
Dua hari yang amat berat untuk Irma. Tubuhnya seperti dibelah oleh pedang pada malam hari, dan pusing kepala hebat pada siang hari. Sekarang, ada sesuatu yang mengganjal di dalam lututnya, sehingga untuk berjalan rasanya nyeri.
Irma tak bisa menekuk lututnya yang mulai membengkak kemerahan. Bukan karena radang sendi atau asam urat, tapi Mbah Kancil bilang ada kawat berduri yang mengikat lututnya. Tidak bisa langsung diambil karena mantranya sangat kuat.
Mbah Kancil perlu berpuasa dan membuat ritual ruwatan khusus untuk menangani Irma. Tapi Irma sudah tak sabar lagi menunggu. Ia merasa kurang cocok karena penyembuhan berjalan lambat dan tidak tuntas.
Santet yang masuk ke tubuh Irma memang tidak ada berhentinya, itu yang jadi masalah utama. Ada beberapa orang yang selalu mengisi ulang secara bergantian. Jadi setiap dikeluarkan dua santet, akan masuk lebih banyak.
Belum lagi induk dari segala santet yang sudah mulai bersarang secara permanen di punggung Irma. Buhul dan isi dari indukan santet itu persis seperti sebuah receiver, yang mampu menarik makhluk gaib dari luar untuk masuk ke dalam tubuh Irma.
Akhirnya, Irma bukan hanya berkonsultasi pada Mbah Kancil, tapi ia juga berkonsultasi pada orang pintar lain–Nyai Sekar. Sehari setelah Beni pergi tanpa pamit dari rumahnya.
Masih terngiang percakapan antara dirinya dengan Nyai Sekar, yang pandai meramal nasib memakai kartu tarot.
"Mbak Irma ngalah aja deh!"
"Ngalah bagaimana, Nyai?"
"Lepaskan saja suamimu, Mbak!"
"Alasannya apa, Nyai?"
Nyai Sekar menghembuskan nafas panjang, "Nyawamu taruhannya, Mbak! Lebih aman kalau Mbak Irma mundur dan tidak terlibat lagi dengan wanita pelintrik itu. Pernikahan mbak terlalu horor untuk dipertahankan! Percayalah, masalah ini tidak akan selesai, Mbak! Tidak ada masa depan cerah yang aku lihat dalam kartu ini! Mbak bisa celaka …."
Irma memejamkan mata, menabahkan hatinya yang terajam siksa. Ia bukan tak mau mengalah, tapi perjuangannya itu memang murni untuk kedua anaknya. Bukan hanya soal kasih sayang, tapi tak disangkal Irma, kalau ia juga butuh tunjangan dana untuk pendidikan dan masa depan kedua anaknya.
Melihat Irma diam tercenung, Nyai Sekar melanjutkan kalimatnya. "Mbak Irma pikirkan saja di rumah! Aku cuma bisa menyarankan perpisahan! Gini loh … jangan menjadikan suami sebagai sumber kebahagiaan, sumber keuangan, sumber segalanya! Agar Mbak Irma bisa berpikir logis dan realistis terhadap masalah yang sedang terjadi dalam rumah tangga!"
"Seandainya masalahnya tidak berhubungan dengan sesuatu yang mistis, mungkin akan lebih mudah aku memahaminya, Nyai! Aku masih yakin kalau Mas Beni sebenarnya tidak mencintai tukang lintrik itu!"
"Benar! Tapi justru karena kejahatan mistis inilah Mbak Irma bisa kehilangan segalanya tanpa tahu harus menuduh siapa di pengadilan! Tidak ada bukti yang bisa menyeret si pelintrik itu ke ranah hukum!"
Irma menghela nafas gelisah. Ia langsung ingat dengan ramalan Elz tiga tahun lalu, yang isinya tak jauh beda dengan ramalan Nyai Sekar.
Haruskah ia merelakan pernikahannya hancur? Tentu saja jawabannya tidak! Irma belum siap untuk benar-benar kehilangan Beni. Ia belum maksimal dalam berjuang. Belum pada titik darah penghabisan.
Kesimpulannya, Irma akan menempuh jalur apapun untuk menyadarkan Beni. Untuk membuat pria itu kembali padanya dan bertanggung jawab terhadap kedua anaknya.
__ADS_1
Air mata membayang di mata Irma. Sungguh ia tak fokus membuka warung sembakonya pagi ini. Bayangan Beni yang meninggalkan rumah malam-malam dalam kemarahan kembali memenuhi otaknya.
Benarkah pelet pengasihan lintrik mampu membelokkan cinta Beni sepenuhnya? Dan apakah mantra Mbah Suro sudah tidak bekerja lagi hingga Beni tak muncul di rumahnya selama dua hari terakhir?
Jangankan datang, memberi kabar melalui telepon pun tidak!
Irma menyemangati diri sendiri, bahwa usahanya tidak akan menghianati hasil. Beni pasti kembali padanya. Semua memang butuh waktu.
"Hari ini mau keluar lagi, Ir?"
Irma menoleh ke arah datangnya suara, "Masih belum tahu, Bu! Dewi bilang mau kesini nanti. Dia bilang ada rekomendasi paranormal lagi … jadi nggak ada salahnya aku coba!"
