
Tak Ada Jalan Lain
Betapa terkejutnya Larin dan Liran saat menoleh ke belakang mereka melihat Lela tergeletak di lantai. Dua wanita itu segera berlari ke arah di mana perempuan hamil yang dititipkan Lasio berada, dengan perasaan panik dan gelisah, tapi tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
“Bibi ....” Lela bicara lirih dengan air mata yang mengalir di sudutnya. Ia meringis menahan sakit luar biasa di sekitar perut, tapi ia tidak melihat jika ada darah segar yang mengalir di antara dua pahanya.
“Astaga! Lela! Kau kenapa?” Tanya Larin sambil mengangkat separuh tubuh Lela dan meletakkan kepala gadis itu di atas pangkuannya.
“Lihat, dia berdarah!” kata Larin lagi, sambil menyibakkan rok Lela dengan gusar. Liran pun melihat Lela dengan tatapan mata yang sama besarnya.
Sementara Lela tidak sanggup lagi bicara, karena seluruh tubuhnya menjadi lemas dan gemetar, selain itu ia pun merasakan sakit kepala luar biasa.
“Kita bawa dia ke rumah sakit, sekarang juga!” ucap Larin.
Liran mengangguk cepat.
“Bilang pada sopir itu untuk mengantarkan kita ke sana! Cepat sebelum dia pergi!” kata Larin lagi.
Liran pun segera berlari ke teras samping, dan sebelum sopir itu memasuki mobilnya ia memanggilnya dengan cepat, lalu mengatakan keadaan Lela. Ia meminta laki-laki itu untuk membawa mereka ke rumah sakit dengan segera. Namun, itusopir minta bayaran lebih dahulu, karena perjanjian mereka hanya mengantarkan dari pasar sampai ke panti asuhan.
“Aku cuman sopir suruhan, jadi aku butuh setoran, berikan uangnya sekarang juga kalau kalian memang mau ke rumah sakit!” kata sopir sambil melirik ke dalam.
Sopir itu berpikir kalau untuk pergi ke rumah sakit jaraknya cukup jauh dari panti asuhan tentu membutuhkan bahan bakar tambahan, karena itu ia meminta bayaran di muka.
Lela mendengar perdebatan itu hingga ia berkata kepada Liran dengan suara lirih. Ia tadi tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri hingga terjatuh.
Lela meminta agar Liran mengambil tas kecil di kamarnya. Ia selalu dibawa benda itu ke mana pun ia pergi. Gadis itu masih ingat jika dia menyimpan kartu kredit milik Lexi yang tetap tersimpan di dalamnya. Berulang kali ia ingin mengembalikan tapi belum ada kesempatan.
__ADS_1
Melihat keadaan diri dan juga kepanikan dua wanita kembar yang sudah begitu baik padanya, Lela tidak mempunyai jalan lain selain menggunakan kartu itu, untuk membiayai pengobatannya di rumah sakit. Semua wanita yang ada di tempat itu, tidak tahu apa yang harus dilakukan selain pergi ke sana.
Setelah ketiga wanita itu menyanggupi untuk membayar sewa kendaraan, sopir itu akhirnya mau membantu mereka yang begitu memohon padanya. Tak lama setelah terjadi kesepakatan sopir, Liran dan Larin, pun mengangkat tubuh Lela dan mendudukkannya ke salah satu kursi mobil itu. Namun, hanya Liran yang kemudian ikut mendampingi, sedangkan Larin, tetap berada di Panti Asuhan.
Sesampainya di rumah sakit, yang dituju, para tenaga medis segera menangani Lela dengan baik. Namun, itu adalah sebuah rumah sakit sederhana dan tidak memiliki fasilitas lengkap, layaknya rumah sakit besar di kota.
Dokter di sana menyarankan agar melakukan operasi Cesar demi menyelamatkan ibu dan bayinya, tapi semua prosedur membutuhkan biaya dan juga tanggung jawab keluarga. Lagi-lagi Lela menggunakan kartu kredit yang sama untuk membiayainya.
$$$$$$$$$$
Lexsi tengah duduk termenung di depan perapian dengan kayu bakar yang dia belah sendiri. Malam itu, ia baru selesai menikmati makan dalam kesunyian dan masih banyak tersisa seperti biasanya.
Rambutnya mulai gondrong, begitu juga kumis dan jenggotnya sudah sangat lebat. Berbulan-bulan ia tidak memikirkan penampilan seperti biasanya. Setiap hari ia hanya bergelut dengan pekerjaan kasar, karena ingin menghukum dirinya sendiri. Ia sibuk di perkebunan dan juga mengurus ternaknya bersama Loru dan beberapa pekerja lainnya.
Setiap hari melatih kuda, membelah kayu bakar untuk perapian, meskipun persediaan di gudang sudah cukup banyak. Terkadang saat ia mencicipi buah-buahan yang dipanen, semua terasa pahit. Tidak ada satu pun yang manis, sepahit hati dan perasaannya yang merindukan Lela.
