
Ayah Bayi Lela
Dokter itu menatap Lexsi sambil tersenyum samar, ia melihat ke arah Lela yang masih belum sadar. Wanita itu berada dalam brankar otomatis medical yang siap di dorong ke dalam ambulans. Selang infus, selang tabung oksigen, sudah dipastikan menempel dengan baik, sedangkan kantung darah sudah habis trentransfer seluruhnya ke dalam tubuh Lela.
Laki-laki berjas putih itu pun berkata, “Dia kehabisan banyak darah, jarak menuju kota sangat lama, jadi kemungkinan akan lebih lama lagi untuk siuman ... Anda harus bersabar, selama kondisi vitalnya bagus maka tidak akan jadi masalah! Saya hanya khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak terduga selama perjalanan saja.”
Lexsi membalas senyum sang dokter dengan senyum samar juga. Semalaman ia tidak tidur, untuk melakukan segala sesuatunya, menghubungi beberapa orang demi mengurus Lela.
Ia membatalkan permintaannya pada Leo untuk menjemputnya, tapi meminta pria itu untuk menyiapkan segala keperluan Lela di apartemen dan dinrumah sakit nanti. Ia menelepon pilot untuk kembali menjemputnya di tempat semalam.
Semuanya Lexsi lakukan setelah ia berhasil menghubungi Leimena dan memastikan jika pria itu sudah mempersiapkan kedatangan Lela di rumah sakitnya.
“Baik, Dok! Saya mengerti. Jangan khawatir, saya akan menjaganya dengan baik!” kata Lexsi sambil menepuk bahu dokter itu pelan, dan mengucapkan terima kasih.
Setelah semua persiapan selesai, dan dokter sudah kembali ke dalam. Lexsi meminta Larin untuk ikut serta dalam ambulans khusus yang akan membawa Lela sampai di tempat helikopter menunggunya.
Larin dan Lexsi sudah berkenalan dan menjadi akrab hanya dalam waktu semalam sampai siang hari itu, tapi mereka sepertinya tidak akan bertemu lagi.
“Larin, aku akan pergi ke kota membawa Lela, di sana dia akan mendapatkan perawatan medis yang jauh lebih baik ... sepertinya aku akan berhutang budi padamu dan saudaramu, kalian sudah sangat baik, termasuk Tuan Lasio, aku akan berterima kasih padanya nanti. Simpan nomorku, kalau kau ingin melihat Lela suatu hari nanti, aku bisa menjemputmu!” kata Lexsi sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Larin tertegun, ia memikirkan keadaan jika Lela seperti anak-anak asuhnya yang lain. Apabila mereka sudah dewasa dan bisa menentukan nasibnya sendiri, maka mereka akan pergi dari Panti.
__ADS_1
Semua manusia akan berproses, menjadi seperti keinginan mereka, menentukan masa depannya sendiri. Sama seperti Lela dan anak lainnya, semua keputusan pergi, bukan lagi tanggung jawab Panti.
Apabila Lela adalah bagian dari anak-anak Panti asuhan, maka ia tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang kehidupan dan masa depannya, ia hanya berharap Lela akan menjalani kehidupan lebih baik, dan melepaskannya dengan senang hati. Pikirannya itu tentu sama dengan saudara kembarnya, termasuk Lasio, sudah berulang kali beberapa anak dari Panti asuhan pergi, meninggalkan mereka setelah mampu hidup mandiri dan menyelesaikan pendidikan.
Awalnya Larin merasa tidak suka dan sempat meragu, karena menurutnya Lasio lebih pantas untuk menjadi pendamping Lela. Namun, setelah melihat kegigihan pria itu dari semalam mengusahakan yang terbaik untuk Lela, akhirnya ia tahu bahwa Lexsi bersungguh-sungguh dalam mencintai.
“Tuan Lex, kalau bersamamu Lela akan lebih baik mengapa tidak? Bawalah dia, cintai dan sayangi seperti kami menyayanginya di sini itu sudah cukup, aku pikir Tuan Lasio juga akan merelakannya juga, karena aku dan saudaraku menganggap Lela sama seperti anak asuhan yang lain, mereka akan pergi kalau sudah dewasa dan mandiri!”
“Hmm ....” Lasio bergumam menanggapinya sambil mengangguk.
“Oh ya! Soal tawaranmu untuk menengok Lela, aku rasa tidak bisa ... seharusnya bukan aku yang pergi ke sana, tapi lebih baik berkunjunglah kalian ke Panti kapan-kapan, itu akan jauh lebih menyenangkan, baik untuk Lela dan juga anak-anak asuhan yang sudah mengenalnya dengan baik di sini.”
“Baiklah!” hanya itu yang diucapkan Lexsi tampan ekspresi wajah yang berarti.
Lexsi menerima kartu itu dan mengangguk, “Baiklah, terima kasih!” katanya.
Setelah itu, rombongan kecil pergi ke tempat helikopter berada.
Larin mengikuti ambulans yang membawa Lela dengan taxsi yang sudah di sewa oleh Lexi untuk mengantarnya pulang. Dari dalam mobil ia melihat Lela yang terbaring di atas crack otomatis dan juga tabung dari bayinya dimasukkan ke dalam helikopter, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Senyum samar terukir di bibir Larin melepas kepergian Lela, perasaannya sedikit lega karena tidak perlu kuatir lagi pada gadis itu.
__ADS_1
Sesampainya di panti, Larin menceritakan semua yang terjadi pada Liran, setelah itu ia menghubungi Lasio dan mengatakan hal yang sama seperti yang ia sampaikan pada saudara kembarnya. Ia tahu kalau pria dermawan itu sangat keberatan dengan sikap Lexsi, sebab Larin mendengarnya menghela napas berat beberapa kali saat ia bercerita.
“Kau tahu, Tuan Las? Orang itu mengaku padaku kalau dia adalah ayah bayi Lela. Kebetulan sekali bayi itu laki-laki dan aku melihat wajahnya sangat mirip, jadi aku pun tidak bisa membantahnya!”
“Apa kau yakin wajahnya mirip?”
“Ya, terutama matanya, Tuan!”
“Baiklah, terima kasih atas informasi ini!”
“Apa kau mengenalnya, Tuan?”
“Ya.”
Lasio sudah menduga sebelumnya jika Lexsi adalah ayah dari bayi yang dikandung Lela, tetapi ia tidak menduga jika pria itu bisa berada di sana pada waktu yang tepat. Ia pun mengira Lexsi mengirim mata-mata.
Ia sudah berusaha sejauh ini untuk mengambil hati Lela, tapi ia salah, karena tidak mengatakan secara jujur kalau ingin menikahinya lebih cepat. Padahal ia mau mencintai bagaimanapun keadaan gadis itu, dan menerima anak yang akan dilahirkannya dengan lapang dada.
Namun, ada kejadian seperti itu, sungguh di luar dugaannya sebab selama ini Lela baik-baik saja bagaimana mungkin dia bisa melahirkan secara prematur. Walaupun tidak suka, tapi semua ini sudah terjadi dan kebetulan ia tidak berada di sana, mungkin memang Lela bukanlah miliknya.
Lasio patah hati untuk ke sekian kali, mencintai wanita yang selalu saja gagal ia nikahi, karena tidak cocok dengan ibunya. Begitu bertemu dengan Lela, Ia pun mencintainya lebih dalam lagi. Namun, takdir membawanya pada kekecewaan, dan menyesal pada dirinya sendiri, mengapa tidak membawa Lela pergi saja ke luar negeri.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️