
Selepas Irma meninggalkan salon, Madam Suzan langsung menghampiri Beni dengan gaya manja dan sensual. Tangannya langsung melingkari pinggang Beni, sehingga aset terdepannya yang membusung membanggakan tergencet, menempel sempurna dan lekat di atas perut Beni.
Hem … soal menaklukkan pria dan kebutuhannya, Madam Suzan tidak perlu diragukan lagi. Wanita yang cukup lama mengurus bisnis salon dan apapun yang terselubung dibaliknya bisa dibilang ahli kalau cuma merayu laki-laki sejenis Beni.
Pengalamannya bergaul dengan pria-pria hidung belang menjadi modal utama untuk menyenangkan Beni seminggu ini. Yang penting, suaminya itu tidak tahu jumlah pejantan yang sudah mencicipi tubuhnya. Karena Madam Suzan enggan kalau disuruh mengingat apalagi menghitungnya.
Tapi, meski Beni tahu masa lalu Madam Suzan pun sebenarnya tidak akan menjadi masalah besar. Kekuatan pelet lintrik yang menguasai Beni tidak akan goyah! Pria dua anak itu tidak akan berpaling dari Madam Suzan dengan mudah.
“Sayang … kamu bangun pagi banget hari ini? Apa nggak capek semalem baru nganu-nganu? Sampai pagi jam tiga loh kita!” Madam Suzan mendongak untuk menatap Beni, cekikikan, lalu mengedipkan sebelah mata menggoda. “Pinggangku rasanya masih pegel semua, masih males dibawa kerja! Maunya cuma tidur-tiduran!”
Beni menjepit dagu Madam Suzan dengan jari-jarinya, lalu menunduk untuk mengecup ujung hidung wanitanya dengan penuh gejolak, “Istirahatlah lagi kalau masih capek! Biar aku yang mengurus salon hari ini.”
“Sebel, iiihhh! Aku maunya istirahat ditemenin kamu, Sayangku! Nggak ada peka-pekanya jadi suami … kita ini pengantin baru, jadi libur kerja dulu lah buat nikmati waktu bersama. Yuk naik lagi, biar anak-anak aja yang kerja!” Madam Suzan mengulas senyum memikat dan menarik tangan Beni agar mengikutinya ke lantai dua. Tempat tinggal dadakan yang hanya digunakan jika pemilik salon malas pulang ke rumahnya. Tempat yang sebelumnya sering dipakai untuk terima tamu pria yang mau membayar jasanya untuk servis 1,5 jam.
Beni serasa terbang ke awan mendapatkan perlakuan demikian. Ia benar-benar merasa muda kembali. Gairah lelakinya meledak-ledak mengiringi pikiran kotor yang terus saja hadir ketika Madam Suzan menggenggam telapak tangannya.
Wanita yang sudah dinikahinya seminggu lalu, tepat di hari ia keluar dari rumah Irma itu sukses membuatnya menjadi pejantan tangguh yang haus akan hubungan bhadan. Syahwatnya tersalurkan dengan baik ketika bersama Madam Suzan.
Beni menganggap Madam Suzan adalah wanita yang sangat mengerti kebutuhannya sebagai laki-laki yang sedang mengalami puber kedua. Masa emasnya seolah terulang, ia bahkan mampu bercinta berkali-kali dalam satu malam. Hasratnya tidak sedikitpun padam ketika bersama Sang Madam semalaman.
__ADS_1
“Kalau ke kamar lagi nanti nggak jadi istirahat!” sahut Beni pasrah karena sudah tergoda. Ia sama sekali tak menolak ketika tangannya ditarik menuju tangga.
Suara tawa nakal mereka berdua menggema di dalam salon. Mereka memang meniti tangga dengan gaya mesra. Seolah keduanya masih sangat muda dan baru saja mengenal gairah dan cinta.
“Istirahatnya nanti aja, kalau udah bener-bener capek! Tidur kalau udah nggak kuat ngapa-ngapain! Pokoknya jadwal kita hari ini … telanjhang sampai pagi lagi hihihi,” timpal Madam Suzan genit.
Kalimat nakal Madam Suzan sontak membuat Beni tergugah. Ia menatap lapar pada bokong yang bergoyang di depannya akibat gerakan naik tangga. Pusat sensasi Beni menegang sempurna ketika Madam Suzan mendadak berhenti melangkah, sehingga bongkahan shemok itu tertabrak pelan oleh Beni dari belakang. “Hah, jadi … hari ini kita bakal bu-gil seharian?”
“Iiiihhhh … kok benjun udah tegang lagi sih? Belum juga diapa-apain,” kata Madam Suzan sembari melirik perkakas Beni yang dipanggilnya benjun, alias Beni Junior.
"Gimana nggak tegang kalo di depanku pemandangannya indah banget?" Tangan beni meraba bagian belakang istrinya yang sekal, padat dan berisi. Memberikan tamparan pelan karena gemas, sekaligus memberi kode kalau ia suka digoda Madam Suzan.
"Sayang, tangan kamu nakal, bikin aku merinding gila! Yuk lah, cepetan masuk kamar … udah nggak tahan digelitikin aku!" Madam Suzan mempercepat langkahnya, tak malu dan tak peduli dengan pegawainya yang ikut tertawa geli melihat tingkah mereka.
"Sayang, kamu mau aku pake baju apa? Ada warna nude, baby pink, merah dan hitam di sini? Mau main dokter-suster? Atau main iket-iketan tali?"
"Sebenarnya aku suka kamu nggak pake apa-apa aja, sayang kalau baju susternya nanti robek seperti pas malam pertama!"
Huh, fantasi Madam Suzan semakin membuat Beni tertantang. Bagaimana ia bisa bosan dengan Madam Suzan jika selalu disuguhi permainan yang tidak pernah didapatkan dari Irma?
__ADS_1
"Sumpah, kamu garang banget malam itu, aku benar-benar suka dan langsung ketagihan! Biarpun baju kesayanganku robek, tapi aku puas banget!" Madam Suzan mulai melepaskan pakaian untuk cosplay dengan setelan maid sekshi dan transparan di bagian depan.
"Waaaoooo…!" Mata Beni melebar dengan liur hampir menetes.
"Sesion satu, kamu jadi majikan yang tersuzan-suzan sama pelayan ya, Sayang! Galak boleh, kalem boleh! Kamu bisa main perintah seenaknya, apa saja pada sang pelayan!" ujar Madam Suzan sembari merapikan tempat pakaian mini-nya tersimpan.
"Seharian bughil-bughilan begini kalo masuk angin gimana, Sayang?" Beni mendekat dan mulai mengeratkan pelukan dari belakang, sengaja berbisik di telinga Madam Suzan untuk menghembuskan gelora asmaranya.
Madam Suzan menukas, "Gampang! Nanti kita pijat-pijatan pakai lotion aroma terapi kalau sampai masuk angin! AC-nya jangan terlalu dingin biar nyaman!"
"Oke! Pijet ples-ples, kan?"
"Ya jelas kalau itu! Pijet doang apa enaknya hihihi?"
Beni menepuk bokong istrinya, lalu mengangkatnya ala bridal. "Karena kamu pelayan yang biasa menyediakan makanan, gimana kalau aku menikmati hidangan yang kamu sajikan dengan tambahan madu?"
"Hihihi, boleh! Madu ada di laci nomer dua," jawab Madam Suzan sembari menunjuk lemari perlengkapan salon dengan memonyongkan bibirnya.
"Mau 4646-nya pake gaya, Sayang?"
__ADS_1
"Mulai dari 54 … selanjutnya terserah majikan!"
***