Pria itu benar-benar menuruti perintah Lasonda, untuk menjaga diri dan tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Lela. Meskipun begitu, ia selalu menerima informasi dari sang detektif jika wanitanya baik-baik saja. Lasio sudah merawatnya dengan sangat baik.
Ia pernah pergi ke panti asuhan itu, tepatnya sekitar sebulan yang lalu, karena penasaran. Namun ia justru jadi sakit hati, hanya bisa melihat Lela hanya dari kejauhan saja.
Ia mengikuti nasehat Lasonda bukan karena setuju dengan pemikiran pria itu, tetapi karena keputusannya sendiri. Waktu itu ia secara tidak sengaja mendengar dua wanita kembar bicara jika Lela tidak ingin menemui laki-laki, yang sudah membuat dirinya berbadan dua.
Setelah mematikan televisi, karena merasa tidak acara yang bagus, Lexsi mengalihkan matanya untuk melihat layar ponsel. Namun, hal itu pun tidak menarik sama sekali sebab semua grup chat sepi, hanya teman-temannya saja yang selalu berbalas pesan. Grup chat itu hanya beranggotakan dirinya, Lodi, Leimena dan Loran saja. Ia enggan bergabung di dalamnya. Semua isi percakapan mereka, hanyalah candaan yang tidak ada gunanya.
Baru saja ia melemparkan benda pipih itu ke sofa kosong di sampingnya, ia mendapatkan notifikasi pesan masuk yang tidak biasa, itu adalah pesan jika seseorang sudah menggunakan kartu kredit miliknya.
Lexsi pun tercengang saat kembali melihat ponselnya. Ia lebih terkejut lagi melihat pemberitahuan dari penarikan itu berasal dari sebuah rumah sakit dengan jumlah yang cukup banyak.
__ADS_1
Tiba-tiba ia merasa tidak enak dan hatinya terpaut dengan Lela.
“Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu padanya?” pikir Lexsi, sambil berdiri dan langsung menghubungi Lasonda.
“Ya, Tuan!” sapa Lasonda begitu ponsel mereka saling terhubung.
“Apa ada rumah sakit di sekitar panti asuhan itu? Apa jaraknya jauh dari sana?” tanya Lexsi tanpa basa basi, membuat pria di seberang telepon bingung. Namun, belum sempat ia bicara, telepon langsung di tutup secara sepihak.
Sepertinya Lexsi memutuskan untuk mencari sendiri letak rumah sakit, yang namanya tertera pada notifikasi pencairan kartu kreditnya.
Lasonda tidak banyak berpikir, dan langsung mengecek keberadaan Lela, melalui kamera pengawas yang ia pasang secara diam-diam di beberapa lokasi panti. Pria itu baru mengerti maksud Lexsi setelah tahu apa yang terjadi.
Sementara itu, Lexsi langsung menghubungi seseorang dan setelah 30 menit kemudian, sebuah helikopter terbang berputar di atas rumahnya. Pria itu tidak membuang waktu jika pergi ke tempat Lela dengan menggunakan mobil, mengingat jarak yang ditempuh demikian jauh.
Sekitar 30 menit pula Lexsi sudah sampai di dekat rumah sakit, karena tidak ada tempat untuk mendaratkan helikopter, maka Lexsi turun dari jarak yang cukup jauh. Ia berjalan dengan cepat menuju ke sana begitu kakinya menjejak tanah.
Setelah tiba di depan pintu masuk rumah sakit, Lexsi melangkah perlahan sambil menghubungi Leo. Ia meminta pria itu untuk menjemputnya besok di lokasi yang sama. Usai menelepon, laki-laki itu mencari informasi soal Lela di meja receptionis.
“Siapa penanggung jawabnya di sini?” tanya Lexsi, setelah mengetahui keadaan Lela yang masih berada di ruang operasi.
“Nyonya Liran!” jawab petugas informasi, membuat Lexsi merasa lega, sebab bukan nama Lasio yang ada di sana hingga ia tidak perlu bersitegang dengan pria itu untuk mempertahankan Lela.
Lexsi merasa dirinyalah yang paling berhak atas wanita itu walaupun selama ini Lela hidup dalam kasih sayang Lasio. Toh pria itu memberikan kasih sayangnya pada siapa saja, tidak peduli anak-anak, orang tua atau wanita dewasa. Sementara dirinya akan melimpahkan kasih sayangnya hanya untuk Lela.
Lexsi hendak melangkah ke ruang operasi yang di tunjukan oleh petugas informasi dan tindakan pada kandungan Lela yang mengalami pendarahan itu masih belum selesai.
Tiba-tiba, seorang perawat berjalan ke bagian informasi dan mengabarkan jika seseorang yang sedang menjalani operasi kekurangan darah. Lexsi dengan cepat mendekati wanita itu dan bertanya.
__ADS_1
“Apa pasien yang kekurangan darah itu bernama Lela?”
❤️❤️❤️❤️