Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Siasat Lexsi


__ADS_3

Siasat Lexsi


Lela diam dan mengangguk, untuk sementara waktu menerima bantuan dari Lasio adalah hal yang terbaik. Ia mengikuti ke mana pun dirinya dibawa sebab ia yakin, laki-laki yang sudah berusia matang itu tidak akan memperlakukannya dengan buruk.


Sampailah mereka ke sebuah daerah yang sangat jauh dari kota, dan hari hampir tengah malam ketika mereka tiba di sana. Tanpa terasa mereka sudah melalui perjalanan kurang lebih tujuh jam lamanya. Bahkan, Lela pun sudah tertidur nyenyak, kalau bukan karena Lasio yang membangunkan, mungkin ia tidak akan bangun sampai keesokan harinya.


Rumah yang akan ditinggali oleh Lela adalah, sebuah yayasan yatim piatu yang berada di kota terpencil itu. Lasio salah satu dermawan yang membiayai segala keperluan semua orang yang tinggal di dalamnya.


Memang tidak terlalu banyak anak dan pengurusnya, tetapi cukup ramai apabila mereka semua berkumpul dalam satu tempat. Kebanyakan anak-anak di sana adalah, yatim piatu karena orang tua mereka meninggal dunia, akibat gempa dahsyat yang melanda kota dua tahun lalu.


“Jadi, tinggalah di sini, bersama Lerin dan Liran, mereka saudara kembar yang akan mengurusmu!” kata Lasio sambil duduk di tengah rumah.


Pria itu menjelaskan segala situasinya baik pada Lela maupun pada Lerin dan Liran dua orang yang bertanggung jawab pada yayasannya.


Rumah itu memiliki satu tempat yang luas dan dikelilingi oleh kursi, di situlah tempat serba guna, yang dipakai untuk makan, berkumpul dan bermain, sekaligus belajar. Sementara mereka sekolah di tempat yang berbeda. Begitu pula kamar tidur yang terpisah tak jauh dari ruang serba guna.


“Kami senang menerima Anda, Nona. Jangan sungkan!” kata Lerin, dan Lela hanya mengangguk sambil tersenyum canggung, karena ia baru saja kenal dengan dua wanita berambut keriting, yang terlihat ramah dan juga sangat baik padanya.


Malam itu Lasio dan asistennya memutuskan untuk menginap, dan mereka pergi di pagi hari setelah menikmati sarapan bersama anak-anak panti. Mereka sudah sangat akrab dengan Lasio. Bahkan, menganggap pria itu adalah bapak angkat mereka.


Lela begitu terharu melihat keakraban mereka yang tanpa canggung memeluk rasio satu persatu seolah berat melepaskannya pergi. Hatinya pun menjadi hangat juga. Sungguh pemandangan yang jarang terlihat di mana orang kaya yang tidak tersentuh, bisa begitu dekat dan akrab dengan anak-anak yang tidak memiliki orang tua.


“Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu, aku akan mengirimkannya dari kota dan kabarkan keadaanmu setiap hari padaku!” pesan Lasio sebelum pergi.


Lela hanya bisa mengangguk saja sambil tersenyum hangat, begitu juga Lashio memberikan senyum terbaiknya.


Tiba-tiba gadis itu merasa begitu dicintai, oleh laki-laki yang hanya dikenalnya hanya dalam hitungan Minggu.


Setelah kepergian Lasio, Lela melakukan aktivitas sesuai yang diminta oleh Lerin dan Liran saja. Ia sangat suka membantu dua wanita gemuk itu. Mereka adalah wanita yang menjadi korban gempa dan kehilangan pasangan secara bersamaan.


Begitulah keseharian yang akan dilalui Lela, entah sampai kapan ia kan berada di tempat penampungan itu. Ia lebih banyak menganggur dan bermain dengan anak-anak kecil yang belum sekolah, dari pada membantu pekerjaan Lerin dan Liran.


$$$$$$$$$$


Sementara itu, Lexsi duduk dengan tenang di mobilnya sambil melihat ke arah tanah lapang, di mana ia melihat, Landu dan Lein tengah diikat di sebuah tiang oleh sekelompok anak buah Lobo.


Tanah lapang itu terletak di belakang Gedung Summith, sebuah perusahaan pengolahan bahan plastik milik Lobo.

__ADS_1


Lexsi menyeringai sambil mengusap sudut bibirnya yang pecah dan pipinya yang masih sedikit bengkak.


“Apa kau ingin melihat dari dekat, Tuan?” tanya Leo sambil menoleh ke kursi penumpang bagian belakang.


Lexsi hanya menggelengkan kepalanya tanpa suara. Walaupun hatinya masih bingung memikirkan keberadaan Lela, tetapi setidak-tidaknya dia puas karena bisa menepuk kedua nyamuk sekaligus hanya dengan satu muslihat saja.


Saat kejadian di tempat parkir rumah sakit kemarin, Lexsi memang sedikit babak belur, karena perkelahian dengan beberapa anak buah Lobo yang banyak dan cukuo kuat. Bukannya ia tidak bisa menguasai, tetapi ia memang ingin melawan sekaligus menunjukkan kepada Lela bahwa, ia benar-benar ingin membantunya.


Ia sangat waspada, tapi yang membuatnya lengah sebentar saat mengawasi Lela adalah, teriakan Lobo yang tiba-tiba saja datang untuk menghentikan perkelahian mereka.


Lalu, saat ia menoleh kembali di tempat rela berada, gadis itu justru sudah pergi bagai hilang ditelan bumi. Bahkan, saat ia menyelidiki dari CCTV rumah sakit pun, tidak terlihat nomor plat mobil ataupun orang yang sudah membawa Lela pergi dari sana. Ia merasa sangat sial, tetapi bisa mengatasinya dengan baik.


