
Usaha Lexsi Lagi
Lexsi berdiri dengan perlahan, lalu mendekati ayahnya. Ia berdiri di hadapan pria paruh baya itu seperti dua orang yang sedang berseteru. Kedua telapak tangannya berada dalam saku celana, ia bicara dengan tenang, seperti pohon yang sulit dipatahkan atau karang yang susah di hancurkan.
“Ayah ... aku masih ingat nasehatmu dulu bahwa, uang dan materi mempengaruhi nada bicara, pengetahuan mempengaruhi gaya bicara dan moral mempengaruhi etika bicara ... Kenapa kau kali ini seperti kehilangan semuanya?”
“Apa maksudmu? Hah!” sahut Lexra masih terlihat marah. Kecewanya pada Lexsi sepertinya sulit di atasi.
“Ayah tidak seperti biasanya, gaya bicara Ayah seperti orang yang tidak berharta, tidak berpengetahuan dan juga tidak bermoral .... Apa salahnya aku di sini? Bukankah aku anakmu yang sebenarnya, siapa yang lebih kau sayangi, aku atau Leo?”
“Seorang bisa mengaku anak kalau dia menurut pada kedua orang tuanya, tidak seperti kau, Lex!” kata Lextra sambil melihat ke sekelilingnya yang berantakan.
“Sudah-sudah!” kata Lusi mencoba menengahi pembicaraan antara suami dan anaknya, “Seharusnya kamu mengabari kami, atau sedikit tidaknya kamu memberitahu ibu ... bukan untuk menutupi sesuatu ataupun membuatmu kesal, tetapi aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu, itu juga kalau kamu memberitahu akan datang berkunjung ke sini.”
“Ibu tidak perlu repot-repot, aku tidak membutuhkan sambutan seperti itu!” Ujar Lexsi kembali duduk di kursinya, dan membiarkan Leo Ibu serta ayahnya duduk di sofa yang ada di dekat meja kerjanya.
“Jadi Leo Apa ada yang akan kau bicarakan denganku dan Apa maksudmu berbohong selama ini?” Leksi berkata dengan lugas sambil duduk bersandar di kursinya.
“Aku sebenarnya tidak bermaksud berbohong tapi—“ ujar Leo.
“Tapi kenyataannya kau sudah berbohong padaku, lalu apa maksudmu?” tanya Lexsi memutuskan pembicaraan.
“Apa yang sudah kau katakan padanya, Leo?” tanya Lusi penasaran.
“Maaf nyonya aku hanya tidak ingin mengecewakan Tuan Lexsi, dan setiap kali ia menanyakan keadaan perusahaan dan meminta laporan, aku selalu bilang kalau perusahaan baik-baik saja!” sahut Leo suaranya mulai gemetar.
“Tapi nyatanya kau sudah mengecewakan aku walaupun, kau tidak berniat seperti itu, kan?” kilah Lexsi, “Dasar asisten tidak berguna!”
“Jadi, apa kau akan marah pada Leo setelah mengetahui semuanya, padahal seharusnya kau yang bertanggung jawab atas semua ini?” kata Lextra masih dengan nada penuh amarah dan tatapan membara pada anaknya.
“Dia seharusnya dia tidak perlu berbohong, Ayah!” tandas Lexsi.
__ADS_1
“Sebenarnya prosedur sudah dilakukan hanya saja waktu itu—“ kata Leo terputus lagi.
“Waktu itu kau lebih mengutamakan kepentingan pribadimu, untuk menikah, kan?” tanya Lexsi membuat Leo terdiam. Ia menyesali kelalaiannya, yang terlambat memberikan berkas terakhir perjanjian di bursa saham waktu itu. Sebenarnya ia sudah membuat kesepakatan dengan seseorang yang dipercaya bisa menangani keterlambatannya, dengan memberi orang itu sejumlah uang, tapi usahanya tidak berhasil.
Suasana hening, hingga Lexsi kembali bicara.
“Aku hanya heran, kenapa kau tidak jujur kalau tidak sanggup mengerjakan itu, karena kau akan menikah dan sibuk mengurus persiapannya? Kalau kau jujur tidak akan seperti ini jadinya, Leo!”
“Lalu, apa keputusanmu untuk mengatasi hal ini? Apa kau akan tetap di peternakan dan berbicara dengan sapimu? Ingat Lex, sapi-sapi itu tidak akan bisa menolong kita!” ujar Lextra agak keras.
“Ck! Siapa bilang?” tanya Lexsi.
“Lexsi ... Ayah, sudahlah, tidak usah di bahas lagi soal ini, aku bosan mendengar kalian terus berbeda pendapat soal ini!” teriak Lusi sambil menggoyangkan lengan suaminya yang duduk tepat di sisinya.
“Ayah pikir, bagaimana produk susu kaleng kita bisa meningkat kalau bukan karena sapi-sapi yang aku urus dengan baik, dan apa kalian pikir kemajuan perusahaan itu bisa terjadi tanpa dikembangkan dari bawah lebih dulu? Tidak Ayah, tidak! Keberhasilan perusahaan tidak terjadi begitu saja!”
