Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Mencari Bukti


__ADS_3

Kemarahan yang menggelegak tak terkendali membawa Beni bukan hanya keluar kamar, tapi juga keluar rumah Irma tanpa pamit. Ia tergesa menyalakan mesin motor dan melaju kencang ke arah salon istrinya.


Dengan tak sabar, Beni masuk ke dalam salon. Memarkir motornya asal-asalan di dalam dan menutup kembali pintu salon dengan sedikit bantingan. Bahkan, kakinya sempat menendang kursi yang biasa dipakai pelanggan salon yang menghalangi langkahnya.


Suara umpatan dan rutukan Beni memenuhi ruangan sepi tersebut. Ia menyalakan lampu untuk mendapatkan penglihatan di tangga naik. Hatinya yang panas membara seolah tak sabar ingin segera mencari sesuatu yang menjadi bahan kecurigaan Irma.


Sebelum itu, Beni lebih dulu masuk ke kamar mandi demi membuktikan kemampuan perang juniornya. Ia mengocok dirinya sendiri hingga mendapatkan kenikmatan, kepuasan dan pembuktian kalau segala sesuatunya berjalan normal.


Ia tak memiliki masalah, yang bermasalah adalah Irma. Mantan istrinya itulah yang membuatnya loyo–setidaknya itu yang ada dipikiran Beni. Bisa saja kan Irma melakukan itu untuk balas dendam padanya? Untuk memberi pelajaran karena dia sudah berselingkuh dan menceraikan Irma secara sepihak.


Apalagi Irma sekarang doyan pergi ke dukun!


"Pantas saja aku tak boleh masuk ke ruangan praktek Mbah Kancil! Aku yakin Irma melakukan sesuatu padaku karena dia benci Suzan!"


Pelepasan membuat ketegangan dan kemarahan Beni menurun drastis, dan ia merasa lebih tenang. Pikirannya yang semrawut mulai jernih.


"Mungkin dia sebenarnya yang main guna-guna, lalu menuduh Suzan agar aku segera mempercepat perceraian! Tapi tak ada salahnya aku mencari bukti yang dikatakan Irma!" kata Beni, bermonolog penuh kegamangan.


Setelah mandi ala kadarnya, Beni mulai membuka lemari Madam Suzan. Ia memilah tiap lipatan baju, memperhatikan lebih jeli apa saja yang disimpan istrinya dalam lemari.


Baju nakal aneka bentuk dan warna mendominasi lemari tersebut. Membuat Beni memikirkan wanita semok itu ketika mereka bergelut di atas ranjang asmara.


Tapi, apa yang dicarinya tak ada!


“Sial! Dimana Suzan menyimpan kartu ceki itu?”


Ya! Beni memang ingin membuktikan kalau kartu ceki yang ditemukan Irma tak lebih dari mainan semata. Tidak ada hubungannya dengan pelet pengasihan. Beni akan menanyakannya pada orang pintar jika menemukan kartu tersebut. Karena seumur-umur, ia juga tak pernah mendengar orang bisa memikat lawan jenis hanya dengan bermain kartu.


Tak menemukan apapun di dua lemari besar Madam Suzan, Beni beralih ke laci-laci nakas dekat ranjang. Ketika memeriksa, ia hanya menggeser dan memindahkan barang tanpa merusak tatanan.


Bukan tanpa alasan Beni melakukan hal demikian, ia juga tak ingin Madam Suzan curiga dengannya. Ia dipercaya untuk menjaga salon, jika kamar berantakan seperti baru saja kemalingan … bukan mustahil istrinya akan hilang kepercayaan padanya.


“Kartu ceki, kamu dimana?” tanya Beni dalam gumaman. Kesabarannya nyaris habis karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di laci penyimpan barang pribadi Madam Suzan.


“Sial, sial, sial!” Beni melempar vibrator–salah satu benda nakal koleksi istrinya ke atas ranjang. Bukannya menemukan kartu ceki, ia malah menemukan berbagai jenis segs toys di laci paling bawah nakas.

__ADS_1


Hanya tersisa satu laci yang belum beni periksa, tapi diurungkan sementara karena ponselnya berdering beberapa kali. Fokusnya terganggu, sehingga ia memilih untuk menerima panggilan video dari istrinya lebih dulu.


Beni merebahkan diri ke atas ranjang, masih bertelanjang dada ketika menggeser icon panggilan ke mode terima. “Halo sayang ….”


[“Mas Beni, aku kangen!”]


Penampilan madam Suzan dalam layar gawainya sungguh membuat Beni blingsatan. Ia ingin memakan wanita yang menggodanya dengan pakaian mini merah muda transparan. Mencetak dua puncak dengan warna kecoklatan yang membayang nyata di baliknya.


“Kamu kapan pulang, Sayang?”


