
Bertemu Lasio 2
Setelah sampai ke rumah, Lexsi berpamitan dengan kedua orang tuanya, karena ia memutuskan untuk kembali ke perkebunan. Ia mempercayakan perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya itu, pada Leo seperti biasa. Namun, kali ini ia meminta Loran dan Lodi untuk ikut serta mengawasi Leo, selama menjalankan tugasnya. Semua ia lakukan karena sudah pernah kecewa dengan asistennya itu.
Dua sahabatnya pernah menyalahkan Lexsi, karena masih mempercayakan perusahaan kepada Leo, padahal pria itu tidak bisa dipercaya. Memang ia sebenarnya berniat memecat Leo saat itu juga, tetapi asistennya bersikukuh dan berjanji untuk memperbaiki kesalahan. Apalagi, Leo adalah orang kepercayaan kedua orang tuanya.
Saat keteledoran Leo terbongkar, kedua orang tuanya itu pun membujuk Lexsi, untuk tetap memperkerjakan asistennya itu di perusahaan. Akhirnya ia pun menyetujui dengan beberapa serat dan hukuman seperti yang selama ini sudah dijalankan. Namun, ia tidak serta merta meninggalkan perusahaan begitu saja, karena tidak ingin dikhianati untuk kedua kalinya.
Loran dan Lodi juga dahulu pernah menjadi pegawainya di kantor pusat, hingga wajar kalau Lexsi meminta dua sahabatnya untuk mengawasi. Mereka pun setuju, karena masih tetap bekerja dia perusahaan cabangnya.
Lexsi mengendarai mobil tuanya keluar dari rumah, setelah semua urusan pengalihan tugas selesai.
Saat di perjalanan menuju ke arah perkebunan, ia melihat mobil Lasio yang sedang berhenti di depan sebuah toko besar, tempat menjual berbagai jenis mainan anak.
Perasaan Leksi sedikit aneh, ia tiba-tiba ingin membeli sesuatu juga di sana, sepertinya menyenangkan, pikirnya. Selain itu, ia juga penasaran dengan yang dilakukan orang seperti Lasio di sana. Laki-laki itu tidak memiliki istri atau pun anak, bahkan ibunya pun belum lama tiada. Mungkin saja pria penyendiri seperti Lasio membutuhkan kesenangan dengan mainan anak-anak.
Tiba-tiba Lexsi berpikir jika dirinya pun pria penyendiri, tak jauh beda dengan Lasio. Selintas memikirkan pria itu, ia jadi teringat akan Lela. Ahk, di mana gadis itu sekarang, sedang apa dia di tempat yang tidak diketahuinya. Ia pun merasa ingin bertemu.
“Apakah ini rindu? Apa Lasio juga menyukai Lela, bukankah mereka pernah tinggal di sana? Apa dia tahu di mana gadis itu sekarang?” Tanya Lexsi dalam hati.
Tidak menutup kemungkinan jika apa yang dipikirkan Lexsi adalah benar. Mengingat mereka adalah pria dengan tipe sama. Bisa jadi menyukai gadis yang sama pula.
Gadis sederhana yang tidak terlalu cantik tapi menarik, punya kepribadian lembut sekaligus tegas dan suka berpetualang. Wanita yang terlihat mudah jika hidup bersama dalam keadaan sulit, dan kuat bertahan walau banyak cobaan datang.
__ADS_1
Sepertinya, hidup dengannya akan sangat menyenangkan. Lela bagai bunga di antara tanaman gandum atau menjadi buah paling merah di antara jagung. Gadis itu juga bisa jadi aroma paling wangi di antara pohon cengkih. Pikiran Lexsi berkelana.
“Tuan Lex!” sapa Lasio ramah, sambil menepuk bahu Lexsi pelan, membuyarkan lamunannya tentang Lela.
“Oh! Apa kabar, Tuan Las?” sahut Lexsi setelah berhasil menguasai rasa gugupnya.
“Baik!”
Mereka saling menjabat tangan.
“Kau sedang belanja mainan di sini?” tanya Lexsi, rasa penasaran sudah mengalahkan rasa gengsi.
“Ya.”
“Untuk siapa?”
“Setahuku kau tidak punya anak!”
“Aku punya banyak anak di panti asuhanku, dan aku punya banyak orang tua di panti jompoku, aku juga punya banyak murid di sekolah-sekolah gratisanku!”
Lexsi mendadak tercengang, ia hampir melupakan pria dermawan dan baik hati seperti Lasio yang begitu terkenal di kota.
“Oh, begitu,” kata Lexai setelah diam sesaat lamanya.
__ADS_1
“Kalau kau ingin membantu kami akan sangat senang menerimanya, kau tahu Tuan Lex?”
“Apa itu?”
“Aku tengah mendirikan bangunan baru bagi para janda dan wanita dewasa terlantar yang ingin tetap menjaga diri! Ternyata mereka sangat banyak, sepertinya akan kubuatkan sebuah perusahaan, yang kelak bisa menanggung semua kebutuhan hidup, walau mereka tidak memiliki pasangan.”
Lasio mengutarakan sebuah rencana yang baru beberapa waktu ini berjalan, tanpa diminta. Lexsi mendengar dengan saksama.
“Kalau ada untuk menampung para anak yatim, ada rumah untuk para jompo, mengapa tidak ada tempat penampungan untuk para janda miskin?”
Lasio menjeda ucapannya.
“Dan, kalau memang mereka masih bisa bekerja, maka aku sudah menyiapkannya, aku akan diberdayakan mereka secara produktif nantinya.” Lasio menjelaskan dengan penuh semangat.
Selama ini, penampungan untuk para wanita dewasa miskin adalah lokalisasi, yang hanya akan dikunjungi para lelaki hidung belang. Seolah hanya itu pekerjaan yang bisa mereka lakukan kalau tidak memiliki pendidikan!
“Miris sekali bukan?” Kata Lasio setelah mengutarakan rencananya.
“Aku akui itu, kau Luar biasa. Lalu, untuk panti asuhan yang mana kau membeli mainan sebanyak ini?”
“Euum ... untuk panti asuhan di pinggiran Desa! Kami akan menyambut kehadiran bayi baru sekitar lima bulan lagi!”
Ucapan Lasio membuat Lexsi teringat usia kandungan Lela, kalau di hitung-hitung dari sejak ia bertemu, usia kandungannya kurang lebih sama. Gadis itu kemungkinan akan melahirkan sekitar lima bulan lagi.
__ADS_1
“Benarkah? Bolehkan aku ikut?” tanya Lexsi antusias.
❤️❤️❤️❤️