
Keluar kamar mandi, wajah Beni tampak sumringah, puas dan bahagia. Senyuman kecil terulas ketika menghampiri Madam Suzan yang sedang menyiapkan makan malam.
"Kok senyum-senyum, Mas?" tanya Madam Suzan heran–sekaligus senang karena ekspresi Beni yang terlihat lapar ketika melihat dirinya.
"Mana makanku?"
"Ini sayangku! Makan yang banyak biar kuat hihihi …."
Beni menaikkan sebelah alisnya, agak malas menanggapi godaan istrinya. Ia memang lapar, tapi dalam arti yang sebenarnya. Bukan lapar kategori lain. Untuk yang satu itu, ia sedikit terobati dengan permainannya sendiri di kamar mandi.
Beberapa saat berlalu, mereka berdua makan dengan tenang diselingi obrolan ringan tentang pendapatan salon yang sedikit menurun.
"Aku mau main skincare merk baru, Mas! Yang ada kandungan propolis, kebetulan ada temenku yang jadi agensinya. Dia juga punya beberapa BA (Beauty Advisor) di toko kosmetiknya–gede sih memang. Aku mau minta bantu dikasih satu BA skincare itu untuk ditempatkan di sini, trus aku buatkan tempat terpisah untuk penjualan produknya. Jadi ruang ini kan luas … disekat aja, buatkan pintu sendiri dari luar. Gimana?"
"Hem, bagus juga! Salon sebelahan sama toko kecantikan. Brilian itu!"
Madam Suzan menambahkan, "Nanti aku cari produk skincare lain buat pilihan. Awal mungkin butuh tiga macam cukup, sisanya bisa dipenuhi dengan pernak pernik penunjangnya. Mas Beni nanti urus salon ini aja, biar aku yang urus toko kecantikan!"
"Hmmp … ho-hoek-ek!" Beni berhenti mengunyah, lalu membuang sisa makanan di dalam mulutnya ke plastik bekas bungkus nasi.
Selera makan Beni mendadak surut di pertengahan–mual melanda. Piringnya masih menyisakan setengah bagian, masih cukup banyak untuk dibuang. Entah mengapa ayam penyet pesanan istrinya tiba-tiba tidak enak–tidak pas di lidah dan membuatnya ingin muntah.
Dengan ekspresi tak bersalah di depan istrinya, Beni diam-diam teringat ayam goreng buatan Irma, sayur sop dan sambal terasi yang sering dinikmati saat sarapan.
Huh, terkenang mantan memang bukan hal yang menyenangkan! Apalagi jika mantan itu ibu dari kedua anaknya.
"Kok nggak habis makannya, Sayang? Tumben," ujar Madam Suzan, memperhatikan Beni yang dilanda gelisah–mengusap wajah seperti orang frustasi. "Ini beli di tempat biasa kok, Mas! Yang katamu enak itu. Ada yang bikin eneg?"
"Iya aku tau ini ayam penyet langganan! Cuma perutku kurang enak, pegah, mual juga!"
"Mas masuk angin, mungkin! Mandinya lama banget sih! Ya udah nggak usah dimakan lagi, aku buatkan teh anget ya?!”
"Nggak perlu, mau tiduran aja kayaknya!" Beni berdiri, bersiap ke kamar, “Bener kata kamu, hari ini panas banget! Rasanya tadi enak lama-lama di kamar mandi guyuran air dingin di bawah shower.”
__ADS_1
“Aku buang ya ini kalau udah nggak dimakan lagi?” Madam Suzan membereskan makanan sembari memperhatikan Beni yang mulai naik tangga. “Aku kerokin abis gini!”
“Hm, buang aja!” jawab Beni singkat. Masih tak habis pikir kenapa mendadak ada mual seperti saat di depan salon tadi. “Nggak usah dikerok, bentar lagi juga enakan!”
Madam Suzan menimpali “Tunggu di atas, aku cuci tangan bentar. Nanti aku gosok minyak kayu putih sama pijat kalau tak mau kerokan!”
“Oke!” Beni menurut, menepis perasaan tak nyaman yang tak bisa dicerna. Dirinya sedang tak masuk angin tapi alangkah baiknya membiarkan istrinya merawatnya di kamar, dengan berbagai cara agar mualnya segera mereda.
Acara pijat-pijatan dilakukan sambil bercanda. Beni dipaksa tanpa busana agar istrinya mudah mengurut seluruh badannya.
Anehnya, apapun yang dilakukan Madam Suzan pada Beni, justru membuat pria itu semakin terkenang dengan mantan istrinya–Irma. Memori dan ingatannya yang rusak seolah kembali, kalau Irma juga sering kali melakukan hal yang sama persis dengan Madam Suzan ketika merawatnya jika sedang drop.
Namun, pijatan profesional ala Madam Suzan yang menggoda kelelakian Beni tetap tak bisa ditolak! Bukan hanya pijatan saja, tapi segala sesuatu yang menjurus ke urusan romantisme dan erotika.
Mungkin itulah satu-satunya yang membedakan mantan istri dan istri. Madam Suzan jauh lebih pintar membangkitkan gairahnya setiap hari dengan berbagai cara. Bahkan saat kondisinya sedang tidak mood atau kurang sehat sekalipun–seperti sekarang.
