Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Rahim Bayaran


__ADS_3

Rahim Bayaran


Lela sampai di sebuah rumah yang sangat megah di tepi pantai ada beberapa paviliun lain di sekitarnya yang masih menjadi milik Lobo.


Lela duduk diapit oleh dua orang laki-laki tampan, di ruang tengah yang luas, ada televisi yang sangat besar juga menempel di dinding layaknya bioskop, itu adalah home theater yang luar biasa di mata Lela.


Memang ia sudah terbiasa akan beberapa hal mewah, karena Lela bukan orang yang miskin. Namun, berada di dalam rumah seperti itu dengan dua orang laki-laki yang menyukai sesamanya ... sungguh membuat dirinya riskan. Walaupun, Lobo dan Lily memperlakukannya bagaikan seorang ratu, tetap saja lebih enak bebas di luar sana, meskipun dengan kehidupan yang sederhana.


Kedua laki-laki itu benar-benar memberikan segalanya bagi Lela berupa kesenangan, pakaian, perhiasan dan juga pelayanan.


Lela, dan Lily akan segera melaksanakan proses bayi tabung keesokan harinya dua laki-laki itu berjanji akan memperlakukan Lela sebaik mungkin.


“Besok, kau pergi ke rumah sakit Seondong dengan Lily, itu rumah sakit yang sudah mengadakan perjanjian denganku.” Lobo berkata sambil menepuk punggung tangan Lela dengan lembut, seolah-olah adik perempuannya.


“Lela, Kami harus memastikan kamu sehat dan baik-baik saja, sebelum mengandung bayi kami, karena itu makanlah yang banyak!” kata Lily dengan gaya manja, ia menyodorkan beberapa buah yang sudah dipotong dan dikupas dalam piring yang sangat cantik ke hadapan Lela.


"Baiklah, terima kasih," kata Lela dengan terpaksa, ada senyum tawar di bibirnya.


Ia memangnya bisa apa? Di sekitar rumah sebesar ini ada puluhan penjaga, ia tidak mungkin bisa kabur. Ketika ia menyetujui permintaan Lobo, sama saja ia mengumpankan dirinya ke kandang singa. Bahkan dalam jalak radius ratusan meter pun, ada beberapa penjaga yang ditempatkan Lobo dengan sengaja.


Keesokan harinya Lily mengajak Lela memeriksakan diri di rumah sakit umum swasta. Sementara Lobo harus pergi bekerja, mengontrol perusahaannya seperti biasa. Walaupun, laki-laki itu sangat santai dan tidak perlu bekerja keras, tetapi ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Padahal kekayaannya sudah sangat banyak.


Mungkin banyak wanita di luar sana yang tidak tahu jika Lobo adalah seorang laki-laki penyuka sesamanya, karena dari wajah, postur tubuh, gaya bicara, semuanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang laki-laki sempurna.


“Lela, apa kau ingin makan sesuatu?” tanya Leli, ketika berhenti di lampu merah dan, di sebelah lampu merah itu ada sebuah restoran besar yang sangat terkenal. Lela tahu, karena saat masih kuliah dulu, ia sering makan di sana dan mengukir banyak kenangan bersama teman-temannya.

__ADS_1


“Tidak, terima kasih,” katanya dengan lembut, menolak tawaran Lily karena ia tidak ingin menangis lagi mengingat kebebasannya di masa yang lalu.


Mereka memulai obrolan ketika sampai di tengah jalan. Setelah sejak dari rumah, mereka yang duduk di kursi penumpang bagian belakang dan hanya saling diam.


“Kau tahu, aku menyukai olahan daging di restoran ini! Apa kau suka steik? Di sini sangat enak, mereka tidak memasak menggunakan panggangan atau panci, tapi dengan di asap selama delapan jam, bukankah itu cara masak yang luar biasa, pantas saja rasanya sangat enak bukan?” kata Lily lagi.


“Ya! Aku dulu pernah makan di sana dengan teman-temanku!”


“Oh ya? Teman sekolah atau teman kerja?”


“Teman kuliahku!”


“Uem ... kau bisa mengundang mereka kalau mau dan aku akan mentraktir kalian sepuasnya, pesan apa pun yang kau suka!”


Lily tersenyum masam, sepertinya pria itu sangat mengerti perasaannya.


Lela merasa bingung, kalaupun bisa mengundang teman-teman berkumpul di sana, dia tidak tahu harus menjawab apa jika para sahabatnya itu menanyakan siapa Lily padanya. Ia tidak mungkin menjawab bahwa, Lily adalah laki-laki yang akan menyewa rahimnya,


Tidak! Itu tidak mungkin. Pikir Lela.


“Lela, apa kau sedih? Jangan sedih ... sebab aku dan Lobo akan sangat menghargai tubuhmu yang akan mengandung bayi kami!”


“Ya, aku tahu!” Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Lela, walaupun, di dalam hatinya sangat muak.


"Lily, Siapa namamu sebenarnya apa kau bahagia?"

__ADS_1


"Ah! Jangan tanyakan itu, aku sudah cukup bahagia sekarang, semua karena Lobo," kata Lily, sambil tersenyum masam.


Ya, semua orang memiliki masa lalu dan ada orang yang senang mengenang semua hal yang pernah dilaluinya, tetapi ada sebagian orang juga yang membencinya. Lela pun, merasa tidak harus tahu, tentang masa lalu laki-laki itu, karena tidak penting baginya.


Setelah lampu berganti warna, sopir menjalankan kembali mobil dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit yang sudah dijanjikan untuk melakukan bayi tabung kepada Lela.


Tidak hanya satu mobil yang mengiringi Lela, ada tiga mobil pengawal lainnya yang mengikuti mereka.


Bagaimana bisa kabur? Lagi-lagi Lela hanya bisa menghela napas panjang, untuk sekedar menghilangkan penat di dalam hatinya, tetapi tetap saja rasa kecewa itu menggumpal di dadanya.


Sesampainya di rumah sakit, Lela langsung memasuki ruangan pemeriksaan bagian kandungan sebagai pasien VIP.


Proses bayi tabung memiliki lima tahap, yang pertama adalah stimulasi yaitu ovulasi super yang dilakukan kepada calon ibu, untuk memastikan sel telurnya sehat dan siap untuk dibuahi. Kemudian, yang kedua adalah pengambilan sel telur atau yang disebut dengan aspirasi folikuler, dan yang ketiga inseminasi dan fertilisasi.


Lalu, yang keempat kultur embrio yang dilakukan oleh peneliti untuk memastikan embrio berkembang dengan sempurna dan kelima adalah transfer embrio atau tahap terakhir, di mana dokter akan menyuntikkan embrio yang sudah mengalami pembuahan dengan baik, ke dalam rahim seorang wanita.


Lela masuk seorang diri ke ruang itu, untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi terhadap rahimnya. Dokter Linda, tersenyum dan menyambutnya dengan ramah, saat menanyakan kabar dan mengajukan sejumlah pertanyaan sebagai formalitas.


Tentu saja dokter itu sudah tahu apa maksud kedatangan Lela di ruangannya sebab sebelum melakukan pemeriksaan, Lobo serta sang dokter sudah menandatangani sebuah perjanjian, dengan nama dan identitas Lela secara lengkap.


Saat Linda sudah menempelkan alat pendeteksi di permukaan perut Lela, dan matanya menatap monitor, tiba-tiba senyum ramahnya berubah. Ia menoleh pada Lela dengan wajah yang berkerut.


“Kapan kau terakhir datang bulan?” tanya Linda pada Lela dengan raut wajah yang serius.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2