
Curiga Soal Apa
Lela menyebut nama ibunya, dalam tangis, hanya wanita itu yang mencintainya, sedang ayahnya pun entah ada di mana. Ia tidak ingin kelak anaknya tumbuh seperti dirinya!
Perbuatan paman dan bibinya yang membuat Lela terjebak dalam perjanjian konyol dengan Lobo, membuatnya benar-benar terpaksa menerima kehadiran janin itu dengan lapang dada.
Lela kemudian berpikir logis, sambil meringkuk di tempat tidur, “Akankah aku akan terus terpuruk seperti ini dan pasrah?”
Ia harus meminta pertolongan agar bisa keluar dari tempat itu sekarang juga, sebab ia sedang hamil dan akan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, meskipun hanya seorang diri . Gadis itu ingin sekali pergi.
“Kalau aku bisa kabur dari sini, apakah aku harus menemui Lexsi?” Pikir Lela.
$$$$$$$$$$
Lexsi memaksakan dirinya untuk bangun, setelah ia hanya bisa berbaring selama satu beberapa pekan terakhir. Ia sedang sakit dan kedua orang tuanya hanya bisa pasrah.
Mereka sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh, dan anehnya, hasil pemeriksaan menunjukkan jika pria itu sehat. Tidak ada penyakit berat yang bersarang di tubuhnya.
“Apa kau tidak curiga?” kata Lusi pada suaminya hari itu.
“Curiga soal apa?” Lextra balik bertanya. Mereka sedang duduk di ruang tengah.
“Lexsi, anakmu ... ia seperti orang yang hamil saja.”
“Apa kau bercanda, mana ada anak kita hamil, dia laki-laki!”
Lusi mencebik sebab pada kehamilan identik, bisa saja menyebabkan seorang prialah yang merasakan morning sickles setiap hari.
“Bisa saja dia menghamili seorang wanita, lalu dialah yang merasakan mual,” kata Lusi lagi sambil memalingkan pandangannya, karena Lexsi baru saja melewati mereka menuju ke wastafel, untuk memuntahkan isi perutnya.
“Apa Kau pernah melihatnya bersama seorang wanita? Aku tidak percaya, yang aku pikir, mungkin dia menghamili sapi-sapi atau kudanya! Coba kau tanyakan saja pada Loru, apa ada sapi atau kuda Lexsi yang bunting!”
Plak!
Lusi memukul pundak suaminya cukup keras membuat pria itu meringis kesakitan.
“Kau sudah berpikir sekotor itu? Ayah macam apa kau ini, hah?” Lusi sedikit tersengal saat ia bicara, sambil mencubit lengan Lexra dengan sangat kuat.
“Aaw!”
__ADS_1
“Dengar, kalau memang anakmu itu menyukai semua ternaknya, bukan berarti dia memiliki moral sebejat itu! Hentikan pikiran kotormu! Tidak mungkin Lexsi pernah melakukan hal semacam itu!”
Lexsi melirik kedua orang tuanya dengan tatapan kesal, iya tahu kalau dua orang itu sedang menggunjingkan dirinya. Ia pun kembali masuk ke kamar, sambil membanting pintu.
Semua parfum dan wewangian di kamarnya sudah disingkirkan oleh asisten rumah tangga. Obat apa pun yang diberikan Leimena, sahabatnya yang berprofesi sebagai seorang dokter, tidak berguna. Sebab setiap kali ia minum obat atau mencium sesuatu yang beraroma, maka ia akan muntah mengeluarkan semua isi lambung. Bahkan, sering yang keluar dari mulutnya hanyalah berupa cairan belaka.
Lexsi mengambil ponsel yang terus berdering, dengan malas. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan kabar tentang Lela, dari semua sumber informan yang ia sebar untuk mencarinya. Namun, ia tidak punya kekuatan sama sekali walaupun, hanya untuk berdiri. Seperti saat ini, ia hanya mengangkat telepon Kalau benda itu sudah berdering beberapa kali.
Sejak Lulu memberi kabar padanya jika Lela hilang, ia langsung meminta rekaman cctv, dari pemilik restoran yang menjadi tempat kejadian. Dari rekaman itu ia tahu bahwa Lela kembali di bawa pergi oleh paman dan bibinya.
Namun, ke mana kepergian mereka dan di mana Lela sekarang berada, ia tidak tahu. Semua usaha sudah dikerahkannya untuk menemukan gadis itu, tapi sampai saat ini ia belum berhasil.
“Hai!” teriak Laimena yang melakukan panggilan video. Ia hanya memastikan kalau Lexsi baik-baik saja hari itu. Kesehatan sahabatnya adalah tanggung jawabnya selama ini, sebagai teman sekaligus dokter keluarga.
