Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Pantai Larus


__ADS_3

Pantai Larus


 


Lulu hanya menikmati makanan secukupnya, setelah pesanan datang, karena ia tidak mungkin menghabiskan sisa makanan yang masih terlalu banyak. Ia segera meninggalkan restoran dan menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke rumah.


Semua urusan Lela, ia serahkan kembali pada Lexsi, karena wanita itu hanyalah menjalankan rencana Loran saja, untuk membawa Lela pulang.


Mereka awalnya terlalu meremehkan, saat mengeksekusi rencana untuk menjemput Lela, terasa sangat mudah, karena secara kebetulan wanita yang menjadi alasan Lela bertahan, sudah meninggal dunia. Tidak seperti dugaan mereka sebelumnya yang akan menggunakan berbagai siasat agar Lasio mau percaya dan mengizinkan gadis itu pergi bersama Lulu.


Namun yang terjadi justru di luar dugaan mereka jika hambatan datang bukan dari kediaman Lasio, melainkan dari orang yang tidak dikenal dan berusaha menculik Lela.


Setelah Lulu pergi, di sekitar restoran terlihat dua orang yang tengah melihat-lihat keadaan, mereka adalah Lein dan Landu. Suami istri yang tadi sengaja menguntit Lela sejak keluar dari rumah Lasio.


“Apa wanita itu sudah pergi?” tanya Landu pada istrinya.


“Sepertinya sudah, ayo! Kita pergi dari sini!”


“Telepon dua laki-laki itu sekarang juga!”


“Aku sudah mengirim pesan pada mereka, cepatlah, mereka sudah menunggu di Pantai Ralus!”


Dua orang suami istri itu berjalan menuju toilet pria, di mana mereka menyembunyikan dan mengeluarkan tubuh Lela yang dalam keadaan pingsan. Setelah berhasil mendudukkan gadis itu, di salah satu jok mobil, mereka mengendarai kendaraannya ke arah pantai yang kebetulan tidak jauh dari restoran.


Lein dan Landu, sudah menunggu kesempatan, untuk mendapatkan Lela kembali sejak sehari gadis itu bersama dengan Lasio. Namun, Ketatnya penjagaan di rumah itu, membuat mereka tidak bisa masuk.


Berulang kali sudah mereka meminta izin pada penjaga keamanan dengan mengatakan alasannya yang  ingin bertemu dengan Lela karena ia adalah saudaranya.

__ADS_1


Namun alasan itu dinilai kurang tepat oleh para penjaga keamanan. Setiap kali mereka datang ke rumah Lazio, penjaga keamanan akan menelepon majikannya. Lalu, mereka menanyakan tentang kebenaran tamu yang mengaku saudara Lela, tapi setiap kali itu pula Lasio melarang Lein dan Landu menemui keponakannya.


Pria itu tentu khawatir apabila dua orang yang dia ketahui memiliki perangai buruk, akan mengambil Lela darinya sehingga ia kerepotan untuk mencari wanita lain yang bisa diterima oleh ibunya.


Sesampainya di tepi pantai yang cukup indah, Landu turun dengan cepat dari mobilnya, setelah memarkirkannya di tempat yang teduh. Sementara, Lein masih tetap berada di mobil. Ia menunggu suaminya mencari seseorang yang sudah berjanji dengan mereka akan bertemu di tempat itu.


Tidak lama kemudian, Landu berjalan bersama dua laki-laki tampan bertubuh atletis, yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana sebatas lutut. Mereka berjalan di belakang Landu sambil bergandengan tangan, menuju mobil yang terparkir dengan jarak yang cukup bau jauh.


Sementara itu di dalam mobil, Lela sudah membuka mata dan melihat keadaan yang asing di sekitarnya untuk beberapa saat ia tetap terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi sebelumnya.


Namun, setelah kesadarannya benar-benar pulih, ia menengok ke kanan dan ke kiri, lalu menemukan seorang wanita yang duduk membelakanginya di kursi bagian depan.


Lela memperhatikan perempuan itu dan begitu mengenalinya, ia pun segera terbangun dengan menegakkan punggungnya. Lalu, berusaha keluar dari dalam mobil yang ternyata semua pintunya terkunci.


Menyadari Lela sudah tersadar, Lein menoleh dengan cepat sambil menyeringai, menatap penuh kebencian pada keponakannya itu.


“Bibi ...! Apa maksud semua ini mengapa kau memperlakukan aku seperti ini, bahkan kau tega membiusku untuk apa?”


“Kalau kau ingin tahu untuk apa Aku melakukan ini padamu? Tunggu sebentar lagi ... kau akan tahu!”


“Kenapa kau berubah Bibi ...? Dahulu kau sangat baik, bahkan kau mau merawat ibuku, apakah hanya karena sepetak warisan itu? Ya, ambil saja, asal kau bebaskan Aku!”


Lela diam sejenak, sambil mengusap air matanya yang tidak menetes.


“Ahk ...! Aku tidak menyangka Bibi begitu tega setelah menikmati semuanya, semua harta ibuku!”


Lein mendengus dan memalingkan muka, lalu kembali menatap Lela dengan wajah yang cemberut.

__ADS_1


“Apa kau pikir semua harta yang kau miliki itu, bisa menebus waktuku saat mengurus ibumu? Tidak! Betapa terhinanya aku harus mengurusi orang yang tidak berdaya dan kadang-kadang dia suka memakiku setiap waktu? Kau pikir aku tidak jijik mengurus perempuan yang penyakitan dan aku harus membuang kotorannya dan memandikan dengan seluruh waktuku?”


“Kenapa Bibi tidak bilang kalau tidak menyukainya? Aku bisa menghentikan sekolah untuk mengurus Ibu, kalau kau memang tidak mau.”


Air mata Lela terus meleleh karena mengingat ibunya.


“Omong kosong! Aku sudah mengatakan kalau kau bisa mengurusnya, tapi dia selalu bilang bahwa kau sangat berharga dan harus menjadi seorang sarjana agar hidup bisa lebih sukses dari dirinya, untuk membalaskan dendam pada Ayahmu!”


“Kau tidak tahu saja kalau Ibumu itu tega memperlakukan aku seperti pembantu yang melayaninya ini dan itu! Jadi wajar kalau aku menikmati semua harta yang dimilikinya bukankah kau seharusnya bersyukur?”


Lein bicara sambil membetulkan posisi duduknya, yang menengok ke belakang, sedangkan Lela masih menangis.


“Lihat ... aku tidak mengusirmu .. tapi kau justru kabur dan tidak sopan padaku! Semua yang sudah aku nikmati dari hartamu itu, tidak sepadan dengan apa yang sudah aku lakukan untuk Ibumu! Tahu?”


Lein selesai bicara di saat bersamaan dengan kedatangan Landu, yang membuka pintu mobil, untuk Lela. Ia menyeret wanita itu keluar dan diberikan kepada dua pria, yang masih saja bergandengan tangan.


“Ini!” katanya dengan suara keras sambil memegangi bahu Lela.


Lein ikut keluar dan berdiri di samping suaminya.


“Bagaimana, kalian suka, kan?” tanya Lein dengan wajah berbinar-binar.


 


❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2