
Setelah percintaan panas dini hari, sikap Beni pada Irma tidak lagi hangat. Penyebabnya, Irma tidak sengaja mendengar lenguhan suaminya menyebut nama wanita lain. Tidak begitu jelas memang, tapi cukup membuat Irma kehilangan hasrat saat itu juga.
Irma sempat menyindir dan bertanya apakah suaminya sedang memikirkan orang lain ketika menyentuhnya? Beni menutupi kesalahannya dengan mengatakan kalau ia sedang berpikir bagaimana caranya agar salon mereka bisa ramai seperti salon Madam Suzan.
Beni minta maaf karena tidak fokus pada percintaan. Obrolan dengan sesama pengusaha salon membebaninya. Alasan tersebut dianggap Irma terlalu klise. Iben Salon yang dikelola suaminya tidak bisa dibilang kecil, hanya saja lokasinya kurang strategis karena hanya berada di pinggir jalan kampung.
Langganan yang datang ke Iben Salon rata-rata adalah tetangga dan teman-teman Irma dan Beni. Tidak sepi juga, tapi memang tidak bisa dibandingkan dengan salon di luar yang dikelola secara mewah.
Mendengar kalau salon milik Madam Suzan banyak pelanggan pria saja sudah membuat pikiran Irma tak karuan. Ia mulai menebak kalau Madam Suzan mungkin mengelola salon plus. Irma tetap menyimpan rasa penasarannya, tapi bukan berarti ia tidak akan mencari tahu mengenai wanita tersebut.
Hari menjelang sore, kesibukan salon terhenti karena Dila libur. Beni beralasan lelah dan kurang tidur sehingga menutup salon lebih cepat. Ia tidak mungkin menyuruh adiknya, yang tidak berpengalaman untuk menunggu salon.
“Masker sama obat pelurus rambut habis, aku mau keluar belanja!” Beni menghampiri Irma di warung. Ia tidak menunggu istrinya menjawab.
Beni berjalan kaki pulang ke rumah yang tak jauh dari salon, kembali dua puluh menit kemudian sudah dengan pakaian rapi. Setelan yang menurut Irma kurang cocok untuk pergi berbelanja kebutuhan salon. Lebih tepat jika dikatakan tampilan Beni seperti bujangan yang mau berangkat kencan.
Bau wangi tercium dari tubuh Beni, perpaduan antara aroma sabun dan parfum segar. Beni mengambil helm di dalam warung sembako tanpa menyapa istrinya yang menatapnya dengan ekspresi heran.
“Kamu serius mau belanja, Mas? Tadi bilangnya capek,” tanya Irma.
Beni menjawab datar, “Memangnya mau kemana lagi? Aku udah bilang kalau kebutuhan perawatan rambut banyak yang habis! Buat besok nggak ada stok.”
Melihat suaminya moody, Irma berbicara lembut, “Kenapa nggak malem aja belinya? Sekalian aku juga mau ke grosir telur untuk nambah stok warung! Mas Beni tidur aja dulu!”
“Butuh telur tinggal telepon, sejak kapan harus datang ke grosirnya?” tanya Beni tak peduli. “Kebutuhan pokok warung kamu semua bisa dilakukan dari rumah, biasanya juga begitu!”
__ADS_1
Irma mengernyit mendengar kalimat Beni yang menekan di dua kata kepemilikan. “Warung aku?”
“Iya, aku nggak pernah ikut campur urusan warung, kan? Semua duit warung juga kamu yang pegang! Kamu mana tau kalau salonku butuh suntikan dana buat nambah alat perawatan kecantikan sama karyawan!” jawab Beni santai tapi terkesan sinis. "Tiap mau nambah kebutuhan salon selalu saja uangnya nggak ada!"
Irma tersulut emosi, “Kenapa jadi bahas masalah uangku uangmu? Kalau Mas beni memang butuh membesarkan salon, menambah alat bisa kita bicarakan baik-baik, nggak perlu nyindir begini. Kapan aku nggak transparan soal uang penghasilan warung sama salon? Kok sekarang ngomongnya nggak enak bener!”
“Faktanya begitu!”
“Mas, duit yang kita kumpulin bisa dilihat hasilnya. Kita tidur di atap yang sama, rumah dari hasil usaha ini, rumah yang jadi tempat berteduh anak-anak!” Irma setengah menaikkan nada bicaranya.
