Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Ledakan Besar


__ADS_3

Irma menutup pintu ruang tamu rumahnya dengan dada bergemuruh. Ia bahkan setengah membanting daun pintu untuk melampiaskan kekesalan. Moodnya untuk menemani kedua anaknya yang sedang belajar di kamar bubar bersama kepergian mantan suaminya.


Tapi, pantaskah kedua anaknya yang tak mengerti apa-apa menjadi sasaran kekesalannya? Tidak! Tapi Irma butuh menenangkan diri agar tak tampak sedang marah dan bersedih di depan anaknya.


Irma langsung masuk ke dalam kamar yang dulu ditempatinya bersama Beni, menutup wajahnya dengan bantal dan mulai menangis tersedu-sedu untuk meluapkan emosinya.


Lelah dan kurang tidur semalam membuat Irma terlelap hingga tengah malam. Ia bangun dan baru ingat kalau sudah tidur kebablasan tanpa menemui Novan dan Novia.


Irma lalu keluar kamar untuk mengecek kedua anaknya yang ternyata sudah nyenyak. Rupanya berenang membuat mereka semua tidur lebih cepat dari waktu biasanya.


Di tengah kasur, ada ibunya Irma yang tidur menemani kedua cucunya. Sepertinya ibunya datang ketika Irma sudah lelap. Dan jelas saja kedua anaknya yang membukakan pintu. Irma pun menutup pintu kamar anaknya dan pergi ke ruang makan untuk mengambil minum.


DUAR!!!


Suara letusan diikuti dengan suara hujan pasir terdengar jelas di telinga Irma. Ia tetap mendongak menatap langit-langit kamar walaupun tidak bisa melihat apapun di sana.


Ternyata suara aneh tersebut bukan hanya terdengar oleh Irma saja, tapi ibunya yang sedang terlelap pun terbangun. Wanita yang melahirkan Irma itu tergopoh-gopoh keluar kamar cucunya untuk melihat keadaan.


"Ibu kok bangun?" tanya Irma nyaris terlonjak karena kaget.


"Suara apa yang meledak di atas rumah barusan, Ir?"


"Ibu bangun karena suara itu?"

__ADS_1


"Iya. Apa ada yang bermain mercon? Atau kembang api besar?"


Irma mengedikkan bahu, tapi ekspresinya dibuat setenang mungkin agar ibunya tidak panik. "Mungkin kembang api, Bu!"


"Ibu sengaja tidur di sini karena khawatir sama keadaan anak-anak. Ibu tadi lihat Beni pergi dari rumah ini bersama perempuan lain. Kenapa kamu nggak bilang sama ibu kalau wanita nakal itu datang kesini, Ir?"


Irma menghembuskan nafas panjang, "Sudahlah, Bu! Jangan bahas masalah Mas Beni dan wanita itu, aku sedang mengusahakan agar Mas Beni kembali ke rumah ini. Tolong jangan bebani aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa ibu kira-kira sendiri jawabannya!"


"Ibu hanya ingin tahu duduk perkaranya agar bisa membantumu menyelesaikan masalah. Bukan maksud ibu ikut campur urusan rumah tanggamu dengan Beni! Sekarang, kamu pikir sendiri … apa ibu akan diam saja ketika anak ibu disakiti? Apa kamu akan diam saja kalau Novia di kemudian hari diperlakukan sama seperti kamu?"


Irma menggeleng pelan, berusaha menahan air mata yang mulai membayang. Irma mengumpulkan kekuatan untuk memberitahukan sedikit informasi pada ibunya. Ia berharap setelah ini sang ibu akan paham situasi yang tengah dihadapinya. Irma membutuhkan dukungan dan doa dari ibundanya.


"Mas Beni … sudah menceraikan aku dan memilih menikah lagi dengan wanita itu, Bu! Sekarang aku sedang ikhtiar biar Mas Beni bisa sadar dan kembali pulang ke rumah. Kata orang pintar, Mas beni terkena pelet lintrik wanita itu!"


