Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Sebuah Rasa Bersalah


__ADS_3

Sebuah Rasa Bersalah


Lela menoleh pada seorang wanita yang memanggil dan ia terkejut karena ada banyak sekali hidangan yang disajikan di hadapannya. Ia langsung duduk dan menikmati makanan itu dia sedang lapar, sejak kemarin belum makan dan hanya minum satu cangkir coklat saat bersama Leksi di kala hujan.


Iya tidak peduli saat makan makanan itu padahal jelas sekali dalam aturan, yang ia baca tadi bahwa hanya boleh makan sesuai yang diperlukan saja dan tidak boleh berlebihan.


Namun, Lela sangat kurus hingga tidak masalah kalau ia memakan makanan itu semuanya. Ia seperti orang yang tidak makan berhari-hari saja. Bahkan, pelayan yang melihatnya keheranan, dibuatnya.


Saat ia setengah kenyang karena sudah menghabiskan banyak makanan, Lulu datang melihatnya dengan tatapan yang dingin dan acuh tak acuh.


Lela tidak tahu apa yang dibicarakan Lulu melalui telepon, ia yakin pasti wanita itu menghubungi Lexsi dan menanyakan kebenaran tentang dirinya apakah benar seorang resi di bis atau bukan.


“Kau benar-benar kelaparan?” tanya Lulu sinis.


“Ya. Maaf aku menghabiskan makananmu!”


“Tidak masalah habiskan saja makanan itu sengaja dibuat untukmu!”


“Benarkah, terima kasih, katakan juga pada Lexsi, aku tidak bisa mengatakan secara langsung padanya karena aku tidak mempunyai telepon genggam!”

__ADS_1


“Ya. Aku akan mengatakannya, Lexsi mungkin benar kau hanya orang yang butuh dikasihani saja.” Lulu mendengus kesal lalu kembali berkata, “kalau kau masih lapar katakan saja padaku!”


Setelah berkata seperti itu, Lulu pun pergi. Ia berjalan ke kamarnya sendiri, sambil memikirkan pembicaraannya di telepon tadi. Lexsi tidak bisa memastikan apakah Lela benar-benar seorang residivis atau bukan.


Lexsi bercerita kepadanya bahwa, Lela pun tidak mengatakan masalahnya secara terus terang. Justru tugas Lulu bertambah, karena ia harus mencari tahu, apa kejahatan yang sudah dilakukan sehingga Lela di penjara.


Sungguh hal yang sangat menyebalkan bagi Lulu, ia enggan berurusan dengan seorang penjahat seperti Lela, orang yang sudah pernah menginjakkan kaki ke tempat di mana semua orang jahat berada. Ia tahu, kalau penjara adalah tempat untuk membuat seseorang menjadi jera, tapi beberapa orang justru tetap melakukan perbuatan yang sama.


Namun, lagi-lagi Lulu tidak bisa berbuat apa-apa, karena Lexsi mengancam, bila ia ingin membatalkan perjanjian, maka ia harus membayar tiga kali lipat dari semua uang yang sudah dikeluarkan menggunakan kartu kreditnya.


Lulu tidak mungkin mengembalikan uang itu dengan jumlah tiga kali lipat, karena tidak masuk akal baginya.


Demi menenangkan hatinya maka Lulu mencoba berpikir positif jika Lela bukanlah seseorang yang lari dari penjara. Namun, ia hanyalah orang yang membutuhkan kasihani orang lain saja, seperti yang diungkapkan Lexsi kepadanya.


Setelah itu ia akan membujuk Lela agar bisa melakukan semua agenda, yang sudah ia susun dengan mengerahkan kemampuannya sebagai ahli gizi sekaligus desainer gaya.


Ia sangat tertantang bekerja sama dengan Lela setiap hari.


$$$$$$$$$$$

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, hari itu Lexsi sedang membelah beberapa kayu bakar untuk perapian di dalam rumahnya. Dan setiap selesai satu buah bongkahan besar maka dia akan berteriak dengan keras seperti mencoba meluapkan beban berat di hatinya.


Seorang pembantu laki-laki lebih dari separuh baya, yang sedari tadi bertugas membawa kayu-kayu yang sudah terbelah ke dalam gudang penyimpanan, akhirnya berani untuk mendekatinya.


Ia merasa prihatin karena sudah beberapa hari terakhir majikannya itu seperti orang yang frustrasi.


“Tuan Lex! Apa kau tidak lelah?” tanya asisten yang sudah berumur itu, ia berjalan mendekati Leksi untuk mengambil beberapa kayu yang sudah selesai dibelah untuk kesekian kali.


Lexsi hanya diam, sesekali ia memejamkan matanya dan menengadah ke langit, seperti sejuta sesal sedang terukir di sana. Ia mengabaikan Loru, asistennya di peternakan yang sering datang membawakan makanan kesukaannya atau mengambil pakaian kotornya untuk dicuci. Seperti hari ini.


“Tuan, kau bisa berhenti, aku bisa menggantikannya untukmu, lihat, kau sudah memenuhi setengah gudang persediaan kayu kita, itu sudah lebih dari cukup bahkan untuk satu bulan!”


Lexsi meletakkan kapaknya dan asisten tua itu segera menyimpannya dengan cepat. Ada rasa khawatir yang sangat jelas, ketika melihat sang tuan yang tampak begitu gelisah. Tidak seperti biasanya Lexsi bertingkah begitu. Biasanya ia seperti es di kutub Antartika yang tidak pernah terusik, tetap kokoh dan dingin.


Namun, beberapa pekan terakhir ia menunjukkan gejala yang belum pernah terlihat sebelumnya, sedangkan asisten itu tidak tahu apa penyebabnya. Ada yang lebih parah lagi, makanan bergizi kesukaan Lexsi yang ia buat hari ini tidak tersentuh sama sekali.


“Tuan, aku sudah tua, dan hanya sebagai asistenmu, tapi aku bisa memegang rahasia kalau kau ingin mengatakan sesuatu dan tidak menemukan orang lain untuk bicara ...,” kata Loru.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2