"Ini uang penjualan kemarin, penuhi dulu warungnya kalau mau ditinggal pergi."
Irma menerima uang yang cukup banyak dari ibunya. Ia mengambil sebagian untuk kebutuhannya. Sisanya ia ikat dan berikan kembali pada ibunya setelah membuat catatan pembayaran untuk distributor yang akan datang mengirim telur dan sembako.
Dalam situasi rumit berumah tangga, entah mengapa Tuhan berbaik hati dengan memberikan rezeki yang cukup banyak lewat warungnya. Bahkan, selama warung itu berdiri, sekarang adalah masa terbaik dalam penjualan dan laba. Stok warung pun meningkat hingga dua kali lipat dari sebelumnya.
"Temanmu yang pandai meramal itu masih belum ketemu alamatnya?"
"Belum, Bu! Kemarin cuma ketemu sama teman lamanya Elz, tapi anaknya juga nggak tahu Elz pindah kemana," jawab Irma bernada sedih. "Nanti aku coba tanya teman-teman yang lain, yang dulu pernah dekat sama Elz."
"Sakitnya berkurang dikit, masih kaku buat jalan!" Irma menggerak-gerakkan kakinya yang terasa ngilu agar sedikit melemas. "Kalau aku nggak marah-marah sama Mas Beni malam itu … mungkin dia nggak balik ke rumah istri barunya lagi ya, Bu?!"
"Kalau memang masih ada jodoh, dia pasti kembali padamu, Ir! Hanya saja … menikahlah lagi, karena kamu sudah diceraikan. Jangan langsung hidup bersama seperti binatang. Cuma itu permintaan ibu."
"Iya, Bu!"
Irma tak melanjutkan obrolan dengan ibunya karena ada mobil berhenti di depan Iben Salon. Tak lama, pemilik salon itulah yang muncul di sana, turun dari mobil dengan ekspresi yang tak bisa diartikan oleh Irma.
Melihat mantan menantunya datang membawa mobil, ibunya Irma langsung bertanya, "Mau apa dia?"
"Bu, tolong jangan ditegur dulu! Siapa tahu Mas Beni datang untuk Novan dan Novia! Aku nggak mau ada keributan!" jawab Irma seraya keluar warung, berdiri canggung di jalan menuju rumahnya.
"Ya sudah terserah kamu!" ujar Ibunya Irma, menghindari menantunya dengan menyibukkan diri di dalam warung.
Beni mendekati Irma, "Anak-anak ada?"
__ADS_1
Irma tersenyum tipis, "Anak-anak ya sekolah, Mas! Jam berapa ini?"
"Oh iya! Kamu mau kemana bawa tas?"
"Baru dari nganter anak-anak sekolah, trus mampir pasar tadi!"
"Aku boleh mampir ke rumahmu sebentar? Ada yang mau aku bicarakan!"
"Silahkan!" Irma berjalan lebih dulu ke arah rumahnya.
Beni mengekori Irma setelah menegur dan mengangguk sopan pada mantan ibu mertuanya.
Irma mempersilahkan Beni duduk di ruang tamu, "Mau minum apa, Mas?"
"Nanti aja kopinya. Kamu masak apa, Ir? Aku belum sarapan."
Irma berusaha sabar, ia bukan tak senang Beni pulang, tapi mantan suaminya itu harusnya tahu diri kalau ia bukan lagi seorang istri yang harus melayani. Masa iya datang-datang minta disediakan makan?
"Anak-anak tadi sarapan nasi goreng! Aku belum masak," jawab Irma dingin.
"Ya sudah aku juga mau sarapan nasi goreng yang sama kayak anak-anak. Kamu bikinin ya?! Hem … kamu pasti belum sarapan, karena kamu paling nggak suka sarapan nasi goreng."
Ada kehangatan masuk ke relung hati Irma atas perhatian kecil tersebut, "Ternyata kamu masih ingat apa yang aku suka dan tidak!"
"Ingat dong! Biasanya kamu pilih bikin mie kuah yang banyak sayurnya kalau aku sarapan nasi goreng! Ayo kita bikin sarapan, aku bantu iris sayurnya, aku udah lapar pol-polan!" Beni melangkah menuju dapur tanpa sungkan, tanpa menunggu persetujuan dari Irma.
"Aku lagi malas makan mie kuah!"
"Tapi mau kan bikin nasi goreng buat aku? Ada udang nggak di kulkas?"
Irma menjawab sembari mencincang bawang putih, "Adanya sosis!"
Beni membuka kulkas, "Wah kesukaan anak-anak ya? Aku minta dikit lah buat nasi goreng sosis, telurnya dua ya, Ir! Satu diceplok satu dicampur nasinya–kayak biasanya!"
"Iya!" Mau tak mau Irma membuat satu porsi nasi goreng lagi untuk Beni. Ia sendiri hanya makan roti dan minum teh manis hangat.
Irma menemani Beni sarapan tanpa banyak bicara. Hanya menjawab pertanyaan Beni mengenai sekolah anak-anaknya. Masih terlalu pagi untuk meributkan status mereka yang bukan suami istri tapi duduk satu meja dan sarapan bersama dengan sedikit … mesra?
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
***