Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Perjalanan Terhoror


__ADS_3

Setelah debat kecil berakhir, mobil kembali berjalan normal. Beni mengelap keringat yang masih saja muncul di dahi. Ternyata, minuman dingin yang dibelikan Irma tidak mampu memberikan rasa nyaman pada tubuhnya yang tiba-tiba kegerahan.


Bukan hanya Beni, Irma dan Dewi juga merasakan udara di dalam mobil menjadi pengap dan menyakiti kulit. Panas bukan karena matahari, tapi oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan.


“AC mobilnya mati apa hidup ini, Mas?” tanya Irma penasaran. Ia kipas-kipas dengan tangannya untuk mendapatkan angin segar.


Beni mengatur suhu udara di dalam mobil agar lebih dingin lagi, “Ini udah mentok, harusnya dingin … kecuali AC-nya memang sedang bermasalah! Apa aku buka kaca dikit biar ada udara masuk? Pengap banget!”


Irma langsung menyetujui, “Iya turunkan kacanya dikit!”


Tidak seperti sebelumnya, mereka kali ini lebih banyak diam. Irma yang sudah familiar dengan suasana mistis seperti itu berdecak tak percaya. Tidak mungkin hal yang biasanya dirasakan malam hari sekarang sangat terasa di saat siang, hal yang tak terlalu lazim mengingat makhluk gaib berjaya di waktu malam–berkebalikan dengan manusia.


KRAK!!!


Namun, Irma tak serta merta diam ketika sesuatu menabrak kaca dengan sangat keras dari arah depan. Suara benturan diikuti retakan suara retakan kaca menegangkan suasana.


"Apa itu tadi, Ir? Kelelawar? Burung? Batu?" cerca Beni dalam kepanikan.


"Kamu juga lihat, Mas?"


"Bayangan hitam, tapi aku nggak tahu itu apa! Kenapa rasanya ada yang sengaja menakuti-nakuti kita di siang bolong begini!"


DUAR!!!


Mobil oleng parah dan akhirnya menabrak pembatas jalan, satu roda depan bahkan naik sampai ke atas trotoar.


“Apalagi ini?!” pekik Beni tegang.


“Pecah ban lagi?” tanya Irma ikut larut dalam kepanikan.


Beni langsung mematikan mesin mobil, “Ayo turun semua, kayaknya sekarang ban depan yang bermasalah! Huh, mana kaca retak, mana ban cadangan cuma satu!”


Irma memutar kepala celingukan, “Kayaknya kita jauh dari bengkel, jauh dari pemukiman warga juga. Jalan sepi ini, Mas!”


Beni memperhatikan ban mobil yang kempes, lalu melihat sekitar. “Telepon penerangan deh, Ir! Coba tanya alamat bengkel terdekat ada dimana! Kalau ada teknisi yang bisa datang kesini lebih baik lagi!”


Irma menelpon beberapa kali, mulai dari menelpon penerangan hingga menelpon nomor dua bengkel yang didapatnya. Salah satunya bersedia datang untuk mengurus kebutuhan penggantian ban mobil milik Madam Suzan.


“Perlu derek nggak, Mas?” tanya Irma di sela-sela menelpon pihak bengkel.


“Kayaknya nggak, ini masalahnya cuma ban! Mesinnya baik-baik aja kok!”


Irma menunjuk retakan depan mobil, "Kacanya?"


"Nanti aja aku bawa ke bengkel langganan Suzan!"

__ADS_1


"Oke! Teknisi segera datang! Kita disuruh nunggu dua puluh menitan."


Mereka menunggu selama lima belas menit hingga satu motor berhenti di dekat mobil. Dua teknisi datang membawa ban baru dan peralatan perbengkelan dalam kantong besar.


Beni meminta dua orang teknisi bengkel untuk segera membongkar dan mengganti dengan ban yang baru. Untung saja istrinya sudah mentransfer uang belanja kebutuhan salon, jadi bisa digunakan untuk membeli ban terlebih dulu.


