Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Sebuah Epilog (TAMAT)


__ADS_3

Sebuah Epilog (TAMAT)


“Lela ... Ayah adalah orang yang baik, dia sama sekali tidak pernah berniat meninggalkan kau dan Ibumu, tapi keadaan kami waktu itu memaksanya untuk tetap tinggal ... nenek dan kakek terus saja sakit-sakitan hingga Ayah harus mengurusnya, dan semua terjadi sampai mereka tiada,”


Tanpa menunggu jawaban dari Lela, Leimena memulai bercerita. Ia pikir Lela tetap harus tahu bagaimana ayah mereka.


“Memang Ayah tidak pernah mengatakannya padaku kalau ia ingin kembali kepada kau dan ibumu, tapi aku tahu gelagat dan kegelisahannya waktu itu. Ia pernah bergumam dalam mimpi kalau semua wanita yang dia cintai sudah pergi, sejak saat itu dia terus jatuh sakit dan sebelum kematiannya, dia baru menceritakan semuanya tentang dirimu dan ibumu.”


Leimena berhenti bicara dan melihat pada Lela yang tidak bereaksi apa-apa, ia mendengar dengan baik.


“Lalu, karena kesibukan aku pun tidak punya kesempatan untuk mencari kalian, apalagi kemudian aku menikah dan kesibukanku bertambah ... maafkan aku tidak pernah berusaha untuk mencarimu.”


Lela terdiam cukup lama, begitu pula dengan Leimena.


“Kau tidak perlu meminta maaf, karena semua bukan kesalahanmu,” kata Lela, pada akhirnya.


“Tidak, itu sebuah kesalahan karena menganggap tidak memiliki saudara, seharusnya aku membagi semua warisan Ayah denganmu.”


“Baiklah, itu terserah padamu!”


Lela bersyukur karena tidak ada kenangan buruk tentang ayah. Satu-satunya kenangan yang tidak menyenangkan adalah saat melihat pria yang memberinya kehangatan pergi meninggalkannya, tanpa sebuah alasan. Dan, tidak pernah kembali, sampai saat ini.


Sekarang Lela tahu jika kepergian ayahnya adalah demi Leimena, anaknya yang lain. Pantas saja laki-laki itu tidak mampu untuk mengatakan alasannya, karena khawatir akan menyakiti hati ibunya, walau pada akhirnya tetap menyakiti juga.


Tidak ada kesedihan di hati Lela, walau air mata menetes juga karena teringat akan sang ibu, Lesira, yang setiap hari selalu menunggu kedatangan suaminya. Lela tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya saat itu. Betapa sedihnya bila ia tahu bahwa, laki-laki yang dinantikan pun ternyata sudah pergi juga.


Bila melihat dari tanggal kematian mereka, maka tidak jauh berbeda dari saat kepergian satu dan lainnya.


Lela berdiri secara perlahan dari kursi rodanya, karena memang jahitan di perutnya belum kering benar.


“Dokter Lei, bolehkah aku memeluk kita bersaudara bukan?”


Lela merentangkan kedua tangannya dan Leimena menyambutnya dengan hangat.


Lemina tersenyum. Ia memang sudah ingin memeluk adiknya itu sejak tadi. Inilah sebabnya ia tidak ingin bersama dengan Lexsi sebab apabila mereka berpelukan meskipun sebagai saudara, laki-laki itu pasti tidak akan mengizinkannya.


“Cepatlah sehat, biar kita bisa bebas jalan-jalan bersama keluarga kita masing-masing.” Leimena berkata sambil melepaskan pelukannya, ia mengusap kepala Lela dengan lembut.


Lela mengangguk sambil membalas senyuman kakaknya, sebelum akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.


Epilog

__ADS_1


Lela tengah duduk berdua dengan Lexsi di ruang tengah, di depan sebuah TV layar lebar berada. Mereka berdua kerap kali menghabiskan waktu di sana, sambil memangku dan menidurkan sang buah hati, hasil percintaan mereka yang sama sekali tidak terencana.


Semua keluarga semakin lama semakin akrab, sang bayi kecil pun sudah jauh lebih montok dari saat ia dilahirkan dulu. Nenek dan kakeknya pun begitu bahagia dan sangat gembira. Kehadiran Leriando menambah kehangatan suasana rumah yang biasanya sepi.


Lusy dan Lextra pun berharap Leksi dan keluarga kecilnya tetap berada di sana, untuk menemani dan memberi kehangatan pada suasana rumah mereka.


Setelah tahu kebenaran selanjutnya tentang Lela, kedua orang tua Lexsi pun semakin menyayanginya. Mereka akan membuat pesta besar-besaran untuk menyambut kehadiran sang menantu dalam keluarga.


“Hmm ...,” gumam Lexsi tiba-tiba, membuat Lela menoleh.


“Ada apa? Bagus ya, beritanya?” tanya Lela sambil mengusap tangan kekar Lexsi yang berada di atas pahanya. Kebetulan saat itu bayi mungi mereka sudah tidur.


“Tidak, biasa saja.”


“Benarkah?” Lela berkata sambil beranjak ke pangkuan Lexsi, seperti itulah ia selama ini, lebih agresif demi mengimbangi sikap suaminya yang masih saja kaku, meski sudah sekian lama membina rumah tangga.


“Eumm ...,” Lexsi menjawab dengan gumaman sambil mencium pucuk kepala istrinya.