“Tapi, sudah aku bilang berkali-kali kalau dalam hal seperti itu, kau bisa memberikan tugasmu pada asisten!” Lextra menimpali ucapan Lexsi dengan kesal.
Kembali suasana hening karena ucapan Lexsi itu.
“Ayah! Semua sektor itu ada kemungkinannya untuk merugi, dan dipercaya atau tidaknya seseorang, bisa saja dia membuat sebuah masalah, tidak hanya di kantor di peternakan juga bisa!”
“Kau ini! Apa kau pikir bisa percaya juga pada dirimu sendiri?” tanya Lextra terdengar menyudutkan Lexsi.
“Ya! Kenapa tidak?” tanya Lexsi.
“Benarkah? Aku dengar kau kesal karena seseorang sampai memenuhi setengah gudang kayu untuk persediaan pemanas ruangan! Apa kau sudah gila?”
“Ya. Itu benar. Setidak-tidaknya amarahku bermanfaat, kayu yang sudah ku-belah semuanya diangkut untuk pemanas di rumah-rumah Ayah juga, bukankah begitu?”
Lextra pun kembali diam ia terlihat menggerakkan gigi gerahamnya. Sementara Lexsi hanya tersenyum tipis. Ia memang jarang terlibat dengan perusahaan, tapi ia tidak bodoh untuk mengetahui tentang seluk beluk dan masalah perusahaan.
__ADS_1
“Jadi, Sayang, sekarang bekerjalah di sini lagi, oke?” tanya Lusi.
“Baiklah, kali ini akan aku pertimbangkan!” sahut Lexsi membuat Lextra mencibir sambil memalingkan pandangan. Namun, saat itu juga ia tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat oleh orang lain.
“Oh iya, aku lupa menanyakannya padamu, kenapa kau datang tiba-tiba? Apa ada yang kau butuhkah?” tanya Lusi dengan lemah lembut.
“Tudak ada!” Lexi masih enggan berkata terus terang pada ibunya, tentang maksud dan tujuannya datang ke sana hanyalah untuk menjadi pantas demi seorang wanita.
“Apa kau sebelumnya mampir ke rumah, kau tidak menemukan kami hingga langsung datang ke sini bukan?” Lusi tahu anaknya tidak begitu banyak bicara kalau ditanya sesuatu hal, tentang pribadinya hingga ia menanyakan langsung kepada intinya.
“Tidak, mungkin setelah ini aku akan mampir!” sahut Lexsi.
Akhirnya keempat orang itu mengambil keputusan sebagai hukuman, yaitu Leo harus menanggung untuk mengurus perusahaan, tanpa mendapatkan gajinya selama beberapa bulan ke depan. Walaupun, apa yang didapatkan Leo tidak sebanding dengan keuntungan perusahaan yang hilang, tetapi setidaknya keluarga Leksi telah memberi efek jera pada pria itu. Kekecewaan yang terjadi tidak hanya pada Leksi tetapi juga Lusi dan Lextra.
Leo secara bertanggung jawab mau menerima hukumannya, karena tidak ingin menambah kekecewaan pada keluarga Lexsi yang sudah sejak awal mempercayainya. Memang ia termasuk sosok yang pandai dan juga berdedikasi tinggi, hanya kecerobohan kecil saja ia sudah membuat perusahaan rugi cukup besar.
Tentu saja sebagai orang yang merasa berhutang budi, ia tidak bisa tinggal diam. Leo bersyukur keluarga itu tidak membawa kesalahannya ke ranah hukum sebab kalau hal itu terjadi, maka akan lebih menyusahkannya lagi. Apalagi Ia baru saja menikah beberapa bulan ini, ia tidak mau kalau harus meninggalkan istrinya, demi mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.
Lexsi memutuskan untuk mengikuti ibunya pulang ke kediaman keluarga mereka, setelah pembicaraan itu berakhir.
“Sepertinya kau membutuhkan pakaian baru! Ayo ke butik dulu!” kata Lusi sambil memberi isyarat pada sopir, untuk singgah ke tempat langganannya memesan pakaian.
“Tidak perlu!” kata Lexsi datar, pakaian dan penampilan bukan hal yang penting baginya.
“CK! Kau tidak mungkin memakai pakaian lamamu yang ada di rumah, kan?” kata Lusi sambil menepuk-nepuk bahu anaknya, yang duduk di samping saat mereka sedang berkendara menuju rumah.
Lexi meninggalkan mobil tuanya di halaman parkir perusahaan, ia mengikuti kendaraan mewah sang ibu, demi membahagiakan wanita yang sudah melahirkannya namun sangat jarang ia temui itu.
“Apa Ibu kenal orang yang bernama Lasio?” Lexsi tampak mengalihkan pembicaraan dari masalah pakaian.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1