Dua teknisi bekerja cekatan di depan Beni, Irma dan juga Dewi. Matahari semakin terik, membuat mereka tak sabar untuk segera melanjutkan perjalanan.


Irma berbisik ke telinga Dewi, “Gila, dalam setengah jam sudah ganti ban dua kali! Menurutmu ini aneh nggak, Wi!”


Dewi menjawab pelan, setengah mendesis. “Aneh banget, Mbak! Kayaknya ada yang menghalangi kita agar tak pernah sampai ke tempat tujuan!”


“Aku juga mikirnya begitu, drama pecah ban hingga dua kali ini terlalu kebetulan!”


Bisik-bisik Irma dan Dewi dihentikan oleh salah satu teknisi yang baru selesai melepas ban. “Mas … coba lihat ini, ban mobilnya ….”


“Kenapa, Pak?” tanya Beni antusias.


“Ada bambu tajam keluar dari dalam ban, ini yang merobek ban hingga pecah separah ini!”


“Maksudnya ban melindas bambu runcing, Pak?”


Pria empat puluh tahun berbaju biru seragam bengkel menunjukkan lebih detail dengan cara merobek ban dengan pisau, “Kalau ban melindas paku atau benda tajam apapun, sobeknya dari luar! Ini nggak masuk akal karena ada bambu runcing sepanjang lengan bayi ada di dalam ban mobil yang sedang dipakai! Mau dijelaskan dengan logika apapun, ini jelas tak masuk akal ….”


Beni terpekur, “Iya, Pak! Mustahil ada bambu di dalam ban mobil yang awalnya bisa jalan normal!


"Coba bantu cek, Pak! Apa ada bambu juga di dalam ban yang ini? Setengah jam yang lalu ban ini meletus, dan begini keadaannya!"


Sang teknisi mengernyit heran menatap ban yang kondisinya sangat tak wajar, tapi buru-buru menyimpan raut ngerinya ketika Beni memperhatikannya dengan ekspresi takut.


“Ini, Mas lihat sendiri apa yang ada di dalamnya!” Dua belah belati berkarat dikeluarkan dari dalam ban, tersembunyi di antara karet yang masih utuh.


Beni membelalakkan mata, lalu berdesis pelan, “Tidak mungkin!”


“Sepertinya ada yang ingin mengganggu … atau mencelakai penumpang mobil ini–dengan cara magis! Mas sebaiknya hati-hati, karena hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang tidak kelihatan tapi sangat jahat! Dukun ilmu hitam yang melakukannya.”


“Apa ini santet, Pak?” tanya Beni cepat. Jantungnya berdegup sangat cepat mengingat ia tak percaya dengan segala sesuatu yang berbau sihir dan perdukunan. “Tapi siapa yang ingin membuat aku celaka? Aku tidak memiliki musuh?”


“Sepertinya target orang pintar ini bukan mas-nya. Benda-benda tajam hanya ini mengenai ban mobil … mungkin tujuannya hanya menghambat perjalanan! Tapi bukan mustahil kalau salah satu dari penumpangnya adalah penyebab masalahnya!”


Beni melirik Irma dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Sungguh hatinya rumit untuk mempercayai perkataan Irma yang konon menjadi korban dalam hubungannya dengan Madam Suzan.


Ia sangsi kalau istrinya itu tega melakukan hal demikian kejam pada mantan istrinya. Mungkinkah mobil itu dihentikan dengan cara mistis seperti itu karena Madam Suzan tak ingin Irma sembuh?


Beni menyugar rambutnya frustasi. Ia membayar dan memberi tips pada dua teknisi bengkel yang telah menyelesaikan pekerjaannya tanpa mau membahas panjang kejadian misterius tersebut. “Terima kasih banyak, Pak!”