“Apa kau merindukan kebun dan ternakmu?” Lela bertanya pada Lexsi yang terlihat fokus menatap layar kaca di depannya. Ia melingkarkan kedua tangan ke leher pria yang masih saja melihat berita.


Saat itu Lexsi begitu antusias menyimak berita di televisi tentang pertanian dan peternakan negeri mereka.


Ia hanya khawatir kalau Lela tidak menyukai keadaan di perkebunan serta peternakan yang sangat sederhana, tidak ada fasilitas mewah seperti di menspion milik keluarga.


Tiba-tiba ponsel Lexsi yang ada di atas meja berbunyi nyaring, nama Loru tertera pada layarnya. Ia segera menerima panggilan itu dengan ekspresi yang rumit.


“Halo!” kata Leksi begitu ponsel itu menempel di telinganya.


Sementara Lela sudah turun dari pangkuan Lexsi dan duduk di sofa kembali.


Sejenak Lexsi diam mendengarkan pembicaraan seseorang di ujung telepon.


“Apa kau bilang? Rebecca?”


Hening sejenak, Lela menyimak dengan penuh rasa curiga. Ia tidak tahu siapa Loru, membuat kecurigaannya bertambah. Mereka baru satu bulan menikah, tapi harus dihadapkan dengan keadaan yang mencurigakan, hati Lela tiba-tiba menjadi panas.


“Apa? Monalisa juga?” kata Leksi lagi, kali ini dia segera berdiri lalu beranjak ke kamar dan mengambil kunci mobil tuanya.


“Kau mau ke mana, Lex?” tanya Lela, sambil mengikuti suaminya.


“Aku akan ke perkebunan sebentar, kau tidak perlu ikut, Sayang! Aku akan segera kembali.” Lexi berkata sambil mencium pipi Lela kanan dan kiri.

__ADS_1


“Kenapa aku tidak boleh ikut? Apa kau khawatir aku tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu? Ingat, aku adalah anak seorang petani juga!” Lela berusaha meyakinkan suaminya jika dia akan baik-baik saja, walaupun, ikut serta di perkebunannya.


“Sudah kubilang, kau tidak perlu ikut, jaga saja anakmu di sini!” Lexsi berkata sedikit keras, membuat lelah semakin yakin kalau suaminya menyembunyikan sesuatu. Sebab tidak biasanya Leksi berkata dengan nada tinggi seperti itu.


“Kenapa aku tidak boleh ikut, apa kau tidak ingin aku mengetahui sesuatu?”


“Mengetahui apa, maksudmu? Tidak ada yang bisa kau lakukan di sana, Sayang!”


“Pokoknya aku mau ikut!” Lela terkesan memaksa hingga Leksi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun menitipkan Leriando kepada baby sister dan juga kakek neneknya, sebelum pergi menuju perkebunan mereka.


Lexsi menjalankan mobil tua itu dengan kecepatan tinggi, membuat Lela tercengang jika mobil tua itu sama dengan mobil balap saja lajunya. Selama di perjalanan mereka hanya saling diam.


Sesampainya di sana, Lexsi langsung menuju ke kandang kuda di mana Loru sudah menunggunya.


Loru tidak terkejut dengan kehadiran Lela yang menguntit di belakang majikannya, karena ia sudah mendengar semua cerita tentang gadis itu dari Lasonda—anaknya.


Lela justru terkejut melihat bagaimana reaksi suaminya. Lexsi begitu khawatir mendekati dua kuda betina yang hampir melahirkan.


Pria itu memperlakukan dua kuda betina dengan sangat baik, memberi tepukkan lembut sambil memanggil-manggil nama mereka, Rebecca dan Monalisa.


“Astaga! Jadi, Rebecca dan Monalisa itu kuda yang hampir melahirkan?” tanya Lela tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Memangnya kau pikir siapa?” tanya Leksi sambil mengerutkan kening, ia berjongkok dan terus mengusap-ngusap perut serta leher dua kuda yang sedang meringkik kesakitan karena hampir melahirkan.


Lela mencebik sambil memalingkan muka, ia merasa lucu karena harus cemburu pada dua binatang yang sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya. Ingin rasanya ia marah, tetapi tidak mungkin dia marah pada kebodohannya yang tidak lebih dulu bertanya, siapa Rebecca dan Monalisa.


Tentu saja bagi Lela suaminya tetap salah, mengapa harus menamai kuda dengan nama sebagus itu? Jangan-jangan bukan hanya kuda, tapi kambing dan sapinya juga.


Sekarang ia sadar, ia tidak akan sama dengan wanita lainnya, karena saingan dirinya bukanlah sesama wanita juga, melainkan dengan binatang kesayangan suaminya.


TAMAT


SEKIAN YA CERITANYA TEMAN-TEMAN .... SEMOGA MENARIK BUAT KALIAN SEMUA, DAN SEMOGA BISA MENJADI HIBURAN.


PESAN MORAL DARI CERITA INI ADALAH KITA TIDAK PERLU SALING CURIGA SEBELUM MEMASTIKAN SEGALA SESUATUNYA YA ...?


Baca ceritaku yang lain, “Mencintai Pengobat Luka” kalau kalian suka. Terima kasih atas semua dukungan kalian 🥰


Salam hangat dariku, El Geisya Tin.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2