[“Dua hari lagi ya, Mas? Aku beneran sibuk banget besok!”]


“Duh lama banget sih!” Beni mengeluh, ia menjauhkan ponselnya hingga menampakkan dada, perut dan bagian bawahnya yang dikeluarkan dengan sengaja karena tegak tertantang.


Madam Suzan terkikik, “Kesepian ya, Mas?”


“Sangat! Dingin banget di sini nggak ada kamu!”


[“Mau aku panasin?”]


Beni berdecak kesal, “Jangan deh, apa enaknya main sendiri. Aku tunggu kamu pulang aja biar numpuk kangennya!”


“Kalau aku nggak tergoda, ben-jun nggak mungkin bangun, Sayang! Tapi aku memang lagi capek, ngantuk juga!”


[“Mas Beni mau tidur sekarang?”]


Ditanya seperti itu, Beni sengaja menguap lebar. “Iya, sepet mata. Kamu cepet pulang dong, aku stress kalau jauh dari kamu!”


Sejujurnya Beni masih ingin mengobrol dengan Madam Suzan–wanita yang tak pernah lepas dari pikirannya meskipun sedang jauh. Tapi rasa penasaran atas ucapan Irma mengenai kartu lintrik membuat nalarnya mampu menunda rasa rindu.


Beni berusaha menyudahi sambungan video itu meski sang istri terus merayunya dengan berbagai pemandangan erotis.


[“Mas Beni serius nggak mau? Seru loh ini, kita 'kan nggak pernah jauhan, Mas! Jadi mencoba hal baru apa salahnya? Pasti sensasinya bakal beda walaupun kita sama-sama main solo!”]


“Aku beneran butuh tidur, Sayang! Kepalaku pusing bener,” tolak Beni seraya memejamkan mata. Enggan melihat dua bukit kembar yang sedang dipelintir ujungnya oleh sang istri.

__ADS_1


[“Ih sebel! Mas Beni nggak seru!”] Madam Suzan mencebikkan bibirnya seksi.


Beni terkekeh, “Maaf ya, Sayangku! Aku janji kalau kamu pulang cepet bakal jadi tawananmu selama 24 jam!”


[“Aku borgol?”] tanya Madam Suzan nakal.


“Oke, siapa takut?”


[“Mata ditutup!”]


“Boleh juga!”


[“Aku cambuk?”]


“Iya sayangku! Udah dulu ya?!”


[“Hem ya udah, tidurlah! Aku mau mandi! Miss you, Mas Beni!”]


"Miss you too, Honey!" Beni menutup telepon, lalu melompat turun untuk memeriksa laci kembali. Kali ini tanpa tergesa-gesa agar tidak melewatkan apapun yang bisa mendukung segala kecurigaan Irma.


Setelah beberapa waktu, Beni memang tidak menemukan kartu ceki yang dipakai Madam Suzan untuk melintrik seperti yang dituduhkan Irma. Tapi ia menemukan bungkusan berbau wangi menyengat.


Beni membukanya, mengeluarkan isi dari bungkusan di tangannya. Empat buah benda sebesar ruas jari tangan, berbentuk kerucut berwarna coklat pekat. Ia mendekatkan benda tersebut ke hidungnya, lalu membaca tulisan yang ada pada bungkusnya.


“Dupa cendana? Untuk apa Suzan menyimpan dupa? Apa dia juga suka pergi ke dukun? Dupa ini mungkin untuk melariskan salon … tapi kenapa disimpan di dalam kamar?”


Beni membongkar laci terakhir lebih teliti, membuka tiap kotak atau bungkusan yang ada di sana. “Banyak banget bekas bunga kering di laci ini! Sampah kok disimpen?!”


Meski demikian, Beni tidak memindahkan, mengambil apalagi membuang segala sesuatu yang menurutnya tak berguna itu. Ia justru merapikan kembali setelah tau isinya.


Sebuah amplop merah yang berada di bawah tumpukan kertas menarik perhatian Beni. Ia segera mengambil dan membukanya. Beberapa lembar foto ditumpuk dan diikat benang merah dalam posisi saling terbalik sehingga tidak bisa langsung dilihat gambarnya.


Beni mengurai benangnya, lalu membalik semua foto yang sudah terlepas dari ikatan tersebut. “Tujuh lembar fotoku? Ini semua yang ada di efbe kalau tak salah. Hem … ternyata Suzan diam-diam mengoleksi gambarku hehehe! Dasar istri nakal, selalu ada saja tingkahnya buat cari perhatianku! Awas saja pulang nanti!”


Yeah, Beni mendadak amnesia kalau ia berniat bercerai dengan Madam Suzan. Wanita itu terlalu mempesona untuk ditinggalkan!

__ADS_1


BERSAMBUNG ….


***


__ADS_2