__ADS_1


Irma masuk ke dalam mobil diikuti Dewi dan terakhir Beni. Mesin mobil dihidupkan dan mulai melaju lambat menyusuri jalanan yang tidak begitu ramai.


"Ternyata kamu benar, Ir! Semua ini bukan hal yang bisa dilogika dengan akal pikiran. Teror ini sulit dipercaya! Perjalanan Terhoror yang pernah aku alami ...."


"Syukurlah kalau Mas Beni mau memahami masalah rumit ini," timpal Irma lega.


"Siapa orang yang menghalangi niat berobatmu? Jelas kalau yang melakukan semua ini bukanlah Suzan! Dia tak mungkin membahayakan nyawaku, bagaimanapun aku suaminya dan dia mencintaiku," ungkap Beni dengan ekspresi rumit.


Irma membiarkan Beni berbicara sendiri tanpa mau menanggapi lebih jauh. Orang dalam pengaruh guna-guna pengasihan memang cenderung bodoh dan buta dalam mencinta, tak terkecuali mantan suaminya itu.


Perjalanan sudah hampir berakhir. Lokasi paranormal yang menjadi tujuan semakin dekat. Namun, kehororan semakin nyata. Beni mengemudi dengan mata yang nyaris terpejam lelap karena sulitnya menahan kantuk. Mobil beberapa kali direm secara mendadak karena nyaris bersinggungan dengan kendaraan lain.


“Ini benar-benar gila! Apa ada dukun kurang kerjaan yang mengirimkan mantra tidur padaku?” gerutu Beni seraya memukul setir mobil.


Irma mengusap sabar lengan Beni, mengajaknya bicara agar mantan suaminya itu tetap konsentrasi pada jalan. “Sudah hampir sampai, Mas! Tetap fokus di jalan biar kita semua selamat sampai tujuan!”


“Dukun sakti yang kamu kunjungi ini bisa lihat siapa yang bikin ban mobil rusak nggak sih? Aku yakin rasa kantuk ini juga bukan murni dari diriku! Oh ya … apa nama ilmu yang dipakai maling buat menidurkan penghuni rumah?”


"Sirup?" tanya Irma serius, tapi kepalanya melengos melihat luar sembari mengulum tawa.


Beni menoleh ke arah Irma, "Kamu ngeledek aku?"


Dewi menyahut dari belakang, "Ilmu sirep namanya, Mas! Kalau sirup mah enaknya dibuat es hehehe!"


"Nah itu … siapa yang berani kurang ajar kirim sirep padaku? Siapa yang mau bikin kita celaka?"


“Kita tanya saja nanti sama dukunnya! Aku mana tahu sumbernya siapa! Nanti kalau aku nyebut nama Suzan, yang ada kamu ngamuk!"


"Karena memang bukan Suzan pelakunya!" sergah Beni penuh pembelaan.


"Terserah kamu saja! Eh mas … memangnya kalau sudah tahu siapa yang mau mencelakai kita, kamu mau apa?”


“Mau aku santet balik!” jawab Beni geram. Wajahnya mengeras penuh amarah dan dendam.


"Kayaknya sudah sampai!" Beni menyeringai ketika matanya melihat plakat di seberang jalan bertuliskan 'PRAKTEK PARANORMAL, ILMU GAIB DAN SUPRANATURAL'.


"Iya itu tempatnya, Mas!" seru Dewi dari belakang, menunjuk seberang jalan. "Putar baliknya di depan kata temanku!"


Beni terkekeh melihat tulisan di bawahnya, ia membaca keras-keras agar di dengar Dewi dan Irma, "Melayani penyakit medis non medis!"


Dewi menyahut, "Iya betul, Mas! Orang sakit non medis kalau dibiarkan bisa jadi sakit medis loh…!"


"Masa? Yang bener kamu kalau ngomong, jangan asal?!"


"Mas Beni tanya saja langsung ke paranormalnya nanti kalau nggak percaya!" jawab Dewi datar.

__ADS_1


***


__ADS_2