis-habisan sebagai pelampiasan.
***
__ADS_1