
Beni dan Irma ber c u m b u seperti pengantin baru, malu-malu dan penuh rasa canggung. Tidak tergesa-gesa tapi sarat dengan rayuan. Irma yang semula keberatan dengan sikap agresif Beni, akhirnya luluh tanpa perlawanan. Pertahanannya runtuh seiring banyaknya Beni menyentuh.
Irma memang masih sangat mencinta, dan selalu merindu pada pria yang delapan tahun membina biduk rumah tangga dengannya. Dan sudah jelas ia tidak mampu mengelak dari rasa 'butuh kasih sayang dan belaian' mantan suaminya itu.
Ranjang yang beberapa waktu lalu sepi dan beku, mulai ramai dan hangat oleh decap mulut Beni yang sedang asik menyusuri tubuh bagian atas Irma. Tak sebesar milik Madam Suzan memang, tapi masih bisa membuat Beni merasa senang dan ketagihan.
Irma bergerak gelisah. Ia mulai kepikiran cairan yang merembes keluar membasahi pakaian dalamnya–di bawah sana. Bau busuk tercium oleh hidungnya, menyengat dan mengganggu fokusnya yang setengah mabuk asmara.
“Jangan, Mas!” Irma menahan kepala Beni yang nyaris mencapai bagian bawahnya. Ia tak percaya diri meskipun Beni tidak menunjukkan riak negatif pada wajahnya.
“Kenapa?” tanya Beni penasaran. Ia sedang di puncak kesenangan, jelas tidak mau dihentikan tanpa alasan yang jelas.
GLEBUK!!!
"Astaga!" pekik Irma. Suara benda berat jatuh di langit-langit kamar nyaris membuat jantungnya meloncat keluar dada–saking kagetnya.
Irma terlonjak panik, lalu spontan saja bangun dari posisinya yang sudah telentang pasrah. Ia duduk memegang lengan Beni erat-erat, wajahnya memucat. “Suara apa itu, Mas?”
“Heh, suara apa?” Beni memicingkan mata, menajamkan pendengaran lalu menggeleng bingung. “Aku tidak mendengar suara apa-apa!”
“Aku dengar ada benda berat jatuh di atas sana!” tunjuk Irma, sekaligus mendongak untuk melihat kondisi plafon kamarnya.
Beni mengusap wajah Irma yang berekspresi ketakutan. “Besok aku akan memeriksanya, mungkin ada tikus di plafon!”
“Kecil kemungkinan kalau itu tikus, Mas! Suaranya terlalu keras seperti … orang dewasa yang jatuh!” sangkal Irma, mengeratkan pegangan hingga tak sengaja memeluk Beni dengan dada terbuka. Tegang.
"Oh ya?" Beni tersenyum, ia menebak Irma hanya mencari perhatiannya saja. Mustahil ada suara sebesar itu luput dari pendengarannya. Beni pun membalas pelukan Irma dan kembali memanaskan suasana dengan ciuman hangat di bawah telinga Irma.
“Mas Beni nyium bau busuk nggak?” tanya Irma, menggeliat tak nyaman. Ia harus memastikan apakah Beni sama seperti Dewi yang tidak bisa mencium bau yang keluar dari pusat sensasinya. Irma sengaja mengendus ketiak untuk memberi kode kenyamanan Beni ketika menyentuh tubuhnya.
Beni terkekeh-kekeh, ikut mengendus sejenak lalu menjawab, “Kamu bau wangi!”
Irma tau Beni berbohong padanya, karena ia tidak memakai parfum sama sekali. “Aku serius, Mas!”
__ADS_1
“Aku juga serius,” tegas Beni sembari mendorong tubuh Irma agar kembali telentang. Ia pun segera memposisikan diri di antara paha Irma yang terbuka.
Namun, hal indah itu tak pernah terjadi. Begitu keris pusaka Beni menyentuh warangkanya, kekerasannya justru menyurut seketika. Lembek. Beni junior tidur pulas–dengan gaya memalukan.
"Bagaimana bisa?" gumam Beni tak percaya.
Wajah Beni pias. Matanya langsung menatap ke bagian tubuhnya yang sudah mengkerut ke ukuran terkecilnya. Beni memejamkan mata sejenak, berkonsentrasi untuk membangunkan adik kecilnya. Dan … gagal total.
Butuh waktu beberapa saat untuk meredakan marah, kecewa dan rasa malu. Beni akhirnya bersuara lirih–sedih, "Ma-maaf, Ir! Aku tidak tahu kalau bakal begini …!"
Beni merenung dalam posisi berdiri dengan lutut–memegang juniornya, semua serasa tidak masuk akal. Pola hidupnya sehat, ia juga dalam kondisi prima. Bahkan mampu membuat Madam Suzan keok beberapa jam lalu. Tapi sekarang?
Irma menutup tubuhnya dengan selimut, "Nggak apa-apa, Mas! Mungkin Mas Beni sedang kecapekan, kurang fit. Mas istirahat saja, katanya tadi mau tidur sama anak-anak?!"