Ketika Lobo datang, Lexsi tengah dikepung lebih dari lima orang. Awalnya ia sedikit kewalahan, tapi berkat kekuatan dan latihannya, ia bisa melumpuhkan empat orang dari mereka. Salah satunya hendak mengejar Lela, tapi saat itulah Lobo muncul.


Ia kemudian berteriak dan menghentikan perkelahian. Begitu melihat Lexsi, ia sangat terkejut karena pria itu adalah, salah seorang yang dikenal juga termasuk salah mitra kerja perusahaan.


Demi menjaga nama baik akhirnya Lobo meminta Lexsi untuk masuk ke mobil van miliknya. Lalu, pria itu mengucapkan maaf berulang kali kepada Lexsi atas kesalahpahaman yang terjadi.


Lexsi pun menceritakan dari awal jika sebenarnya Lela adalah kekasihnya. Paman dan bibinya—Lein dan Landu, sudah membawanya untuk ke klub malam untuk dijual, tanpa sepengetahuannya. Saat itu Lexsi mengaku jika ia tengah pergi ke pedesaan untuk mengatasi masalah di perkebunan dalam waktu yang cukup lama.


“Aku akui kesalahanku, seharusnya aku tidak meninggalkan Lela!” kata Lexsi sambil mengompres lukanya di mobil yang cukup luas dan dua orang itu duduk saling berhadap-hadapan.


Ya, seharusnya Lexsi menjemput Lela sendiri dan dia tidak perlu mengandalkan Lulu, hal inilah yang paling ia sesali selama ini. Bahkan, seharusnya ia tidak melepaskannya di tangan wanita gemuk itu begitu saja. Lexsi bisa melakukannya sendiri di rumah, banyak cara untuk merubah seorang wanita. Sayangnya ia menyadari sesudah semuanya terjadi.


“Ya, aku tidak menyangka kalau Paman dan Bibinya begitu serakah, ingin cepat-cepat mendapatkan uang, atau aku harus menikahinya!”


“Ya. Kenapa tidak?” tanya Lobo lagi sambil mencebik.


“Aku tidak bisa menjanjikan secepat itu, karena Lela ingin meneruskan kuliah!”


“Jadi begitu, tapi kenapa Lela tidak mengatakan apa pun padaku?”


“Anda tidak mengenalnya, dia sangat pemalu!”


“Hmm ....” gumam Lobo sambil mengangguk.


“Apa dia juga tidak mengatakan kalau sedang mengandung anak kami?”

__ADS_1


“Apa?” Lobo hampir melompat dari tempat duduk saat bicara, karena begitu terkejutnya.


“Ya. Lela sedang hamil anakku, aku sudah mencarinya kemana pun. Aku berani membuktikannya demi apa pun itu!”


Lobo terlihat geram dan gelisah, ia mengalihkan pandangan ke berbagai sisi sambil mengerjakan kelopak matanya beberapa kali menunjukkan kekecewaan yang cukup tinggi.


“Akh! Mengapa Lein dan Landu tidak mengatakan apa pun kepadaku?” kata logo sambil mengepalkan telapak tangannya.


“Tentu saja itu salah mereka, tidak menanyakan pada Lela, apa selama ini berhubungan denganku atau tidak? Mereka serakah dan bodoh!”


Hening sejenak karena Lobo tidak menjawab.


“Jadi, jangan salahkan Lela, jangan salahkan Linda karena tidak bisa berbuat apa-apa, setelah tahu Lela sebenarnya hamil, dia tidak mungkin menggugurkan kandungannya karena menyangkut kode etik kedokteran.”


Lexsi sudah berbicara terlalu banyak, hanya demi Lela.


“Jadi, Tuan Lobo! Saya pikir lebih baik Anda menanyakan kebenaran ini pada Paman dan Bibi Lela!”


“Ya. Tentu! Untung saja aku bertemu denganmu, Tuan Lexi! kalau saja aku tidak mengetahuinya, mungkin selamanya Lela akan diam dan akan melahirkan anakmu!”


“Ya. Kau tahu, betapa kecewanya aku saat tidak bisa menemukannya, padahal aku baru menyelesaikan masalahku di perkebunan? Aku sangat ingin membunuh paman dan bibinya itu, mereka tidak mau mengakui kalau sudah menjualnya padamu!”


“Aku tahu bagaimana perasaanmu Tuan Lex!”


“Katakan saja berapa uang yang harus aku keluarkan untuk menggantikan uangmu, Tuan Lobo ... berapa pun yang kau minta, aku akan memberinya sebagai tebusan!”


“Tidak, aku tidak akan membutuhkan tebusan, tapi aku akan melampiaskannya pada dua orang yang sudah menipuku mentah-mentah!”


“Lein dan Landu, maksudmu?”


“Ya.”


“Aku tahu apa yang akan kau lakukan pada mereka, kita pebisnis ... siapa yang rela dibohongi dalam berbisnis? tidak ada!”


“Ya, Anda benar!”


Lexsi pengangguk-anggukkan kepalanya sambil memegang dagu, saat ia mengingat perbincangan antara dirinya dan Lobo waktu itu. Taktik dan siasatnya benar-benar berhasil. Kini Lela tidak harus membalaskan dendam dengan mengotori tangannya sendiri, tetapi cukup menggunakan anak buah Lobo yang tidak punya belas kasihan sama sekali.

__ADS_1


Sekarang Lexsi tidak perlu memikirkan bagaimana hubungan selanjutnya antara Lobo dan sang kekasih, karena pria itu sudah pasti akan melepaskan wanitanya. Apalagi setelah tahu bayi yang dikandung Lela bukanlah benihnya.


❤️❤️❤️


__ADS_2