Huh, lagi pula laki-laki mana yang bisa menolak jurus pijat ‘petik mangga’ andalan Madam Suzan? Dalam situasi kepala Beni sedang rumit karena terkenang mantan, Madam Suzan justru menambah kepala bawah jadi ikut cenut-cenut tak tahan.
Madam Suzan cekikikan melihat suaminya menggeliat gelisah. Ia lalu memaksa Beni untuk telentang, setelah merasakan kemaskulinan yang disentuhnya menegang minta dimanjakan. “Hihihi … kamu tuh cepet banget bangunnya loh, Mas!”
“Mau main bajak laut nggak? Aku udah beli peralatannya loh, Mas!” bisik Madam Suzan nakal, sambil melucuti seluruh pakaiannya.
Beni menggeleng, “Simpan buat malam Minggu aja ya, Sayang?! Sekarang lagi kurang mood main lama. Aku capek … mau tidur agak cepet malam ini!”
“Ya udah, mas santai aja biar aku yang ngedan hihihi! Nanti kalau udah keluar … 'kan langsung nyenyak tidur!” kata Madam Suzan dibarengi suara cekikikan nakalnya.
Setelah memastikan kalau wanita yang bergerak e r o t i s di atas tubuhnya adalah istrinya, Beni memejamkan mata agar bisa fokus dan segera mendapatkan pelepasan.
Namun, begitu kegelapan muncul dalam kelopak mata yang menutup, seraut wajah Irma mengganggu konsentrasi Beni.
Dalam diam, Beni memaki dirinya. Kepalanya yang berat semakin pening karena guncangan pada tubuhnya. Dan semakin pening karena Irma yang ada dalam bayangannya tak pernah memiliki gaya tersebut ketika menyenangkannya.
"Mas Ben …." Madam Suzan mendesis dan terengah sendiri. Ia masih setia berjongkok, melenggokkan pinggulnya dengan seksi, indah dan liar. Twerking mode.
__ADS_1
Senyum Madam Suzan melebar, bangga melihat ekspresi Beni yang mengaruskan nikmat dan kepuasan di wajahnya. Ia baru berhenti ketika mendapatkan the big o secara bersamaan.
"I love you!"
"Love you too!" sahut Beni pelan–nyaris tak terdengar.
Beni terlelap kelelahan setelah dua kali keenakan dalam jeda waktu yang singkat. Begitu juga dengan madam Suzan yang bergelung nyenyak. Telan j a n g dalam pelukan suaminya.
Meski bisa terlelap, tapi Beni tidur dalam gelisah. Mimpinya buruk dan denyut pening di kepalanya belum berkurang. Lebih buruk lagi, ia terjaga di tengah malam karena mendengar suara halus Irma memanggil namanya.
Beni membuka mata, mengerjap beberapa kali, lalu menggeser tubuhnya yang berhimpitan dengan Madam Suzan. Ia menyelimuti istrinya yang masih terlelap sebelum turun dan memakai semua pakaiannya.
Entah setan dari mana yang membisikkan perintah dan memaksanya pulang!
Beni langsung melangkahkan kaki menuruni tangga dan mengeluarkan motor operasional toko. Ia mengunci pintu salon dari luar, lalu tergesa melajukan motornya meninggalkan tempat bernaungnya selama berpisah dari Irma.
Di kamar, Madam Suzan menggeliat malas karena pergerakan suaminya. Jujur ia masih sangat mengantuk, sehingga enggan membuka mata untuk melihat kemana Beni pergi. Kalau tidak ambil minum, mungkin suaminya membuat kopi untuk teman nonton bola. Setidaknya itu yang terpikir olehnya.
Tiba-tiba saja, Madam Suzan merasakan udara sangat pengap dan panas di dalam kamar, padahal penyejuk ruangan menyala normal. Lamat-lamat ia juga mendengar suara motor operasional salon menyala, lalu hilang dalam beberapa saat saja.
“Mas Beni?” desis Madam Suzan. Ia menyambar ponselnya untuk memeriksa cctv ketika mendapati suaminya benar tidak ada di dalam kamar. Rekaman menunjukkan Beni keluar salon tergesa-gesa.
Madam Suzan menggertakkan gigi gerahamnya. "Kamu tidak akan bisa pergi dari sini, Beni!"
Merasakan residu hawa mistis yang berseliweran di sekitarnya, Madam Suzan langsung bisa menebak kalau Beni pergi karena terpengaruh mantra pemanggil sukma seorang dukun. Suaminya itu pasti pulang ke rumah mantan istrinya! Huh, enak saja!
Sebagai wanita yang bisa menggunakan pelet pengasihan dengan metode lintrik, Madam Suzan tak terlalu heran kalau suaminya pulang lagi ke rumah mantan istrinya. Beni adalah orang yang lemah secara ruhaniah. Mudah terpedaya oleh mantra apa saja yang menyerang tubuhnya.
Madam Suzan beranjak dari ranjang, memakai baju ala kadarnya. Ia mengirim pesan pada dukun kepercayaan lebih dulu. Setelah itu, Madam Suzan membuka laci nakas untuk mengambil kartu ceki dan dupa.
Lima menit kemudian, bau wangi dupa semerbak di dalam kamar yang baru saja dipakai b e r c i n t a Madam Suzan dan suami colongannya.
Dan si wanita pelintrik itu fokus memainkan kartu-kartu ceki yang ada di tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ….
***