
Irma jatuh terkapar di lantai dan hilang kesadaran. Ia membuka mata setelah satu menit pingsan. Tubuhnya lemas tak bertenaga dan remuk redam melebihi lelahnya orang yang bekerja seharian. Tapi … meski letih tak berdaya, Irma merasa tubuhnya lebih ringan. Tak seberat ketika ada macan dan gagak yang bersarang dalam badan.
Makhluk-makhluk yang merupakan manifestasi dari jin kafir itu sudah keluar dari badannya. Irma spontan mengeluarkan air mata, menangis. “Pak Dulah … saya kenapa?”
“Bu Irma dikirimi makhluk gaib jahat oleh seseorang,” jawab Pak Dulah. Ekspresinya lebih tenang dari sebelumnya.
“Siapa yang melakukan ini pada saya, Pak?” tanya Irma seraya menyeka air mata yang mulai menetes.
“Saya tidak tau, Bu! Makhluk halus yang keluar dari tubuh Bu Irma tidak ada yang mau mengaku ketika saya tanya,” jawab Pak Dulah sambil mengulurkan air mineral dalam botol. Air yang sudah didoakan.
Irma meneguk air mineral dari botol beberapa kali, ia kehausan. Energinya terkuras habis untuk melawan dua makhluk yang berusaha menguasai tubuhnya. Air yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya seolah menjadi energi pengganti. Irma merasa sedikit segar dan bertenaga.
Dewi mendekati Irma, menuntun untuk keluar ruang pengobatan dan duduk di ruang tamu. “Aku takut banget lihat mbak kayak tadi.”
“Aku malah bingung, Wi! Kok bisa aku tiba-tiba dikuasai setan. Masa iya aku disantet? Siapa yang tega melakukan hal keji seperti itu ya, Wi?” Irma menatap sahabatnya dengan ekspresi heran.
Irma merasa tak memiliki musuh atau pernah berbuat tidak baik pada orang. Selama beberapa tahun terakhir, hidupnya juga normal-normal saja. Satu-satunya hal yang tidak normal hanya hubungannya dengan Beni yang kian memburuk tanpa sebab.
__ADS_1
“Apa mungkin yang mengirim santet adalah wanita yang melintrik suami saya, Pak?” tanya Irma berasumsi. Ia menyerahkan kartu ceki yang disimpannya dalam tas.
“Saya tidak bisa memastikannya, Bu! Menurut saya, ibu tidak usah menduga-duga. Lebih baik Bu Irma fokus untuk membuat suami kembali bersatu dengan keluarga. Jangan lupa air doa dan rajah yang saya berikan dipergunakan dengan baik! Yang ibu minum barusan adalah air doa khusus untuk Bu Irma, bisa dipenuhi lagi nanti di rumah dengan air minum biasa,” ujar Pak Dulah menenangkan. Kartu ceki yang dijadikan buhul untuk meletakkan jin pengganggu digenggamnya erat, lalu dibakar di atas asbak.
"Bagaimana kalau suami saya tidak pulang, Pak? Otomatis air doa dan rajah ini tidak berguna!" ujar Irma bimbang.
"Sudah jadi tugas saya untuk memanggil suami ibu agar pulang, ibu tunggu di rumah saja sambil berdoa! Kalau sudah pulang, jangan lupa berikan air mineral yang sudah saya mantrai itu!"
"Baik, Pak!"
Beruntung, Irma tinggal tidak jauh dari kakak dan orang tuanya. Ia menitipkan kedua anaknya terlebih dulu agar bisa beristirahat dan berpikir jernih setelah bangun nanti.
Dua jam berikutnya, Irma merasa tubuhnya lebih ringan setelah beristirahat. Ia akhirnya menghabiskan waktu dengan kedua anaknya. Makan di luar dan bermain game di pusat perbelanjaan hingga sore. Mereka sampai rumah menjelang pergantian waktu siang menuju malam.
Akhirnya, cahaya mentari benar-benar hilang di batas cakrawala. Irma termangu di ruang tamu setelah beribadah, harap-harap cemas menunggu kedatangan suaminya.
Tidak ada kabar apapun dari Beni. Suaminya itu masih tidak mau dihubungi olehnya meski nomor ponselnya aktif. Panggilan Irma berkali-kali ditolak dan diabaikan.
__ADS_1
Firasat Irma memburuk seiring waktu bergulir, tanpa sadar ia sudah empat jam menunggu suaminya. Irma pun mulai membuka sosial media tempat suaminya menghabiskan waktu jika di rumah. Irma membuat akun baru untuk berteman dengan suaminya. Ia menggunakan foto wanita cantik yang didapatnya dari internet.
Ternyata, akun sosial media suaminya sedang aktif. Pertemanan yang dikirim Irma diterima, salam sapa juga dibalas dengan ramah layaknya dua orang baru kenal. Irma lalu bertanya hal sepele ala-ala gadis yang sedang butuh perhatian di sosial media, dan Beni merespon positif sebagai teman baru yang menyenangkan.
Irma merasa lega dan sakit hati dalam waktu bersamaan. Lega karena bisa mengetahui kabar suaminya, sakit hati karena diabaikan sebagai istri. Ah, Irma lupa kalau ia sudah diceraikan Beni. Pria itu pasti sudah tidak menganggapnya sebagai wanita yang patut dihargai apalagi dikabari.
Irma akhirnya pamit undur diri, beralasan sudah mengantuk. Ia pergi menunaikan ibadah malam, mendoakan suaminya yang sedang kedanan perempuan lain di luar sana hingga tengah malam.
Setelah itu, Irma merebahkan badan di ranjang yang biasa dipakai bersama Beni, tapi ia tak bisa tidur. Gelisah melanda.
Irma akhirnya keluar kamar untuk bergabung dengan kedua anaknya yang sudah lelap. Udara terlalu panas malam itu, lebih dari biasanya. Kipas angin yang ada di kamar anaknya tidak bisa mengubah hawa udara dalam ruangan. Pengap.
Bulu tubuh Irma mendadak tegak dan kulitnya kaku, ada sesuatu hadir di sekitarnya tapi tidak bisa diidentifikasi oleh indera penglihatan. Setelah lengang dan senyap yang cukup menakutkan, Irma mendengar suara benda berat jatuh di langit-langit kamar anaknya.
BRUK!!!
***
__ADS_1