
Sedari sore, Madam Suzan merasa kalau udara di dalam salon sedikit panas dan tak enak di badan. Padahal pendingin ruangan sudah beroperasi seperti biasanya.
Cuaca di luar memang sedang cerah dan panas, matahari bersinar terik seharian. Mungkin itu yang mempengaruhi udara di dalam ruangan ikut menghangat.
Madam Suzan sampai mandi tiga kali untuk mengusir gerah yang dirasa berlebih. Keringatnya tak berhenti membasahi punggung sedari siang.
"Mas … telepon tukang bersihin AC buat besok pagi bisa? Aku masih repot nih!" Madam Suzan menunjuk ponselnya. Ia baru mendapatkan ide itu setelah salon hampir tutup.
"Kamu baru mandi lagi?" tanya Beni, memperhatikan istrinya yang sedang sibuk mengeringkan rambut.
"Nggak tahan gerah aku, Mas! Udara panas banget hari ini, rambut lepek! Lagian kalau keringetan plus bau asem gini trus nggak mandi, nanti malam kamu pasti nggak mau ciumin aku!" jawab Madam Suzan dengan keringan genit dan suara manja menggoda.
Beni terkekeh mendengar undangan secara tak langsung dari istrinya, tapi ia menahan sejenak hasratnya untuk menghubungi jasa tukang pembersih AC.
“Gimana, Mas?”
Beni mendekati Madam Suzan, memeluk dari belakang sambil menggesekkan keperkasaannya di bokong semok istrinya. “Besok tukang AC kesini siang, pagi mereka sudah ada job keliling ke tempat lain!”
“Oh oke! Mas … rambutku belum selesai ini loh!” rajuk Madam Suzan, menjauhkan rambutnya dengan sedikit membungkuk. Bokongnya yang menempel di ujung paha suaminya bergoyang ringan–merespon kenakalan suaminya.
“Sini biar aku saja yang keringkan!” Beni menawarkan bantuan yang sudah sangat dikuasainya dalam dunia persalonan.
“Ih, nggak usah! Udah mau selesai kok. Mas Beni masukin motor operasional aja ke dalam, trus kunci pintu!” Madam Suzan menjeda sejenak kegiatannya untuk memberikan ciuman singkat di pipi Beni. “Mas Beni juga bau keringet loh!”
__ADS_1
“Aku mandi abis masukin motor nanti!” sahut Beni, mengecup balik pelipis Madam Suzan sebagai ungkapan sayang.
Ya! Sejak pulang dari rumah Irma, Beni merasa cintanya kepada Madam Suzan bertambah banyak. Ia tak bisa berhenti untuk tidak memikirkan segala sesuatu tentang istrinya itu.
Sosok Irma dan anak-anak yang sehari lalu mencuri perhatian Beni telah tenggelam lagi oleh pesona Sang Madam. Keputusannya untuk mengunjungi anak-anaknya ternyata salah, karena hal itu sama sekali tak disukai Madam Suzan.
Sebagai seorang suami, prioritas Beni seharusnya adalah istrinya–Madam Suzan. Bukan lagi Irma dan anak-anak. Beruntung istrinya yang lembut hati ini tak memperpanjang masalah. Madam Suzan langsung memaafkan Beni dan mereka seketika mesra lagi seperti awal menikah.
Beni melangkahkan kaki keluar pintu salon. Menatap sejenak langit biru bersemburat merah sebelum memasukkan motor. Senja nyaris berakhir, tapi cuaca cukup cerah. Sinar matahari berwarna emas meluas di batas cakrawala.
WUSS!!!
Beni tercekat sesaat. Hembusan angin besar menjelang surup menghantam tubuhnya hingga doyong ke kanan–seperti didorong seseorang. Debu ikut beterbangan, beriringan dengan daun kering yang jatuh dari pohon yang tumbuh di depan salon.
