Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Saran Lasonda


__ADS_3

Saran Lasonda


Lasio terdiam sejenak sambil menatap pria di hadapannya, yang juga menatap tajam ke arahnya. Sementara itu, dalam hati ia merasa jika kemungkinan Lela menyukai Lexsi atau sebaliknya, tapi ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Lela sudah menguasai hati Lasio yang ingin menjadikan gadis itu pendamping hidup sampai tutup usia. Rasa sukanya seperti orang yang kurang ajar tanpa permisi memasuki setiap relung jiwa.


Di mata Lasio, Lela adalah sosok yang sempurna, tubuhnya indah dan wajahnya enak dilihat walau tidak begitu cantik. Kelembutan dan kesabarannya merawat sang ibu saat masih masih hidup, benar-benar mencuri perhatiannya hingga diam-diam ia mencuri pandang. Bahkan, sering mengkhayalkan bila gadis itu tidur bersamanya.


“Sial!” rutuk Lasio dalam hati ketika miliknya sontak berdiri jika membayangkan kemolekan tubuh Lela, setiap malamnya.


Kini, gadis itu ada dalam genggamannya. Jadi, ia tak akan membiarkan orang lain tahu di mana Lela berada. Lasio akan berusaha membuat Lela menyukainya, sedangkan ia tidak peduli wanita yang disukai hamil anak siapa.


“Maaf, Tuan Lex! Panti itu masih dalam renovasi, aku akan sangat sungkan menerima tamu ... aku khawatir kalau kau menilaiku memiliki penampungan yang tidak layak, biar bagaimanapun reputasi tetap harus terjaga. Jadi, aku akan mengundangmu kalau perbaikan sudah selesai.”


“Lalu, untuk apa kau membeli mainan sebanyak ini?”


“Tentu saja untuk mereka, tapi aku akan mengirimkan melalui jasa ekspedisi!”


Semua yang dikatakan Lasio tentang perbaikan panti dan juga pengiriman mainan anak-anak, benar adanya. Penampungan itu memang masih dalam tahap renovasi. Namun, soal ia tidak akan pergi ke tempat itu, hanyalah kebohongan. Ia tetap akan mengunjungi Lela nanti malam.


Lexsi segera pergi dari toko mainan itu setelah Lasio pergi dengan membawa banyak mainan di bagasi mobil vanlux miliknya. Pria itu tetap curiga walau tahu, orang seperti Lasio biasanya jujur. Pria seperti mereka memegang teguh janji dan harga diri.


Namun, Lexsi tidak mempercayainya saat ini. Oleh karena itu ia menghubungi seorang detektif langganannya, siapa lagi kalau bukan Lasonda, putra Loru—si penjaga istal kudanya.


“Kau kenal Lasio, kan?” tanya Lexsi saat ponselnya sudah terhubung dengan Lasonda. Ia menelepon sambil mengemudi dengan kecepatan tinggi.


“Ya. Siapa di kota yang tidak kenal dengan orang seperti Lasio, Tuan Lex!”


“Hmm ... aku ada pekerjaan untukmu.”


“Apa itu, Tuan?”


“Ikuti Lasio dan informasi kan padaku, ke mana dia pergi akhir-akhir ini!”


“Oh! Itu mudah, akan aku kirimkan berita yang kau inginkan secepatnya!”


Lexsi menuju perkebunan dengan perasaan lega, ia optimis kalau Lela akan segara bersatu dengan dirinya cepat atau lambat. Ia pasrahkan semua urusan pencarian pada Lasonda. Sementara ia bisa melakukan hal-hal yang disukainya, berkebun dan memanen buah serta mengawasi para pekerja memelihara semua ternak.


Beberapa hari setelah itu, Lasonda meminta bertemu untuk membicarakan tentang penemuannya tentang Lela, dengan Lexsi.


Mereka bertemu di dekat istal kuda, Lasonda menahan semua informasi walau Lexsi ingin segera mendengarnya. Bahkan, detektif muda itu meminta majikan ayahnya untuk menumpahkan ketidaksabarannya dengan berkuda.


Lexsi menuruti Lasonda. Setelah Loru memasangkan pelana, ia duduk di atas punggung, dan menepuk perut kuda Flores jenis lokal itu, menggunakan kedua kakinya dengan keras. Tujuannya adalah agar binatang itu berlari dengan kencang meski tidak dicambuk.

__ADS_1


Setelah puas dan cukup berkeringat, Lexsi pun turun setelah menepuk-nepuk pelan leher kudanya.


“Tuan Lex! Bolehkah aku bertanya sesuatu, sebelum aku menyampaikan informasinya padamu?”


“Tentu.”


“Untuk apa kau ingin tahu di mana dia berada.” Lasonda bicara dengan tenang, setelah Lexsi duduk di sampingnya, dan menghabiskan segelas penuh air mineral pemberian Loru.


“Aku ingin membawanya hidup bersamaku di sini.”


“Di sini?”


“Ya. Apa itu salah?”


“Tidak. Sebenarnya itu hakmu, Tuan, tapi kalau aku sarankan, sebaiknya biarkan Lela berada di sana sekarang!”


“Apa alasannya?”


Lasonda menyampaikan semua informasi yang dia ketahui dengan akurat sesuai keinginan Lexsi. Ia juga mengatakan mengapa dan bagaimana Lela bisa berada di sana, semua atas pengakuan Lela sendiri padanya.


Saat berhasil mengikuti Lasio malam itu, Lasonda menyamar sebagai penduduk lokal dan berkenalan serta menawarkan diri menjadi teman Lela. Tentu saja penyamaran seperti itu adalah hal mudah, bagi seorang polisi seperti dirinya.


Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari, pria itu sudah bisa mengetahui semuanya, termasuk bagaimana perasaan Lela. Ia sebagai seorang wanita yang hampir melahirkan dalam kondisi tanpa seorang pendamping. Tentu ia tidak ingin diketahui banyak orang, karena hal itu sangat memalukan.


“Apanya yang memalukan? Aku akan menikahinya!” kata Lexsi terlihat emosi.


Lasonda pun berharap agar Lexsi tidak memancing keributan sebab kalau antara Lexsi dan Lasio memperebutkan Lela, secara terbuka, maka akan merugikan kedua belah pihak.


“Ya. Aku tahu, Tuan!”


“Jadi, aku akan menjemputnya besok!”


“Beri dia waktu sebentar, Tuan. Aku akan memberinya pengertian, tentu saja dalam kapasitas sebagai teman. Jadi, aku tidak akan memaksakan kehendak padanya, untuk mengikutimu.”


Suasana hening sejenak karena antara Lexsi dan Lasonda tidak saling bicara.


“Ya. Lakukan saja, semoga berhasil,” kata Lexsi pada akhirnya ia pun menyetujui saran dari Lasonda, untuk membiarkan Lela tetap berada di penampungan anak yatim itu.


$$$$$$$$$$


“Lela, apa kau baik-baik saja?” tanya Liran saat Lela terlihat menyeka keringat di pelipisnya dan meringis menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.


“Aku baik, Bibi ... hanya gerah saja, kata orang kalau hamil semakin besar maka akan semakin sering merasa kepanasan!”

__ADS_1


“Ah, ya! Kau benar!” kata Liran, wanita gemuk berambut keriting itu mendekat dan mengusap perut Lela dengan lembut.


“Istirahatlah, jangan terlalu lelah!”


“Aku tidak lelah, Bibi jangan kuatir!”


Kedua Dua wanita itu sedang sibuk merapikan dapur setelah mereka selesai memasak di sore hari, untuk makan malam semua anggota panti. Perut Lela yang membuncit terlihat tidak seimbang dengan tubuhnya, yang membungkuk saat menumpuk sampah.


Meskipun Liran dan Larin sudah meminta Lela untuk lebih banyak istirahat, tapi gadis itu selalu menolak, dengan alasan tidak enak jika hanya diam saja. Mereka hanya takut disalahkan, kalau sewaktu-waktu Lasio datang dan Lela masih bekerja.


Walaupun, Lela selalu mengatakan tidak masalah, tapi mereka tetap saja tidak enak sebab Lela adalah, wanita titipan orang yang sudah sangat berjasa pada kampung mereka.


“Kenapa Bibi Larin belum pulang juga?” tanya Lela. Setelah semua pekerjaan selesai, dan ia duduk di salah satu kursi kosong di ruang serbaguna, sambil mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa sakit seperti ditarik.


Setumpuk mainan baru kiriman dari Lasio beberapa bulan yang lalu, masih tersusun rapi di sudut ruangan, dekat dengan tempat duduk Lela. Bukan hanya mainan, semua hal bagus ditunjukkan Lasio di tempat itu tanpa imbalan.


Lasio datang mengunjungi mereka di panti asuhan sepekan sekali, dengan membawa kasih sayang, dan perhatian yang luar biasa besar pada semua anak. Mudah sekali cinta tumbuh di hati setiap orang pada pria sebaik Lasio. Demikian juga dalam hati Lela. Gadis itu tidak akan menolak jika Lasio benar-benar mencintainya.


Namun, selama ini yang diperlihatkan Lasio adalah kasih sayang yang biasa, yang juga diberikan pria itu pada semua orang. Sulit rasanya menilai jika orang tersebut telah jatuh cinta padanya.


“Aku juga tidak tahu. Biasanya mereka cepat sampai sebelum sore.” Liran menyahut sambil meneguk kopinya.


Baru saja Lela dan Liran selesai bicara, Larin yang mereka khawatirkan, sudah muncul dari pasar dalam keadaan basah. Wanita itu tadi pergi dengan Lasio yang kebetulan datang berkunjung.


Namun, hal tidak di duga terjadi, hingga Larin terpaksa pulang sendiri dengan menyewa kendaraan, padahal hari tengah hujan lebat.


Sementara itu, anak-anak Panti asuhan tengah berada di kelas menggambar, bersama dengan guru yang di datangkan khusus setiap hari dari semua bidang pelajaran. Mereka akan tiba kembali, setelah waktu makan malam.


“Ke mana Tuan Las? Kenapa dia tidak mengantarmu pulang?” kata Liran sambil membantu menurunkan barang kebutuhan panti, dari mobil yang disewa Larin.


Barang belanjaan itu cukup banyak dan mereka menurunkannya di teras samping ruangan serba guna.


“Dia pergi ke Luar negeri. Tadi, dia mendapat panggilan kalau bibinya yang ada di negeri tetangga sakit keras dan ingin bertemu dengannya. Jadi, dia terpaksa membiarkan aku pulang sendiri,” jawab Larin, sambil menyimpan mantelnya.


“Lalu, siapa yang membayar mobil ini?”


“Jangan kuatir, Tuan sudah membayar semuanya!”


“Oh! Syukurlah!”


“Ke mana Lela?” Tiba-tiba Larin bertanya, dia mengeluarkan sebuah bungkusan berisi popok bayi untuk Lela, pemberian Lasio yang dititipkan padanya.


“Dia tadi ada di sini?” Kata Liran sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling Ruangan sebab mereka baru saja mengobrol di sana.

__ADS_1


“Astaga! Lela!” teriak Liran kemudian.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2