
Seorang Pria Yang Dihormati
“Kenapa atau tiba-tiba bertanya tentang orang itu, apa kau punya masalah dengannya?” Lusi balik bertanya dan tampak gusar. Selama ini anaknya itu tidak pernah membuat masalah, selain keinginannya tinggal di peternakan.
Namun, justru hal itulah yang paling membuat ia dan suaminya sangat kesal serta merasa tidak dihargai. Padahal, anaknya yang lain yaitu dua adik Lexsi, semuanya sukses menjadi direktur perusahaan mereka sendiri di luar negeri.
Bukan perkara minder ataupun malu karena anaknya itu hanyalah seorang peternak, tetapi ia justru memikirkan perasaan pribadi Leksi. Lusi mengkhawatirkan adanya kemungkinan rendah diri, pada putra pertamanya itu, apabila bercampur baur dengan keluarga dan kerabatnya yang rata-rata memiliki kedudukan bagus di perusahaan besar lainnya.
“Tidak ada masalah Aku hanya tidak tahu saja!”
“Setahu Ibu, dia seorang pria yang dihormati.”
Lexsi mengangguk. Hanya dari ucapan ibunya saja ia sudah tahu apa yang harus dilakukan, untuk menjadi pesaing yang pantas bagi pria itu.
Sejak hari itu Leksi mulai bekerja menjadi direktur utama di perusahaan keluarga, seperti harapan Ayah dan Ibunya. Ia mengambil alih semua tanggung jawab Leo, dan memulai prosedural demitualisasi lagi dari awal.
Namun satu yang belum dilakukannya yaitu, memakai pakaian formal. Ia masih menggunakan pakaian sederhana seperti kaos dan celana jeans saat pergi ke kantor ataupun datang ke ruang rapat.
Berulang kali Lusi mengingatkan, bahkan sudah memilihkan banyak pakaian baru untuk anaknya itu, tetapi Lexsi selalu menolak karena ia merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.
Sebenarnya pakaiannya itu tidak buruk, hanya lebih santai karena ia tidak mengenakan dasi ataupun kemeja, maupun jas. Ia lebih nyaman memakai kaos yang menampakkan lekuk tubuhnya, serta celana Levi's yang longgar, termasuk memakai sepatu boots.
Ia mengenakan semua itu, karena untuk mengobati rasa rindu pada peternakannya, dan juga sudah menjadi kebiasaan saja. Walaupun, sedikit tidak sesuai dengan ruangan yang ia tempati, dan terlihat lucu, tetapi ia tidak peduli. Meskipun begitu, tidak ada pegawai yang berani membicarakan ataupun menertawakan Lexsi di depannya. Baginya terserah kalau para pegawai itu mau menertawakan di belakangnya asal ia tidak tahu.
Semua urusannya selesai dalam waktu singkat, yaitu kurang dari sepuluh hari ia sudah membereskannya dengan baik hingga di bulan berikutnya, keuntungan perusahaan sudah mulai meningkat sedikit demi sedikit.
Hari itu, saat Lexsi tengah mengadakan pertemuan dengan seseorang yang mengajak kerja sama, dan menikmati makan siang di sebuah restoran, ia mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Lasio. Namun, ia hanya melihat dan memperhatikan gerak-gerik orang itu dari jauh.
__ADS_1
Ia berpikir belum saatnya menemui pria yang sudah mengambil Lela secara sengaja.
Lexsi yakin jika Lela dalam keadaan baik-baik saja, karena menurut semua informasi yang ia himpun, Lasio adalah pria yang baik dan yang terhormat.
“Apa Lasio sering makan di sini?” tanya Lexsi pada Leo, pria yang terkena hukuman, dan tampak lebih kurus karena harus bekerja tanpa menerima gaji, hingga ia harus berhemat. Bahkan, istrinya di rumah pun harus berhemat juga.
Ah iya, bahwa semua sebab pasti ada akibatnya. Seperti itulah hidup manusia yang bagaikan jalinan bilah ketupat, berlekuk-lekuk dan naik turun, terlilit antara satu dan lain dari awal kelahiran sampai akhir pada kematiannya.
