Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Lexsi Yang Terlambat


__ADS_3

Lexsi Yang Terlambat


Sementara itu, setelah Lexsi mendengar percakapan dua orang itu, ia berpikir tentang Lela yang kemungkinan telah terjadi sesuatu di sana.


Setelah Lein dan Landu pergi, ia kembali ke tempat pesta Loyuan, dengan segera, sambil menahan mual diperutnya.


Sesampainya di ruang privat yang disewa Loyuan, Lexsi segera berpamitan. Kerabatnya itu tidak mempermasalahkan kalau Lexsi keberatan dengan pestanya. Hanya saja beberapa teman dan kerabatnya lain, terlalu melebih-lebihkan keadaan.


“Kenapa kau buru-buru sekali, Lex?” Tanya Lind sambil membelai dada seorang wanita penghibur di sebelahnya.


“Aku tidak bisa! Lakukan saja pesta kalian tanpa aku!” kata Lexsi, sedangkan Loyuan hanya tersenyum dan mengangguk.


“Apa kau akan mencari wanita lain di sini?” tanya kerabatnya itu.


“Ya!” jawab Lexsi singkat, yang dia maksud adalah Lela.


“Baiklah, pergilah! Aku tidak masalah,” ujar Loyuan lagi sambil menepuk bahu Lexsi.


Setelah itu Leksi keluar dan kembali menyusuri rumah privat yang lain. Ia berniat mengurus keberadaan Lela, setelah berpamitan pada pemilik pesta yang dikelilingi wanita itu. Padahal ia belum menyentuh minuman apa pun di sana.


Lexsi datang sangat terlambat, karena ia menemui Lasonda yang memberikan informasi bahwa, ada Lein dan Landu di klub malam dengan gelagat yang mencurigakan. Yakni kemungkinan akan menjual Lela.


Lexsi dan Lasonda sudah berkeliling tempat itu guna mencari keberadaan Lela di setiap ruang privat. Baik sebelum dan sesudah ruangan Loyuan berpesta, tetapi wanita itu tidak ada. Bahkan, ketika mereka tiba di ruang di mana beberapa wanita di pajang untuk di pilih pun, mereka tidak menemukan Lela, hanya ada dua wanita yang tersisa.

__ADS_1


“Apa Cuma wanita itu yang tersedia?” tanya Lexsi pada si mucikari.


“Ya. Wanita lain sudah pergi, bahkan wanita paling aneh di club pun sudah pergi,”


“Siapa saja nama wanita itu?” tanya Lexsi lagi.


“Itu rahasia kami!”


Disaat yang sama, Lasonda menunjukkan lencana kepolisian di hadapan wanita gemuk itu. Mau tidak mau ia pun menunjukkan daftar nama-nama wanita.


“Siapa yang menyewa Lela?” tanya Lexsi lagi setelah melihat nama Lela ada di dalamnya.


“Maaf, aku tidak tahu pasti siapa dia, tapi dia bernama Lasio!”


$$$$$$$$$$


Peristiwa yang terjadi pada Lela sebelum Lexsi datang ke ruangannya.


Lela duduk dengan gelisah, ia tidak tetap berada pada posisi yang sama setelah hampir satu jam menunggu di ruang kaca. Beberapa teman seprofesinya yang duduk secara berjajar bersama, mengomentari sikapnya yang salah tingkah.


Mereka berbisik-bisik memberi penilaian negatif pada Lela yang hanya seorang pendatang baru. Namun, gadis itu tidak menganggap semua komentar perlu diperhatikan, karena ia merasa tak memiliki urusan apa pun dengan orang-orang yang ada di tempat itu.


“Lela!” kata seorang penjaga sambil membuka pintu kaca, membuat Lela kaget begitu juga dengan sua orang lainnya yang tersisa, sebab mereka jelas jauh lebih menggoda. Mereka tahu arti dari panggilan itu, menandakan seorang pria sudah datang untuk menyewa.

__ADS_1


Seorang pria yang berminat, akan membayar sesuai tarif dan ketentuan dari mucikari, sedangkan bayaran pada wanitanya, ditentukan sendiri oleh penyewa. Basar kecilnya tips tergantung dari servis yang diberikan. Kalau pria itu puas maka ia akan mendapatkan tips yang cukup besar dan hanya untuk dirinya sendiri, tidak perlu membaginya dengan si mucikari.


Lela dengan pasrah mengikuti seorang pria yang membawanya ke tempat parkir dan mendekati sebuah mobil mewah berwarna hitam. Ia tidak tahu siapa yang sudah membelinya itu, tapi ia bisa menilai jika mereka bukan orang sembarangan.


Ia seorang pria yang memakai setelan jas rapi dengan postur tubuh ideal serta, cocok untuk menjadi seorang tentara atau polisi. Secara tidak langsung Ia sudah mengingatkan Lela pada Leksi membuat hatinya miris, karena tidak bisa membalaskan dendamnya pada Si Penoda itu.


Lela pun jadi bertanya-tanya mengapa harus dia, bukankah masih ada dua wanita lain yang lebih menjanjikan, sedangkan dirinya sama sekali tidak menarik. Padahal, ia sengaja bergaya seburuk mungkin agar tidak ada yang berminat.


“Silakan!” kata Luras, pria yang sudah membawa Lela, sambil membukakan pintu mobil. Suara asisten pribadi Lasio itu, terdengar ketus dan berat.


Saat Lela masuk, suasana mobil itu gelap hingga tidak bisa melihat seorang pria yang duduk di kursi belakang, dan sedang menunggu. Lela duduk di sebelahnya.


“Namanya Lela, Tuan. Saya melihatnya cocok dengan kriteria yang Tuan inginkan. Mudah-mudahan bisa menyenangkan Anda!” kata pria yang tadi membawa Lela dan ia bicara dari balik kemudi sambil menyalakan mesin.


“Hmm ...,” gumam Lasio, pria yang duduk di samping Lela, ialah orang yang sudah menyewanya. Diam-diam ia setuju dengan pendapat Luras yang menilai Lela sebagai wanita yang dibutuhkannya.


“Lela, mulai sekarang bekerjalah pada Tuan Lasio dengan baik! Kau sudah dibayar cukup pantas oleh Tuan pada mucikari itu!” kata Luras dengan sangat lugas.


Lela tersenyum pada dirinya sendiri yang memiliki nasib seburuk itu, menjadi penjaja diri. Entah apa yang akan ia banggakan di hadapan Lexsi nanti, pikirnya.


Lasio tidak menawar sedikit pun dari tarip yang diinginkan mucikari padanya, ia butuh wanita yang sungguh-sungguh bisa merawat seseorang yang sangat penting.


Lasio sempat berbeda pendapat dengan Luras saat datang ke tempat itu, hanya untuk mencari wanita yang berharap dirinya tiada. Atau wanita yang menjadi penghibur karena terpaksa. Seperti Lela.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2