Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Tanda Lahir


__ADS_3

Tanda Lahir


Di ruang ICU rumah sakit besar di kota, Lexsi tengah berdiri di samping inkubator. Bayi mungil yang masih lemah yang baru saja dilahirkan Lela, berada di dalamnya. Bayi berkulit merah itu terus tertidur, tetapi Lexsi sangat senang melihatnya, karena di wajahnya yang terpejam itu mirip dengan dirinya.


Perasaannya begitu terharu, menyadari kenyataan kalau dirinya sudah menjadi ayah. Padahal ia tidak pernah mengharapkan ataupun terpikirkan di benaknya sama sekali. Namun, ketika melihat anak itu lahir seolah hatinya melambung tinggi.


Setelah puas melihat bayi yang telah terpejam dalam kotak kaca itu, Lexsi beranjak menuju ruangan lain, di mana Lela berada. Sejak kedatangannya, gadis itu masih saja terpejam dan tidak bisa dipastikan sampai kapan ia tersadar.


Saat Lexsi sampai di ruangan itu, Leo sudah berdiri di depan pintu dan menunggunya.


Sudah sejak semalaman Leo sibuk mengikuti arahan majikannya untuk melakukan ini dan itu demi Lela. Walaupun belum tahu siapa gadis itu, tapi ia sudah menyiapkan semua keperluannya di apartemen pribadi Lexsi.


Selama berada di kota dan mengurus perusahaannya, Lexsi tinggal dengan kedua orang tuanya di rumah keluarga besar Humaish. Namun, saat ini ia tidak mungkin membawa Lela dan anaknya langsung ke sana. Ia belum membicarakan apapun tentang perbuatannya. Apalagi ia khawatir jika ibu dan ayahnya tidak menyukai gadis pilihannya.


Kekhawatiran itu bukan tentang kedua orang tuanya, tetapi tentang Lela. Bila mereka tidak bisa menerima, ia tidak mau kalau Lela akan diperlakukan dengan buruk nantinya.


Sementara itu, Leo melihat semua tindakan yang dilakukan oleh Lexsi kepada Lela, membuatnya kemudian berpikir jika tuannya sedang jatuh cinta dan yakin kalau akan menjadikan gadis itu sebagai istrinya. Buktinya mereka sudah punya anak, entah kapan hal itu terjadi.


Leo merasa senang dengan kenyataan yang ia lihat sekarang sebab itu artinya Lexsi masih percaya padanya. Walaupun ia sedikit kerepotan karena diminta untuk mengurus semua keperluan wanita yang dicintai tuannya, ia tetap melakukannya dengan baik. Bahkan ini bersifat rahasia.


Leo merasa masih punya kesempatan lagi, untuk kembali di posisinya semula. Namun, ia belum tahu di mana gadis itu berpihak, pendapat Lela akan pekerjaan yang akan digeluti Lexsi nantinya, sangat berpengaruh terhadap dirinya. Apakah ia mendukung Lexsi tetap menjadi CEO atau menjadi seorang petani. Pilihan dan kenyamanan Lela pada profesi Lexsi, sangat berarti.


“Apa anakmu baik-baik saja, Tuan?” tanya Leo, saat Lexsi sudah berada di hadapannya, sebelum pintu kamar lelang dibuka.


Lexsi mengangguk, tanpa ekspresi berarti di wajahnya.


“Apakah kau akan menikahinya, Tuan? Dia sudah memiliki anak ....” tanya Leo lagi.


Ditanya seperti itu, Lexsi melihat ke arah Leo dengan tajam, lalu melirik pintu kamar Lela yang masih tertutup rapat. Ia menempatkan dua penjaga di sisi kiri kanan, mencegah agar tidak sembarang orang bisa bebas keluar masuk di sana, selain itu perasaannya khawatir kalau-kalau Lela kabur lagi dari dirinya, kakau gadis itu sudah siuman nanti.


Lexsi masih ragu apakah akan benar-benar menikahinya atau tidak, karena ia belum membicarakannya pada kedua orang tua. Namun, setelah melihat anaknya lahir sekarang, ia berubah pikiran. Ia akan melakukan pernikahan secepatnya, walau orang tuanya tidak setuju. Semua ia lakukan demi anaknya, dan juga Lela.


Lexsi sudah membayangkan jika anak itu kelak besar dan berkebun bersamanya, saat ia melihat anak itu di dalam inkubator tadi. Alangkah menyenangkannya mengajarkan anaknya bercocok tanam, dan juga merawat semua ternaknya.

__ADS_1


Lexsi mendengus pelan, pada akhirnya ia berkata, “Itu bukan urusanmu!”


