Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Sesuatu Yang Berharga


__ADS_3

Sesuatu Yang Berharga


Dua pria yang berdiri di depan Lela, memandangnya dengan tetapan menilai dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian tersenyum lembut. Mereka mengangguk. Salah satu di antara mereka mendekat dan mengulurkan tangan untuk membelai pipi gadis itu, dan Lela pun memalingkan muka. Ia mencoba untuk menghindari sentuhan tangan Lobo, tapi sia-sia karena ia tidak bisa bergerak. Landu mencengkeram bahunya dengan kuat.


“Hai Cantik! Siapa namamu?” tanya salah satu pria yang tadi mencoba membelai pipi Lela. Ia terlihat lebih dominan dari laki-laki yang di sebelahnya.


Lela merasa percuma saja walaupun mencoba mengelak, dan hanya bisa mendengus kesal karena tak berdaya.


Lela tidak tahu kalau sebenarnya dia tengah dijual kepada dua laki-laki yang menyukai sesama laki-laki di hadapannya itu oleh Lein dan Landu. Ya, mereka adalah manusia penyuka sesama jenis yang menjijikkan.


Mereka hendak menyewa rahim Lela untuk menyimpan benih, karena tidak bisa memiliki anak. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat bayi tabung, dengan menyewa rahim seseorang wanita.


Lein mendengar rencana mereka secara tidak sengaja beberapa hari yang lalu, tepat sebelum Landu membawa Lela ke klub malam waktu itu. Kebetulan sekali Lein mengenal salah satu dari mereka, sehingga ia menawarkan seseorang yang bisa menampung benihnya, yang ia maksud adalah Lela.


Namun karena saat itu Lela sudah terlanjur ditawarkan pada laki-laki hidung belang di klub malam oleh suaminya sendiri, maka mereka memutuskan untuk menundanya.


Kesempatan pun mereka dapatkan setelah Lela dibawa oleh Lulu. Saat itu mereka dalam perjalanan menuju ke rumah Lasio karena mendengar jika Lina, orang yang membuat Lela bertahan sudah meninggal dunia.


“Lela, perkenalkan namamu, dia adalah Tuan Lobo!” kata Lein pada Lela dengan sangat lembut, nada bicara yang tidak pernah diperdengarkannya kepada keponakannya, selama ini wanita itu selalu bersikap kasar padanya.


“Jangan khawatir, kau akan diperlakukan dengan sangat layak oleh mereka, dan kau akan mendapatkan segalanya bukankah begitu, Tuan Lobo?” kata Lein lagi dan pria itu mengangguk.


“Lela ... mereka sangat baik dan kau akan nyaman berada di rumahnya! Semua fasilitas mewah ada di mansion Tuan Lobo dan kau akan tinggal bersamanya selama dalam perjanjian!” kata Landu.


“Apa? Apa maksud semua ini, Bibi? Perjanjian apa? Aku tidak mengenalnya!” jerit Lela, ia panik karena merasa tidak pernah melakukan perjanjian apa pun dengan siapa pun.

__ADS_1


“Jangan begitu, bersikap baiklah pada Tuan Lobo dan Lily, karena mereka tidak akan menyakitimu, Tuan Lobo hanya ingin menitipkan sesuatu yang berharga di tubuhmu!” ujar Lein.


“Sesuatu apa maksud Bibi?”


Lela benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sesuatu yang berharga dan sesuatu yang berhubungan dengan tubuhnya. Lalu, ia berpikir kalau saudara ibunya itu sudah menjualnya lagi. Namun, kali ini untuk suatu hal yang dia sendiri tidak tahu.


“Jadi, namamu Lela?” kata salah satu di antara dua pria yang disebut sebagai Tuan Lobo.


Lela diam saja, ia sudah merasa putus asa, karena tidak ada gunanya mengelak ataupun memberontak dari pamannya dan dua laki-laki itu. Mereka bisa lebih kasar kalau dia secara terus terang menolak. Mungkin suatu saat ia bisa kabur, tapi sekarang ia memilih menurut dari pada harus mendapatkan penyiksaan.


