Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Tiga Bulan Kemudian


__ADS_3

Genap tiga bulan dari sejak Irma berobat ke Elz. Tidak ada masalah lagi dengan tubuhnya, semua penyakitnya menghilang entah kemana. Tidak ada bunyi brak bruk di langit-langit rumah, juga tidak ada hawa mistis yang dulu kerap menghantuinya.


Kehidupan Irma dan dua anaknya berjalan normal, warung sembako laris manis dan hasil penjualan dari outlet frozen food yang baru dua bulan dibuka sangat memuaskan.


Satu-satunya hal yang tidak berpihak pada Irma adalah keputusan Beni yang tetap menggugat cerai dirinya di pengadilan. Pria itu tidak bisa dicegah, tidak bisa diminta kembali berumah tangga dengannya karena berbagai alasan.


Irma menerima keputusan tersebut meski dengan berat hati, tapi setidaknya Beni bersedia menjamin biaya pendidikan anaknya hingga tingkat universitas.


Hari ini, Irma dan Beni telah selesai membuat perjanjian hitam di atas putih, di bawah payung hukum sebagai bentuk keseriusan. Maka dari itu, urusan Irma dengan Beni sudah sampai pada titik akhir.


Hubungan Irma dan Beni kini tak lebih dari 'mantan' suami istri.


Yah, mungkin takdir jodoh Irma dan Beni memang telah berakhir. Jadi apapun alasan Beni yang tak sepenuhnya dimengerti Irma, akhirnya diterima saja dengan lapang dada.


Di sisi lain, Beni terlalu malu untuk kembali pada Irma karena merasa bersalah–sudah berkhianat. Rasanya ia tak punya muka untuk kembali menjadi suami Irma. Selain itu, Madam Suzan tidak bisa ditinggalkan setelah kecelakaan di Banyuwangi.


Ibarat kata, karma bagi istrinya itu dibayar kontan oleh Irma saat berobat pada Elz. Beni masih meyakini kalau Elz adalah penyebab utama Madam Suzan dan lima dukun yang menjadi teman satu paguyuban kecelakaan bersama.


Jelas sudah Iima dukun yang berusaha mencelakai Irma tidak bisa buka praktek lagi karena masing-masing memiliki luka permanen. Di samping itu, Beni mendengar dari istrinya kalau lima dukun tersebut kehilangan kesaktian hingga menderita tekanan mental.


Sementara Madam Suzan tidak bisa berjalan dengan normal seperti dulu. Kakinya yang sebelah kanan mati rasa, sehingga untuk beraktivitas selalu menggunakan penyangga. Kemana-mana pun harus dibantu kursi roda. Beruntung kondisi tangannya membaik, begitu juga dengan luka di kepala.


Beni berpamitan setelah tanda tangan berkas yang diajukan Irma selesai. “Aku akan rutin menjemput anak-anak mulai minggu depan. Sesuai kesepakatan, sepulang sekolah di hari Jumat mereka akan tinggal bersamaku sampai hari Minggu. Aku akan mengantar mereka selepas magrib!”


Irma tersenyum tipis, “Oke!”


“Carilah penggantiku selagi masih muda, Ir! Maaf … aku tidak bisa menjadi suami yang baik, tidak setia sehidup semati seperti yang kuucapkan ketika meminangmu dulu!”


“Semoga kamu bahagia dengan Madam Suzan!” Hanya satu kalimat yang diucapkan mulut Irma ketika mengantarkan Beni keluar ruangan.


Beni mengangguk, lalu tersenyum masam. Ia tahu pasti kehidupan macam apa yang akan dijalani bersama Madam Suzan. Apalagi, perasaannya terhadap sang istri tidak lebih dari rasa kasihan.


Cinta yang dulu berkobar telah padam setelah empat puluh hari dari sejak ia disembuhkan–persis seperti yang Elz ramalkan. Gairah yang dulu menggebu kini juga sudah turun drastis ke titik nol.

__ADS_1


Beni bahkan tak menyentuh istrinya lagi sejak hari kecelakaan. Ia pun selalu menolak ketika Madam Suzan berusaha memberikan tubuhnya. Mengabaikan ketika sang istri menawarkan bantuan dengan tangan dan mulut untuk menuntaskan kebutuhannya. Menghindar ketika Madam Suzan merayunya dengan berbagai cara agar hubungan mereka kembali mesra.


Beni tetap dingin terhadap pesona istrinya. Hatinya seolah membatu. Ia tidak lagi terpengaruh dengan bujuk rayu dan pesona Madam Suzan. Hari-harinya selama tiga bulan lebih banyak digunakan untuk bekerja keras mengurus salon. Tujuan Beni jelas, ia ingin meluaskan bisnis kecantikan itu hingga nanti bisa memiliki beberapa cabang.


Tempat usaha Madam Suzan itu akhirnya dimiliki Beni, begitu juga dengan rumah Madam Suzan. Semua aset milik Madam Suzan berpindah tangan dan sudah dibalik nama atas nama Beni. Itulah yang menjadi alasan Beni berani menjamin masa depan kedua anaknya secara hukum.


Beni mendapatkan harta itu dengan menggadaikan dirinya pada Madam Suzan yang tak mau diceraikan. Wanita itu tak berhenti menyatakan cinta dan bersujud penuh air mata di bawah kakinya–memohon belas kasihan Beni hampir setiap hari.


Mulanya Beni bergeming, ia paham istrinya pandai bermain peran. Bahkan, kenekatan Madam Suzan yang berusaha menyakiti diri sendiri pun tak meluluhkan hati Beni. Pria itu baru mau sedikit berbaik hati setelah aset kekayaan Madam Suzan secara resmi berpindah ke tangannya.