“Ya, Tuan. Apa Anda punya masalah dengan orang itu?”
Lexsi dan Leo berbincang berdua, karena tamu perusahaan mereka pamit setelah selesai makan siang.
“Apa kau berharap aku punya masalah dengan orang seperti dia?” tanya Lexsi.
“Tentu saja tidak, Tuan. Masalah perusahaan kita sudah sangat banyak akhir-akhir ini.”
“Semua karena kamu, kan? Jangan menipuku lagi kali ini. Aku masih memberimu kesempatan karena kau pun memiliki jasa pada perusahaan, tapi kalau kau mengulanginya lagi, aku tidak akan segan-segan melemparmu ke penjara!”
“Heran, kenapa aku bisa salah memilih asisten seperti dirimu!” kata Lexsi sambil beranjak dan melangkah pergi.
$$$$$$$$$$
Keesokan harinya, Lexsi berpakaian lebih rapi. Ia memakai kemeja putih lengan panjang tanpa dasi, dan celana Maxi Cheon sebagai pelengkap membuat penampilannya berubah 180 derajat.
Ia pulang setelah larut malam tadi, dan tanpa Lusi serta Lextra ketahui, anak mereka sudah membabat habis kumis serta jenggot lebatnya. Rambut gondrong yang biasa dikucir ke belakang kepala itu pun, kini sudah di pangkas dengan rapi.
“Lexsi, dirimukah itu?” tanya Lusi penuh dengan tatapan tak percaya. Wajahnya bersinar ceria dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
__ADS_1
Sementara yang ditanya tidak menanggapi apa-apa, ia langsung duduk di salah satu kursi, di hadapan kedua orang tuanya, untuk sarapan.
“Ck! Katakan padaku! Wanita mana yang sudah membuatmu berubah seperti itu?”
Mendengar ucapan Lextra, Lexsi pun menyimpan sendok dan garpunya di atas piring.
“Jangan berpikir buruk, aku berubah bukan karena wanita!”
Lextra tersenyum tipis sambil memalingkan muka.
“Omong kosong!” katanya membantah ucapan anaknya sendiri, “Aku juga dulu berubah karena Ibumu!” katanya lagi.
“Iyakah?” ucap Lexsi dan Lusi secara bersamaan.
Lexsi sudah mempertimbangkan semuanya masak-masak, ia tidak mungkin akan datang menjemput Lela, dengan keadaan dirinya yang lama. Ia khawatir kalau Lasio memandangnya sebelah mata, lalu gagal mendapatkan Lela.
Walaupun, ia sangat sayang dengan rambut panjangnya, tapi demi menemui Lasio, ia rela memotongnya dan kini memiliki penampilan yang berbeda.
“Ya. Jadi, apa tebakan Ayahmu benar sudah ada wanita yang membuatmu seperti ini? Siapa dia?” tanya Lusi, sambil mengaduk makanannya. Tatapan matanya penuh selidik, karena ia sendiri belum berpikir sedikit pun tentang pernikahan Lexsi.
Dalam hati ibu itu, belum rela kalau anak sulungnya jatuh cinta pada wanita selain dirinya.
Anak laki-lakinya itu adalah pria penyendiri dan tidak banyak teman serta kenalan. Apalagi selama ini hanya tinggal di peternakan, yang setiap harinya bertemu dengan para petani dan perawat ternak. Hampir tidak ada wanita di sana selain para koki yang membuat makanan untuk para pekerja.
Lalu, bagaimana bisa ada wanita yang membuatnya jatuh cinta. Dia berasal dari mana, apa keluarganya orang baik-baik semua. Pikiran dan pertanyaan itu hinggap di otak Lusi begitu saja.
Lexsi diam, seperti biasa ia enggan membicarakan tentang dirinya.
__ADS_1
“Lexsi, apa kau dengar aku?” tanya Lusi lagi.
❤️❤️❤️❤️