“Aku Lobo, dan ini kekasihku Lily!” kata Lobo sambil mengulurkan tangannya dan menunjuk pria di sebelahnya.


Tiba-tiba saja Lela tersenyum miris, setelah mendengar ucapan Lobo. Kini ia mengerti apa yang dimaksud oleh bibinya dengan sesuatu yang berharga, yang akan dititipkan, oleh dua pria itu ditubuhnya. Memang, mungkin ia tidak akan menjadi mainan atau melayani mereka di tempat tidur, tetapi ini adalah permainan lebih memalukan.


Lela membuang muka, menunjukkan kalau dirinya tidak akan sudi, jika tubuhnya dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan benih dari salah satu di antara mereka.


Apa jadinya anak yang akan ia lahirkan kelak, begitu pikir Lela.


Semua itu adalah suatu hal yang sungguh tidak bermoral dari sejak dunia muncul sampai berakhir nanti, hubungan seperti ini tidak akan pernah direstui. Ia tidak mau menjadi orang yang turut andil, dalam merusak tatanan sosial masyarakat, dengan melahirkan anak dari dua orang laki-laki, yang menjalin hubungan dengan cara tidak normal dan menjijikkan.


Lela menoleh pada Lein dan Landu.


“Jadi, Bibi menjual aku lagi untuk hal ini? Berapa banyak uang yang akan kalian dapatkan dariku?” tanya Lela, ia mengabaikan uluran tangan dari Lobo.


Lein dan Landu kini terdiam, wajah mereka tiba-tiba berubah pucat. Rupanya masih ada sedikit perasaan malu di hati mereka, mendengar ucapan Lela.

__ADS_1


“Kalau memang uang yang akan kalian dapatkan sangat banyak, mengapa bukan anak Bibi saja yang disewakan rahimnya untuk mereka? Kau jahat sekali Bi! Mendiang Ibuku pasti akan mengutukmu habis-habisan dan kau tidak akan pernah hidup tenang! Bahkan, sebanyak apa pun harta yang kau peroleh, tidak akan pernah memenuhi seleramu! Kau serakah!”


Lela diam sejenak untuk mengusap air mata dengan bahunya karena tangannya dipegang erat oleh Landu. Rasa putus asanya, jauh lebih dalam dari saat ia dibawa ke klub malam waktu itu.


“Bi! Apa kau tidak bisa berpikir kalau anakmu sendiri yang merasakan, dan menderita atau mendapat perlakuan seperti yang kau lakukan padaku? Kira-kira apa yang akan kau lakukan kalau semua ini terjadi pada anakmu sendiri? Sungguh kau bukan manusia Bibi!”


“Diam!” teriak Landu sambil mempererat cengkeraman tangannya hingga Lela meringis kesakitan.


“Baiklah!” kata Lela, kembali menoleh kepada Lobo, “kau Tuan Lobo, benarkah akan bersikap baik padaku dan memberikan apa pun yang aku inginkan kelak, kalau aku benar-benar menuruti kemauanmu?” tanya Lela kemudian, ia benar-benar terlihat sudah putus asa.


“Ya, tentu saja kata!” sahut Lobo dengan penuh semangat dan senyum lebar di bibirnya.


“Kalau begitu, ayo! Kita pergi sekarang, Tuan!” kata Lela masih dengan berurai air mata.


“Aku sudah muak dengan kelakuan bejat dua orang saudara ibuku ini!” Lela berkata lagi, sambil menoleh pada Landu, dan kembali berkata, “Lepaskan aku, kalian sudah menerima bayarannya bukan?”


Lendu dengan ragu melepaskan Lela, cekelan tangannya terasa mengendur hingga Lela pun mengibaskannya begitu saja. Lalu, ia berjalan lebih dulu mendahului Lobo dan kekasihnya.


“Hai!” teriak seorang yang diakui Lobo sebagai kekasihnya, sambil berjalan cepat menyusul gadis itu.


Lela pun menoleh tanpa ekspresi apa pun di wajahnya yang basah.


“Jangan khawatir, aku tidak akan melarikan diri ... Ayo! Tunjukkan di mana rumah kalian!” kata Lela sambil mengusap air matanya yang sepertinya belum mau berhenti mengalir.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2