Dengan rasa bersalah, Beni turun dari ranjang, memakai lagi celana pendek longgar dan kaos oblongnya. Ia terlihat stress ketika mengecup kening Irma, hanya sekilas, lalu ia keluar kamar dengan langkah gontai. H a s r a t nya yang meletup hingga ubun-ubun padam saat itu juga. "Oke aku tidur sama anak-anak! Kamu juga langsung istirahat ya!"
Beni keluar kamar, disusul Irma yang tergesa ke kamar mandi untuk membasuh bagian tubuhnya yang dirasa berbau busuk menyengat.
Irma berpikir keras, ia masih harus mencari pengobatan alternatif lain esok hari. Mbah Suro menyarankan agar Irma mengunjungi salah satu kenalannya di luar kota. Mbah Kancil namanya.
Suara brak bruk di langit-langit kamar sesekali masih berbunyi, tapi Irma tak menggubrisnya secara serius. Ia butuh istirahat cukup karena besok mau pergi berobat. Mau tak mau ia harus memerangi rasa takutnya lagi malam ini–sendiri.
Irma tidur sekitar tiga jam saja. Ia bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Bukan hanya untuk anak-anaknya, tapi juga untuk Beni yang menginap di rumahnya.
Rutinitasnya sebagai seorang istri seolah telah kembali seperti semula. Irma pun memasak makanan kesukaan Beni dan anak-anak. Pagi ini, ia ingin melihat keluarganya sarapan dengan lahap dan penuh kebahagiaan.
Mereka kini duduk dalam formasi lengkap sebagai keluarga yang utuh. Kedua anaknya sedang makan sambil meributkan waktu pulang ayahnya yang tidak mereka ketahui.
Irma tersenyum ketika Beni menjelaskan kalau kedatangannya untuk memberi kejutan pada kedua anaknya. Novan dan Novia pun berebut posisi untuk mendapatkan perhatian pria yang selama beberapa waktu tak pernah ada di rumah–hingga sarapan usai.
“Mas, aku mau anter anak-anak sekolah–sekarang! Aku nanti langsung ke rumah Dewi, ada perlu!” kata Irma menjaga jarak. Ia tak serta merta membebankan tugas mengantar anak sekolah pada mantan suaminya yang baru saja ingat pulang.
“Biar aku yang anter anak-anak sekolah! Setelah itu aku anter kamu ke rumah Dewi,” tukas Beni cepat. menghabiskan kopinya lebih dulu sebelum beranjak.
__ADS_1
Irma mencegah, “Tapi aku sama Dewi mau pergi ke rumah Mbah Kancil, Mas!”
Seketika Irma salah tingkah karena keceplosan memberikan informasi pada Beni.
Beni spontan menoleh, menatap Irma curiga. “Siapa Mbah Kancil?”
“Eh … beliau paranormal, aku mau tanya penglaris warung sama pagarnya sekalian biar tidak dibuntu orang. Soalnya beberapa hari kemarin warung kita agak sepi!” jawab Irma berbohong. Ia menekankan kata 'warung kita' untuk menarik perhatian Beni.
“Ya udah pergi ke Mbah Kancil-nya sama aku aja, nggak usah sama Dewi! Inikan urusan warung kita. Jauh nggak tempatnya?”
“Satu jam naik motor!”
“Nah apalagi tempatnya jauh! Batalin aja janji sama Dewi sekarang, kamu berangkat sama aku!” perintah beni tegas.
Irma termangu sejenak, ragu-ragu menyambut kebaikan Beni. “Kamu nggak pulang ke rumah is ….”
Menyadari ada anak-anak di sekitarnya, Irma tidak melanjutkan pertanyaannya. “Novan, Novia pakai sepatunya sekarang! Trus tunggu di depan, oke?!”
“Oke mama!”
Irma menelan ludahnya–pahit, melirik kedua anaknya yang sedang berjalan keluar ruangan. “Kamu nanti nggak dicariin kelamaan di sini?”
Beni menjawab setelah kedua anaknya menghilang dari pandangan. “Suzan pergi ke Banyuwangi subuh tadi, ada kerabatnya yang berduka! Mungkin dia beberapa hari di sana….”
“Mas Beni kenapa nggak ikut?”
“Aku diminta jaga salon!” jawab Beni jujur. Ia juga baru tahu kalau istrinya memiliki saudara di Banyuwangi. Dan entah mengapa ia merasa lega karena Madam Suzan tak meributkan kepergiannya.
“Oh ….” ujar Irma kecewa.
“Aku antar kamu ke rumah Mbah Kancil, setelah itu kita bicara lagi!” tukas Beni, menyusul kedua anaknya.
Beni memang ingin bicara serius dengan Irma. Mengenai hatinya yang selalu bimbang tak terarah. Mengenai cintanya yang mendadak muncul setelah adegan 'kentang' tengah malam di kamar. Mengenai kemaskulinannya yang menegak sempurna pagi tadi sewaktu bangun tidur.
__ADS_1
BERSAMBUNG….
***