“Aku tahu, itu bukan urusanku .... tetapi aku yakin kalau kau akan menikahinya, entah kenapa aku pikir gadis itu cocok denganmu, Tuan.”


Ucapan Leo seperti bujukan termasuk juga harapan. Ia berpikir jika Lexsi akan lebih tenang dan fokus kalau memiliki pendamping hidup.


“Aku belum membicarakannya, tetapi baiklah, aku akan mengurusnya nanti!”


“Tentu, Tuan. Saya pasti akan membantu.”


Lexsi memalingkan pandangan, setelah menangkap ucapan Leo yang menyimpan sesuatu, tetapi ia mengabaikannya. Lalu, ia membuka pintu kamar dan duduk di samping tempat tidur, di mana Lela masih belum sadar juga, setelah menutup pintunya kembali


“Kapan kau akan bangun?” katanya sambil mengusap pipi Lela. Gadis itu terlihat lebih montok dari saat mereka pertama bertemu. Ia terus mengamati, sambil menggenggam tangannya seolah memberi kekuatan.


“Bangunlah! Apa kau tidak merindukan anakmu?” katanya lagi.


Tiba-tiba pintu di buka dari luar dan Leimena masuk tanpa permisi. Para penjaga tidak melarang, karena mereka tahu ia dokter di rumah sakit itu. Sudah dari semalam ia begadang demi mempersiapkan ruangan untuk Lela dan menunggu kedatangannya. Setelah wanita itu berada di tempat yang semestinya, ia baru bisa istirahat. Setelah itu, ia segera kembali ke kamar Lela, tubuhnya sudah kembali segar dan dibersihkan.


“Kau ini, mengagetkan saja!” seru Lexsi.


“Ya.”


“Sekarang pergilah!” kata Leimena membuat Lexsi tak senang karena terkesan mengusirnya.


“Kenapa kau mengusirku?”


Leimena melihat ke arah Lela dan Lexsi secara bergantian, sambil menarik napas dalam-dalam.


“Apa kau tidak lelah, Lex?”


“Tidak!”


Leimena mencibir sahabatnya yang terlalu antusias hanya karena seorang wanita. Sepertinya pria itu baru saja jatuh cinta, tapi sudah memiliki anak pula! Cih.

__ADS_1


“Biar aku menunggunya di sini!”


Lexsi tidak menjawabnya tapi melemparkan tatapan kesal pada Leimena.


“Jangan berpikir buruk, aku seorang Dokter di sini, jadi aku akan menggantikanmu, mungkin kau mau makan, apa kau tidak lapar?”


“Tidak perlu!” Lexsi menjawabnya acuh tak acuh.


Sedangkan Leimena terlihat gusar karena ia merasa perlu mengusir Lexsi dari sana, ia hanya ingin memastikan sesuatu pada Lela, tentu tanpa sepengetahuan sahabatnya.


“Dengar, Lex! Lihat dirimu dan bercerminlah! Apa kau pikir Lela suka saat dia sadar nanti dan melihatmu seperti ini? Rambut, jenggot kumismu berantakan semua, pakaianmu dari kemarin pun, kau belum menggantinya!”


Leimena diam sejenak untuk melihat reaksi Lexsi.


“Lex, mandi sana, biarkan Lela nanti melihat dirimu yang sudah bersih dan kau bebas untuk menciumnya, jangan sampai dia muntah ketika kau dekati!”


Ck!


“Kau ini!”


“Aku bilang, seorang yang baru dioperasi biasanya mual karena pengaruh anestesi ... kalau kau mendekat dan kau belum mandi, bisa memicu mualnya lebih parah! Apa kau ingin kalau wanitamu itu muntah dan semakin membencimu?”


Lexsi tetap diam.


“Menurutku, dia pasti akan mencarimu kalau tahu hamil anakmu, tapi lihat dia lebih memilih untuk pergi, bukankah itu artinya dia tidak ingin bertemu denganmu? Apalagi kalau kau seperti ini, pertimbangkan nasehatku, Lex!”


Tanpa menjawab apa pun, Leksi keluar dari kamar itu dengan wajah masam. Ia kesal, walaupun mengetahui apa yang dikatakan Leimena itu benar.


Setelah kepergian Lexsi, Leimena menatap lelah dengan seksama Ia membuka penutup tabung oksigen yang menempel di hidungnya setelah menarik nafas dalam ia menutup tabung oksigen itu kembali.


“Benarkah itu dia?” gumam Lemena, lalu ia menyibakkan sedikit pakaian rumah sakit yang dikenakan Lela di bagian bahunya, dan mengusap bahu itu lembut, di mana ada sebuah tanda lahir di sana.


Matanya terpejam sambil mendongak ke atas, lagi-lagi dia bergumam, “Ya Tuhan, ternyata benar itu dia!”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2