Beni menimpali santai, “Aku nggak merasa bangga dengan pencapaian kecil itu, rumah kita cuma hasil renovasi punya ibu kamu!”
"Astaga … bedanya dimana, Mas? Rumah itu diberikan ibu sama aku dengan pembagian adil. Adik sama kakakku sudah dapat jatah masing-masing. Ibu juga nggak tinggal sama kita, apa masih kurang enak?”
“Kita belum selesai bicara. Jangan bikin aku nggak enak hati karena pembahasan tanggung begini!” Irma menatap raut aneh suaminya dengan lebih jeli, “Teman siapa, yang mana?”
Ah, Irma sempat bangga kalau Beni adalah tipe suami rumahan. Menjalankan usaha di dekat tempat tinggal mereka membuatnya tak perlu khawatir dengan pergaulan suami. Terlebih Beni bukan orang yang suka keluar untuk nongkrong dengan teman.
Beni yang tampan tidak perlu dijaga ketat karena terhitung pendiam dan tidak banyak teman. Jadi, cukup mencengangkan kalau mendadak beni mengatakan akan mengunjungi seorang teman.
“Kita bahas nanti lagi soal kebutuhan salon. Temanku … ya salah satu yang kemarin ikut acara di kafe. Mau ngobrolin prospek klinik kecantikan!”
“Madam Suzan?” tuduh Irma. Bukan tanpa alasan Irma bertanya demikian. Dari sekian banyak teman yang ikut dalam acara ngopi bersama di kafe kemarin malam, hanya Madam Suzan yang diceritakan Beni paling antusias. Cerita juga dibumbui dengan ekspresi kagum dan memuja.
“Bukan, kamu nggak kenal. aku terangin juga percuma!” jawab Beni dengan wajah masam.
__ADS_1
Irma tersenyum kecut, “Madam Suzan salonnya di mana sih? Penasaran serame apa tempatnya! Dia punya klinik kecantikan?”
“Ini beda orang!” Beni tak menjawab jujur, tapi langsung pergi menuju motornya. Irma mengelus dada, sepertinya ia harus bertindak cepat sebelum semua terlambat.
Irma menyusul Beni, berusaha menyelesaikan keributan kecil yang sedang terjadi. “Dalam satu hari teman kamu jadi banyak banget, Mas. Boleh aku tau nama klinik kecantikan temenmu itu dimana? Mungkin temanku ada yang berlangganan perawatan di sana. Aku ngomong begini juga bantu cari informasi yang berguna buat salon kita.”
Kebutuhan kecantikan istri zaman sekarang memang hampir bersaing dengan kebutuhan wanita terhadap beras dan bahan pokok lainnya. Klinik kecantikan menjamur dimana-mana, dilengkapi dengan penjualan skincare berbagai merk dan rupa.
Sangat wajar jika Beni ingin menguasai kebutuhan pokok bagi kecantikan wanita itu. Salonnya yang hanya berkutat dengan rambut dan perawatannya semakin kalah bersaing.
Irma menghembuskan nafas panjang-panjang. Ia tidak bermaksud menekan suaminya dengan pertanyaan yang sifatnya mengintimidasi, Irma hanya ingin membantu keruwetan pikiran suaminya.
Sebagai istri, Irma sudah mendukung penuh semua usaha Beni. Tempat untuk salon sampai pernak pernik isinya adalah hasil dari tabungan Irma sebelum menikah. Sebagian dibantu orang tuanya yang cukup berada.
Beni yang berasal dari luar kota, yang menikahinya hanya bermodal keahlian kerja di salon tidak pernah direndahkannya. Irma mencintai suaminya, tidak pernah berhitung berapa jumlah uang yang dihasilkan Beni untuk keluarga. Tidak pernah membahas apa yang dibawa Beni ketika melamarnya. Toh ia masih punya penghasilan sendiri.
Namun, sikap Beni yang tiba-tiba berubah dan mendadak perhitungan soal uang membuat Irma berpikir jauh.
Irma memegang lengan Beni yang sudah ada di atas motor untuk menenangkan.
“Mas … bisa nggak sih kita ngomong baik-baik dulu? Lagian toko perlengkapan salon buka sampai malam, kan? Mas Beni juga belum makan dari siang. Kita beli bakso aja dulu yuk, berdua aja biar bisa ngobrol!” rayu Irma dengan seulas senyum manis.
Beni menyalakan mesin motor, “Kamu kalau mau makan bakso, berangkat aja sama anak-anak!”
***
__ADS_1