Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Pengakuan Yang Berbeda


__ADS_3

Pengakuan Yang Sebenarnya


Lela setiap hari sudah menjalani latihan dan perawatan tubuhnya hingga sudah mulai sedikit berisi dan kulitnya semakin cerah. Ia langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan dres terusan selutut warna grey, memakai sepatu bertumit rendah tanpa tas dan aksesoris lainnya. Rambutnya yang lebih dari sebahu ia biarkan terurai begitu saja.


Gadis itu terlihat sangat berbeda.


Seorang asisten membantu Lela merias wajah hingga tampak lebih segar. Hampir satu jam ia bersolek, dan saat selesai, Lulu sudah menunggunya di halaman parkir.


“Ayo!” Kata Lulu sambil membuka pintu mobil, diikuti Lela dari arah sebelahnya.


“Kita hanya berdua?” tanya Lela merasa heran, sebab tidak ada asisten Lulu atau bodyguard yang mengikuti bersama mereka seperti kebiasaan Lulu sebelumnya.


“Tidak, aku hanya ingin berdua denganmu,” jawab Lulu sambil menyalakan mesin dan menjalankan kendaraan itu dengan kecepatan sedang.


“Tugasku sudah hampir selesai, dua hari lagi Lexsi akan menjemputmu dan aku kira kita akan berpisah, entah kapan akan bertemu lagi.”


“Jadi?”


Lulu diam, sebenarnya ia ingin mengorek sebuah informasi seperti yang di minta Lexsi untuk menyelidiki latar belakang Lela, tapi wanita itu selalu menjawab jika itu bukanlah urusannya dan ia tidak mau mengingatkan pada hal yang menyakitkan.


Oleh karena itu, Lulu tidak menanyakannya kembali pada Lela. Tidak ada gunanya memaksakan seseorang bercerita tentang masa lalunya yang pahit, kecuali orang itu mau mengatakan semua atas kemauannya sendiri.


“Apa kau senang belanja?” Lulu bertanya untuk mengisi kekosongan dan ia melihat Lela tampak begitu bersemangat. Sementara mobil terus melaju ke jalanan yang ramai.


“Ya, tentu saja aku senang, sudah lama sekali aku tidak belanja.”

__ADS_1


“Kapan terakhir kali kau belanja apakah dengan kekasihmu?”


“Tidak, dengan Ibuku! Sebelum dia meninggal dunia.”


“Kapan itu terjadi?”


Sekitar yang lalu, jangan belanja keliling mall untuk membeli apa pun yang aku inginkan, melanjutkan kuliah saja tidak!”


“Kenapa?”


“Ibuku sakit, dan kata Paman yang merawatnya, biaya ibuku sangat tinggi dan tidak ada biaya untuk membayar kuliahku lahi hingga aku menghentikan kuliah hanya demi ibuku dan setahun kemudian, Ibu tetap saja pergi, padahal aku sudah menyelesaikan tesis dan skripsi, tapi aku tidak pernah diwisuda. ”


“Maaf, kalau aku mengingatkanmu pada Ibumu!”


“Tidak masalah, itu sudah lama sekali. Kalau aku punya gelar sarjanaku sekarang, aku pasti sudah memiliki pekerjaan. Kau tahu, Madam Lu?”


“Ah ... kebanyakkan dari takdir yang terjadi bukanlah hal yang kita inginkan, keburukan kita dapatkan, lebih banyak dari kebaikan yang kita rasakan, bukankah begitu?”


“Ya, kau benar!”


“Aku pun sama,” kata Lela, ia mulai bercerita kembali, “Ibuku meninggal karena virus satu tahun yang lalu, dan sejak itu bibiku tinggal bersamaku dalam satu rumah.”


“Virus yang mewabah setahun yang lalu maksudku?”


“Ya. Saat awal masa pandemi ibuku sakit, aku masih bisa kuliah, dan ia harus di karantina dalam sebuah gedung bersama banyak orang dengan penyakit yang sama. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan atau bicara melalui telepon, kami juga sering menempelkan tangan atau mencium dari balik kaca juga ....”

__ADS_1


Lulu tidak memotong pembicaraan Lela, ia mendengarkan dengan baik sambil terus mengemudi.


“setelah Ibuku meninggal baby Lein dan Paman Landu tinggal bersamaku mereka menganggap aku harus mengurus mereka karena sebagai balas budi sudah merawat ibuku selama satu tahun penuh sampai ia tiada. Mereka terus saja menyuruhku bekerja dan Kalau tidak mau mereka akan menyekap ku berulang kali aku sudah berusaha untuk kabur tapi berulang kali pula mereka berhasil menangkapku,” cerita Lela panjang lebar ia berhenti sejenak hanya untuk menghela nafas panjang.


“Saat aku bertemu Lexi, itu adalah tempat pelarian terjauhku, sudah seminggu aku berada di sana sendiri, kemudian aku tiba-tiba pingsan dan saat terbangun aku sudah ada di kamarnya aku mengira, dialah yang sudah membuatku pingsan, menyebalkan sekali dia!”


“Ya. Dia memang menyebalkan! Jadi, kau tidak lari dari penjara?”


“Rumahku sudah lebih buruk dari penjara, aku mencoba bertahan di sana hanya karena mereka adalah Paman dan Bibiku lagi pula, rumah itu adalah rumahku banyak sekali kenangan di sana. Sudah berulang kali mereka menyuruh menjual rumah itu sebagai bayaran atas jasa dan hutang karena merawat ibuku dan aku tidak tahu bagaimana membayarnya.”


“Bukankah kau bisa menjual beberapa barang berharga yang ada dalam rumah itu?”


Sebenarnya Ibuku mempunyai kebun dan setiap kali panen buah-buahan Paman dan Bibiku selalu menikmatinya, tapi aku tidak tahu mengapa mereka selalu mengatakan kalau biaya untuk merawat Ibuku masih saja kurang?”


“Apa kau tidak berpikir kalau mereka sudah berbuat curang padamu?” tanya Lulu, ia berpikir Lela terlalu bodoh.


“Ya, aku sudah memikirkan hal itu tetapi mereka adalah Paman dan Bibiku, tapi sekarang aku menyesal mengapa aku meninggalkan rumah itu, karena bisa saja mereka sudah menjualnya entah pada siapa dan menikmati hasilnya.”


“Maaf soal itu, aku tidak bisa membantumu, Lela ....” kata Lulu sambil melakukan sesuatu pada ponselnya. Ia merekam langsung pembicaraannya dan terkirim pada Lexsi tanpa Lela ketahui.


“Tidak masalah, kalau memang mereka melakukan itu, aku bisa membalaskan dendamku setelah keluar dari sini!”


“Ya, tentu saja! Sekarang bersenang-senanglah, ayo! Kita berbelanja dan beli apa pun yang kau mau!” kata Lulu sambil mematikan mesin mobilnya, karena mereka sudah sampai di halaman parkir sebuah mall terbesar di kota.


“Oh iya, Madam Lu, tentang apa yang sudah aku ceritakan tadi padamu, tolong jangan katakan apa pun pada Lexsi biarkan dia mengira bahwa, aku adalah seorang residivis yang keluar dari penjara, oke?”

__ADS_1


“Baiklah ... tapi kenapa?”


❤️❤️❤️


__ADS_2