Ibu Irma langsung kehabisan kata-kata, hanya bisa memeluk putrinya erat. Mengusap lembut punggung Irma untuk memberikan kekuatan. "Sabar, Nduk! Ini ujian berat buat kita … kamu harus kuat demi Novan dan Novia!"


Pertahanan Irma luruh, ia terisak dalam dekapan hangat ibunya. Melepas tekanan yang membuat dadanya sesak. "Aku bisa apa selain berdoa, Bu?"


Setelah beberapa saat, Ibu Irma mengurai pelukan. "Ayo kita ibadah malam bersama, mengetuk pintu langit, meminta petunjuk pada Yang Maha membolak-balikkan hati. Ibu pulang sebentar, ambil perlengkapan ibadah di rumah."


Irma mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah. Ia meneguk segelas air putih lebih dulu untuk menenangkan diri, lalu mengantar ibunya sampai depan pintu ruang tamu.


Tiba-tiba, indera penciuman Irma terganggu dengan bau kotoran yang sangat menyengat. Irma mulai mengendus pakaian yang dikenakan, lalu mencari sumber bau di sekitar ruang makan hingga kamar mandi.

__ADS_1


"Bau apa ini? Kayak kotoran hewan, tapi juga busuk seperti sampah makanan," gumam Irma. Ia sampai memeriksa kolong meja makan, bawah kursi, hingga sofa dekat ruang keluarga. Tapi sumber bau tidak ditemukan. Bau kotoran itu justru seperti melekat padanya, mengikuti kemanapun Irma berjalan.


Merasa tak menemukan sumber bau, Irma memutuskan mengganti pakaiannya. Ia juga membasuh seluruh tubuhnya dengan air. Dinginnya udara malam tak menyurutkan Irma untuk mandi dan membersihkan diri. Irma ingin segera melaksanakan ibadah malam, mengetuk pintu langit hingga sepertiga malam.


Baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, Irma merasakan keanehan di sekitar perut bagian bawah. Rasa nyeri, pegal, dan panas menjalar hingga ke tulang belakang. Irma mengerang lirih. Rasa sakit itu menyerang berulang-ulang, perutnya mulai kram ringan. Irma merasakan ada cairan hangat keluar dari pusat sensasinya.


"Tanggal berapa ini? Kok aku udah mens lagi?" tanya Irma pada diri sendiri.


Dalam rasa penasaran, Irma berjalan menuju kalender yang tergantung di dinding. "Majunya banyak banget, harusnya sepuluh hari lagi."


Bau tak sedap kembali tercium, kali ini Irma yakin bau itu berasal dari bagian inti bawah tubuhnya. "Penasaran, cek dulu deh ini mens atau keputihan biasa. Kok baunya sedikit aneh."


Irma kembali masuk ke kamar mandi, melepas pakaian dalamnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat cairan lengket berwarna coklat pekat menempel di bagian dalam. Bau kotoran yang sangat menyengat seketika tercium.


Segera saja Irma membersihkan pakaian dalamnya, mencuci hingga bersih dengan sabun mandi agar bau dan warnanya menghilang.


Irma berganti pakaian dalam bersih. Tapi kondisi itu hanya bertahan sementara. Lendir coklat berbau kotoran kembali keluar membasahi pakaian dalamnya.


Perut bagian bawahnya bergejolak, rasanya lebih nyeri dan sakit seperti ditusuk puluhan jarum. Irma mengerang. Ia kembali masuk kamar mandi untuk membersihkan bagian bawahnya dengan sabun khusus **** **********.


Sayangnya hal itu tidak menolong. Cairan berbau busuk tetap keluar dan tidak bisa diatasi dengan mencuci bagian bawahnya. Irma menyerah, pasrah dengan kondisinya dalam tangis dan doa. Ia berharap ledakan besar yang terjadi beberapa saat lalu, bukanlah suatu pertanda buruk untuk dirinya dan keluarga!


***

__ADS_1


__ADS_2