
Kepergian Lina
Lasio tertegun, mendengar ucapan Lela yang dari awal terkesan menjaga jarak dengannya. Wanita itu selalu mengingat tentang kesepakatan mereka.
“Hmm ... aku tahu. Jadi, istirahatlah! Sekarang giliranku.”
“Apa Tuan tidak bekerja?”
“Sekarang aku tidak terlalu sibuk ....”
Lasio selalu ramah dan lemah lembut, terlepas dari masa lalu Lela, tapi tetap baik di matanya. Ia tidak tahu apakah gadis itu benar-benar seorang penghibur atau bukan, tetapi yang dilihatnya sekarang dia bukan wanita yang kotor.
Bukan tanpa sebab Lazio memikirkan hal itu, karena selama berada di rumah dan mengurus ibunya, Lela tidak pernah bersikap genit ataupun menggoda. Padahal, menurut informasi yang Lasio dapatkan, Lela pernah beberapa kali berada di klub malam.
Namun, sebenarnya Lela berada di sana bukan atas kemauannya sendiri, melainkan paksaan dari Landu. Meskipun begitu, dia selalu berhasil kabur. Saat bertemu dengan Lasio adalah hal yang paling sial baginya, karena benar-benar tidak bisa melarikan diri lagi. Landu terlalu waspada kali ini hingga ia berhasil menjual Lela, sesuai dengan harga yang diinginkannya.
Lela memang tidak bisa melarikan diri waktu itu, tetapi Lasio orang yang sudah menyelamatkannya, secara tidak langsung membantunya selamat dari dunia kegelapan yang disuguhkan Landu! Gadis itu merasa sangat berhutang budi.
“Aku jadi ingat ucapan Ibuku, dia pernah bilang kalau orang baik akan selalu dikelilingi oleh orang baik juga, terkadang kita mengharapkan bantuan dari seseorang, tapi justru orang lain yang menolong,” kata Lela, sambil duduk di sisi pembaringan dekat dengan Lasio yang sedang memijit punggung Lina, wanita itu terus saja terbatuk sampai mengeluarkan air mata.
Tak lama setelah itu Lina pun berhenti dari batuknya, lalu mengatakan pada anaknya kalau ingin kembali tidur. Namun, Lasio tidak segera pergi dan tetap berada di sana, duduk di sofa secara berhadap-hadapan dengan Lela, setelah menyelimuti dan memastikan ibunya tertidur.
Ia segera pulang setelah bertemu Lexsi, dan ingin memastikan kebenaran ucapan laki-laki itu langsung dengan Lela. Namun saat tiba di rumah, ia melihat Lela tertidur pulas di sofa, karena kasihan Ia membiarkan wanita itu dan tidak membangunkannya.
“Kenapa tidak tidur lagi?” Lasio memulai pembicaraan.
__ADS_1
“Aku sudah tidak mengantuk.”
“Apa kau tidak keberatan Kalau aku menanyakan hal yang pribadi padamu? Aku hanya ingin menanyakan tentang seseorang.”
Lela menggelengkan kepala, ia memberikan kesempatan pada Lasio untuk menanyakan satu hal saja.
“Siapa dia, Tuan?”
“Apa kau punya kekasih bernama Lexi Humais?”
Lela tertegun, tiba-tiba merasa mual karena mendengar nama itu disebut. Kalau saja nasib tidak mempermainkannya, mungkin ia sudah berhasil membalaskan dendamnya pada sang Penoda. Kalau saja sekarang ia bisa bertemu Lexsi, ingin sekali ia memaki pria itu.
Lela yakin kalau Lexsi adalah orang yang sudah membuatnya tidak sadarkan diri dan kemudian menodainya dalam keadaan tak berdaya. Jika mengingat hal itu, ia ingin sekali memukul, membunuh, memutilasi atau apa pun yang bisa memuaskan amarah dalam dirinya.
Masih ada satu barang milik Lexsi yang berada padanya yaitu, sebuah kartu kredit yang tidak sengaja terbawa, saat berbelanja di mall bersama Lulu waktu itu. Ia selalu membawa tas kecil yang dibeli kemana pun ia pergi termasuk saat ia dibawa ke klub malam oleh Landu.
Namun, belum sempat Lela menjawab pertanyaan Lasio, mereka terkejut, karena terdengar suara aneh seperti melenguh dari arah tempat di mana Lina tengah tertidur pulas.
Lesio segera beranjak dan mendekati ibunya, ia melihat mata ibunya terbuka serta tubuhnya gemetar, setelah itu diam tak bergerak lagi.