“Untuk apa kau menelepon? Dasar tidak berguna,” tanya Lexsi malas sekaligus kesal, “semua obatmu tidak bisa menyembuhkanku, sudahlah jangan menelepon kalau tidak penting! Kecuali kau membawa informasi tentang lela!”
“Hai, Aku bukan polisi, mana bisa Aku cari keberadaan gadis itu kecuali dia sakit di rumah sakit ini dan aku yang menjadi dokternya! Baru aku bisa memberikan informasi secepatnya padamu!”
“Tunggu sebentar!” kata Leksi tiba-tiba.
Saat itu Leimena sedang menggerakkan kamera ponselnya, dan ia yang sedang berdiri di ujung koridor tanpa sengaja merekam seseorang yang berjalan di belakangnya.
“Ada apa?” tanya Leimena, yang heran karena tiba-tiba Leksi terdiam tapi menatap tajam ke arahnya dari balik layar.
“Aku melihat Lela, dia ada di belakangmu tadi dan masuk ke ruangan yang di sebelah kanan ... di belakangmu! Ruangan Apa itu?” tanya Lexsi antusias.
Leimena menoleh sambil mengerutkan alisnya, karena ruang yang ada di belakangnya itu, khusus untuk wanita yang hendak memeriksakan kehamilan.
“Lex, apa dia hamil dan kau yang menghamilinya?”
Otak Leimena segera berpikir dengan cepat menghubungkan antara penyakit Lexsi dengan kemungkinan jika benar Lela hamil, karena perbuatannya. Bisa jadi penyakit sahabatnya saat ini karena kehamilan identik. Pada beberapa kasus hal itu memang terjadi.
“Tidak mungkin!” tukas Lexsi tegas, ia menolak untuk percaya kalau gadis itu hamil, karena ia hanya sekali melakukannya.
“Apa yang tidak mungkin, Lex? Coba jujur padaku apa yang sudah kau lakukan padanya waktu itu?”
“Memangnya apa yang aku lakukan?”
Lexsi tidak mungkin mengakui kalau sudah melakukan sesuatu pada Lela karena teman-temannya pasti akan menertawakannya sekarang juga. Apalagi ia sudah berbohong dengan mengatakan tidak tertarik padanya. Padahal jelas-jelas wanita itu sudah membuat hatinya gelisah tak keruan.
__ADS_1
“Aku tidak lupa, Lex! Aku masih ingat cerita Loran dan Lodi waktu kalian menemukan gadis itu di hutan, kau mengunci diri di kamar dengannya, aku benar, kan?
“Kalian benar-benar sialan!”
“Kau yang sialan, Lex!”
“Aku tidak melakukan apa-apa!”
“Apa kau berani bersumpah, Lex?”
Lexsi diam.
Leimena menutup teleponnya secara sepihak dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan tadi.
Iya bertemu dengan Linda dan menanyakan secara detail tentang Lela. Tentu saja Linda menutupi informasi yang sebenarnya, tapi Leimena merasa lega sebab ia sudah memiliki satu informasi yang sangat penting untuk disampaikan pada Lexsi jika Lela benar-benar hamil.
“Kalau boleh aku tahu berapa usia kandungan Lela sekarang, Dokter Lin?” tanya Leimena yang duduk di kursi konsultasi di hadapan Linda.
“Sudah hampir dua bulan dan semua baik-baik saja, kenapa kau ingin tahu tentang dia apa kau mengenalnya, Dokter Lei?”
“Bukan, tapi dia mantan kekasih temanku.”
“Siapa temanmu itu, Loran atau Lodi?”
“Eh, terima kasih kau sangat perhatian padaku, Dokter Lin, tidak kuduga kau masih mengingat mereka!”
“Bagaimana aku tidak ingat, setiap kali mereka berdua datang mengunjungimu ... mereka selalu membuat ramai kantor kita, bukan?”
“Eh iya, maafkan aku ..., tapi Lela bukan mantan dari mereka tapi temanku yang lain, aku tidak tahu kalau sekarang dia sudah menikah dengan Tuan Lobo!”
“Oh. Aku tidak tahu menahu kalau soal pernikahan Tuan Lobo dengan wanita itu, aku hanya tahu berdasarkan data.”
“Ya, itu sudah cukup. Maafkan aku, terlalu penasaran soal gadis itu dan merepotkanmu, Dokter Lin!”
“Tidak masalah, Dokter Lei.”
Tiba-tiba terdengar suara telepon berbunyi dari salah satu di antara Leimena dan Linda, membuat percakapan dua dokter itu terhenti.
❤️❤️❤️
__ADS_1