Beni mampir ke salon untuk melihat pekerjaan karyawan sebelum pulang ke rumah. Menghabiskan waktu hingga sore sebelum acara malam.


Sebelum petang, Beni menghampiri Carla yang sedang bersiap pergi karena jam kerjanya telah habis. “Kamu langsung pulang?”


“Iya, Om!”


“Ayo!” Beni meraih kunci mobil dan keluar lebih dulu.


“Om … nggak lupa kan kalau mama hari ini ulang tahun?” tanya Carla begitu mendaratkan bokongnya di kursi penumpang.


“Aku udah pesan tempat untuk makan malam romantis berdua di luar, tolong ini nanti kasihkan mama ya, Om!” Carla mengulurkan wadah berbentuk hati.


“Oke!” Beni membuka, memperhatikan sekilas lalu menutup kembali kotak perhiasan di tangannya setelah melihat isinya. Ia meletakkan hadiah untuk istrinya itu di atas dashboard. Ekspresinya tetap datar–tak peduli.


Carla menoleh, “Bagus nggak kalung pilihan aku, Om?”


“Bagus!” jawab Beni singkat.


“Om masih belum maafin mama ya?”


Beni menghembuskan nafas berat, “Sudah!”


“Jangan tinggalin mama ya, Om! Aku nggak bisa kehilangan mama, sudah cukup sekali saja mama coba memotong nadinya karena om mau menceraikan mama waktu itu! Aku cuma punya mama di dunia ini, Om! Aku harap makan malam yang aku atur ini bisa membahagiakan mama.”

__ADS_1


“Hubungan kami tidak seperti dulu lagi, Carla! Ikatan suami istri ini hanya sebatas status. Apa kamu mengerti?” Beni memang tak menolak ide makan malam berdua dalam rangka ulang tahun istrinya. Sebatas formalitas.


“Itu sudah cukup buat mama, Om! Selama om masih menjadi suaminya, mama akan baik-baik saja. Soal kebutuhan om … aku bisa menggantikan mama jika om tak keberatan.”


Beni langsung menoleh dan mengernyit heran, “Apa maksudmu?”


Carla menunduk, tapi mengerling dengan ekor matanya pada Beni. “Aku sudah dewasa, Om! Sudah lulus SMA, aku mengerti kalau om kesepian karena mama tidak bisa melayani om di atas ranjang lagi seperti dulu!”


“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Dia bisa … masih sangat bisa!” Hanya saja Beni memang tidak menginginkannya lagi.


“Om tidur di kamar berbeda di rumah! Om juga kadang tidak pulang–tidur di salon. Aku pernah melihat om di kamar sedang … menyenangkan diri sendiri sambil nonton bluefilm,” jawab Carla yakin. Keputusannya untuk menahan Beni agar tetap ada di sisi ibunya sudah bulat.


Soal cinta … itu bisa diatur! Toh Beni masih muda, gagah dan tampan. Pria itu juga cakap bekerja di salon, tidak seperti dirinya yang hanya bisa meminta uang pada sang mama untuk dipakai foya-foya dengan pacarnya.


Carla tersenyum kikuk ketika Beni menoleh dan menatapnya skeptis. Bayangan pria itu menindihnya dengan gairah yang meledak-ledak terbayang nyata. Sepertinya memang tak salah kalau mamanya memilih Beni sebagai suami. Karena Carla juga menilai demikian tinggi untuk sosok ayah tirinya itu.


Beni mengacak rambutnya frustasi. Ia pasti lupa menutup pintu ketika melakukan 'hal itu' di rumah. “Kamu mau mengkhianati ibumu?”


“Aku melakukan ini untuk mama, Om! Untuk om juga. Dari pada om jajan di luar atau berselingkuh dengan orang lain, bukankah lebih baik kalau aku saja yang jadi pelampiasan kemarahan om pada mama? Aku udah putus sama Riki kok, aku bersih! Om bisa bawa aku periksa dulu sebelum dipakai–kalau om tak percaya aku tak berpenyakit! Sekalian aku pasang kontrasepsi biar aman dari kehamilan.”


Beni diam cukup lama sebelum akhirnya mengarahkan mobilnya ke tempat lain. Entah setan mana yang mempengaruhi otak warasnya hingga ia menjauhi jalan pulang. Tawaran Carla sungguh membuat geregetan. Di samping itu, ia penasaran apakah ben-jun normal dan perkasa jika digunakan pada orang lain selain Madam Suzan?


Carla yang sadar arah perjalanan berubah, langsung bertanya penasaran, “Kita mau cari hadiah lagi buat mama, Om?”


“Nggak perlu! Siapkan saja dirimu malam ini–setelah acara ulang tahun ibumu selesai!”


“Aku harus menyiapkan apa? Dan kita mau kemana?”


Beni mendengus dingin, “Bukankah kamu baru saja menawarkan diri untuk aku nikmati? Kita ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan!”


T A M A T


***

__ADS_1


^^^Special thanks untuk Fans diamond–Neng Lael, Fans gold–Kak Ika, Fans silver–Kak Ibunya Irul, Khadina, Ayli, Winda, Anna, Asgard, Mikha, Mia, Thalia, Riedha dan semua pendukung yang tidak tersebut namanya.^^^


^^^Pokoknya terima kasih atas vote, hadiah, like, komen dan fav untuk Madam Suzan. Tanpa kalian, Al Orchida bukanlah siapa-siapa. Maaf atas segala kekurangan dalam penyajian kisah singkat ini, sampai ketemu lagi di karya Al selanjutnya–insyaallah.^^^


__ADS_2