“Ibu Apa yang terjadi padamu?” pekik Lasio panik sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang tetap tidak bergerak lagi. Ia kemudian menghubungi seseorang melalui ponsel.
Laki-laki itu mengatakan dengan cepat, pada dokter pribadinya di seberang telepon tentang keadaan ibunya.
“Apa kau pernah mendapati Ibuku seperti ini sebelumnya?” tanya Lasio pada Lela yang juga terlihat sangat panik.
__ADS_1
Lela menggelengkan kepalanya, sambil berkata, “Maa, Tuan. Aku tidak pernah mendapati Nyonya seperti ini saat bersamaku!”
Setelah berkata Lela beranjak dari sana untuk memanggil dua asisten yang tadi dimintanya untuk beristirahat.
Saat dua asisten wanita itu sudah berada di dalam ruangan Lina, mereka bertiga melihat Lasio yang begitu panik dan berjalan mondar-mandir di dekat tempat tidur ibunya. Mata pria itu terlihat berkaca-kaca, banyak pikiran buruk berkecamuk di otaknya.
Tak lama setelah itu, dokter pun datang memeriksa wanita tua yang terbujur kaku di tempat tidur dengan saksama. Kemudian, dokter pun mengatakan jika wanita itu sudah tidak bernyawa. Betapa terkejutnya semua orang yang ada di ruangan itu karena tidak menyangka akan kepergian Lina.
“Tuan Las, kepergian Nyonya adalah sebuah yang wajar, karena tidak ada hal yang mencurigakan dari ciri-ciri fisiknya, ini sudah ketentuan dari jalan hidup yang harus dilalui Nyonya. Saya yakin anda sudah bersiap cukup lama untuk hal seperti ini bukan?”
Dokter itu diam sejenak melihat reaksi Lazio yang tetap diam menunduk, menatap lekat wajah ibunya. Sementara Lela dan asisten lainnya, hanya melihat peristiwa itu dari dekat pintu kamar. Mereka tidak berani bicara apa-apa lagi, sejak kedatangan dokter komunikasi antara mereka seolah terhenti.
Lasio sepertinya belum siap untuk kehilangan lagi, setelah kepergian ayahnya dua tahun yang lalu. Bahkan, ia belum sempat mengabulkan permintaan Lina untuk segera memiliki pasangan hidup, sebelum dia tiada. Pria itu terlalu banyak pertimbangan dan memilih-milih seorang wanita yang bisa merawat ibunya dengan baik. Namun, saat ia menemukannya, Lina sudah lebih dulu pergi.
“Kalau melihat dari riwayat kesehatan Nyonya yang terus menurun akhir-akhir ini, saya sudah menduganya kalau akan terjadi dalam waktu dekat.”
Dokter berkata lagi dan Lasio tetap diam mendengarkan, bibirnya seperti terkunci.
“Sungguh, Nyonya bertahan jauh lebih lama, dari perkiraan saya sejak dia masuk rumah sakit setahun yang lalu. Dia jauh lebih baik, seperti memberi kesempatan pada Tuan untuk sering-sering bersama dan mendampingi.”
Lasio tidak menjawab ucapan dokter, karena semua yang dikatakannya benar, tidak ada kesalahan orang lain dalam kematian Lina. Memang sudah waktunya wanita itu tua pergi, hanya saja Lasio menyesal karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Seharusnya, ketika Lela datang dan cocok dengan ibunya, dia langsung menikahinya, sebelum Lexsi mengaku sebagai kekasihnya. Namun, penyesalannya saat ini hanyalah kesia-siaan belaka.
Hari itu suasana di rumah Lasio dalam keadaan berduka, bunga ucapan bela sungkawa segera berdatangan dan memenuhi seluruh halaman rumahnya, tak lama setelah berita kematian ibu dari pemilik rumah sakit, dan beberapa yayasan panti terkenal di kota meninggal dunia.
Sementara itu Lasio duduk diam di samping peti mati ibunya yang sudah disediakan. Ia dan dibantu juga oleh beberapa kerabat, menerima semua tamu yang mengucapkan bela sungkawa atas kepergian ibunya dengan sabar.
__ADS_1
Seluruh rangkaian kegiatan di rumah duka untuk melepas jenazah sudah selesai sehari kemudian. Saat Lasio hendak pergi menuju tempat pemakaman, ia tidak melihat Lela di mana pun. Padahal ia sangat ingin bicara lagi dengan gadis itu. Saat berpapasan dengan salah satu asistennya, Lasio pun menitipkan sebuah pesan agar Lela bersedia menunggu, sampai ia selesai menguburkan jenazah dan pulang kembali ke rumah.
❤️❤️❤️