Beni berdiri terpaku menatap motor matic yang masih belum tersentuh tangannya. Entah apa yang baru saja terjadi, yang jelas sesuatu seperti masuk ke dalam tubuh Beni.
Beni menepis perasaan tak nyaman yang hinggap di lubuk hatinya. Ia bergerak cepat untuk memasukkan motor ke dalam salon, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Anak kunci diputar dan dicabut dari tempatnya, lalu diletakkan di tempat biasanya.
“Kok kuncinya dicabut?” tanya Madam Suzan sedikit heran. “Mas Beni mau tidur di sini? Nggak ikut ke rumah? Atau sengaja mau ngajak main tembak-tembakan dulu sebelum pulang?”
“Ehm … aku tidur sini aja malam ini, kalau kamu mau istirahat di rumah, pulanglah setelah makan!” Beni menjawab sambil melepas kaos oblong dan melangkah ke kamar mandi. Mengabaikan godaan genit istrinya.
“Ish, masa aku tidur sendiri di rumah?! Kalau aku kedinginan nggak ada yang ngangetin dong!” ujar Madam Suzan tak putus asa.
__ADS_1
Beni tergelak sambil melepas celananya di depan pintu kamar mandi yang biasa dipakai pegawai salon. Ia mengelus bagian bawahnya yang masih tertutup pakaian dalam. “Mau diangetin sekarang?”
“Kenapa nggak mandi di kamar atas aja sih, Mas!” protes Madam Suzan. Bibirnya mencebik karena Beni memilih tetap masuk kamar mandi bawah walaupun sudah diingatkan. "Kan bisa langsung show kalau habis mandi!"
“Tunggu aja di atas!” sahut Beni dari dalam kamar mandi.
“Aku tunggu di sini, sekalian aku pesen makan malam. Kamu mau penyetan ayam seperti biasanya, Mas? Atau yang lain?”
Beni menjawab, “Ayam goreng agak basah, sambel jangan terlalu pedas sama es kacang hijau plus degan!”
Suara guyuran air di kamar mandi mengaburkan suara Beni. Madam Suzan yang sudah mengerti makanan favorit Beni melangkah mengambil anak kunci, membuka pintu salon lebar-lebar. Ia menunggu makanan pesanannya datang sambil nonton televisi.
Di dalam kamar mandi, Beni membersihkan tubuh dan rambutnya yang lepek karena panasnya hawa di dalam salon dengan pikiran rumit. Ia tak sengaja berlama-lama di tempat itu karena acara mandinya dibarengi dengan melamun.
Bayangan Irma tiba-tiba hadir, mengusik pikirannya yang sudah dipenuhi Madam Suzan setiap detiknya–sejak pulang dari rumah Irma. Beni larut dalam lamunan lagi, mengingat kembali masa dimana ia bahagia bersama Irma.
Sosok yang sudah melahirkan dua anaknya itu pernah sangat mempesona dirinya delapan tahun lalu. Pernah membuatnya rela mengirit penghasilan demi bisa mengajak nonton dan makan di restoran ternama tiap bulannya.
Irma yang hangat, yang tak pernah menuntutnya secara ekonomi. Yang mau bekerja keras membantu usahanya sampai akhirnya mereka memiliki salon sendiri.
“Irma ….” Beni mendesakh, ia tak pernah mengenang mantan istrinya sebanyak itu semenjak menikahi Madam Suzan.
Dengan menyebut nama Irma secara perlahan seperti itu, gairah Beni melecut di bawah guyuran air dingin kamar mandi. Darahnya tiba-tiba memanas dan bagian bawah perutnya menegang keras.
__ADS_1
Gejolak ingin menyatu dengan mantan istrinya itu semakin menggelegak tak terkendali. Dan akhirnya, hassrat gila itu dilampiaskan Beni dengan bermain solo di kamar mandi. Sambil berfantasi bersama Irma, ketika mereka melepas masa lajang di malam pertama.
***