
Datang Naik Kuda
“Ya. Halo!” kata Lexsi begitu menempelkan telepon genggam ke telinganya. Ia diam sambil mendengarkan Lasonda bicara, sedangkan langkah kakinya menuju garasi, tempat ia menyimpan mobil sedan tua, yang tidak pernah ia gunakan dalam jangka waktu yang lama.
Sekilas dari luar mobil itu terlihat tidak terawat dan catnya sudah memudar, tetapi mesin dari mobil itu setara dengan kekuatan mobil keluaran baru dengan merek yang sama.
Tanpa bicara sedikit pun, Lexsi menutup panggilan dari Lasonda, lalu ganti menghubungi Lind. Setelah telepon tersambung, ia langsung membatalkan penjemputan kerabatnya itu secara sepihak.
“Apa kau gila? Aku sudah setengah jalan menuju ke tempatmu, sialan!” kata Lind dengan kesal dan ia mengumpat.
“Tidak masalah bukan kalau kau kembali saat ini juga?”
“Lalu kau akan mangkir, begitu?”
“Tidak! Jangan khawatir, aku akan datang ke sana tapi mungkin agak terlambat.”
“Kenapa? Apa ada serangan hama mendadak di kebunmu?”
Lexsi tidak menanggapi candaan dari kerabatnya itu, karena gurauan seperti itu sudah sangat sering didengar dan ia sudah cukup terbiasa
“Aku ada urusan mendadak sebentar, sampaikan salamku pada Loyuan!” kata Lexsi datar.
__ADS_1
“Apa kau akan pergi dengan mengendarai kuda?”
“Ya. Apalagi memangnya yang aku punya, selain kuda?”
“Baiklah! Jangan lama-lama, oke?” Lind berkata sambil tergelak kecil, sambil memutar kembali arah mobilnya. Ia membayangkan Leksi yang datang dengan mengendarai seekor kuda, ia pun kembali tertawa.
Lexsi mengakhiri panggilan dan melemparkan ponselnya pada kursi kosong di sebelahnya. Lalu, setelah mengenakan sabuk pengaman, ia segera memacu mobilnya, ke arah jalanan dengan kecepatan penuh.
Lexsi menuju tempat yang ditunjukkan oleh Lasonda di mana pria itu melihat seseorang yang mirip dengan Lela. Secara kebetulan tempat itu adalah klub yang sama di mana Loyuan akan mengadakan pesta bujangnya.
$$$$$$$$$$
Lela duduk di depan sebuah meja rias dengan wajah ditekuk, air matanya berhenti mengalir karena sudah kering sejak beberapa jam yang lalu.
Ini sudah kesekian kalinya suami dari bibinya itu memperlakukan Lela, seperti wanita tidak bermoral serta diperjualbelikan sekehendak hati. Biasanya Lela selalu berhasil kabur, tetapi kali ini tidak lagi.
Sejak Lela dibawa oleh Lein ke penjara rumahnya sendiri, ia tidak bisa kemana-mana kecuali di dalam kamar. Mereka menyekapnya di sana. Walaupun, semua kebutuhan seperti makanan dan pakaian tercukupi selama beberapa hari ini, tetapi ia tidak memiliki kebebasan sedikit pun.
Sekarang, di sinilah ia berada, hanya duduk diam sesudah dirias dengan sangat cantik di sebuah ruangan, tempat semua wanita malam yang akan di lelang bersolek juga.
Sementara di luar sana, di sebuah ruangan lain dalam klub malam itu, Landu terlihat gembira dan tertawa puas. Ia menikmati minuman dengan bebas, merayakan keberhasilannya menjual Lela, dan sebentar lagi ia akan mendapatkan uang yang cukup banyak.
__ADS_1
Landu selama ini merasa tidak bebas memiliki uang, karena istrinya lebih dominan dari darinya. Semua karena harta warisan dan juga kekayaan Lein memang lebih banyak. Apalagi sekarang istrinya itu memiliki tambahan uang dari kebun dan juga kekayaan ibu Lela, hingga wanita itu lebih sombong dan berbuat semaunya.
Inisiatif Landu menjual Lela adalah salah satu cara untuk melampiaskan kekesalan, sekaligus mencari uang demi kepuasan pribadinya.
Sejak Lein—istrinya menemukan Lela, ia begitu bersemangat karena keponakannya itu terlihat lebih menarik dan lebih cantik dari sebelumnya. Ia yakin Lela pasti akan terjual dengan harga tinggi dan akan menarik minat pembeli. Ia begitu membanggakannya pada mucikari di sana jika Lela masih perawan.
Landu berusaha untuk membujuk Lela agar mau ikut bersamanya dengan susah payah dan tipu daya. Namun, gadis itu susah sekali untuk ditundukkan. Akhirnya pria itu pun menipu dengan kabar burung bahwa, akan ada pemindahan makam secara besar-besaran termasuk kuburan ibunya.
“Benarkah, Paman?” kata Lela sambil menangis, karena tidak percaya jika makan ibunya akan dipindahkan oleh pemerintah kota ke tempat yang jauh. Sementara tempat yang sekarang menjadi kuburan umum itu akan dijadikan sebuah taman kota. Setidaknya seperti itulah informasi yang diberikan Landu.
“Apa kau tidak percaya padaku? Aku baru saja mendengar informasinya sekarang! Apa kau mau melihat di mana lokasinya?”
“Tentu!”
“Kalau begitu cepatlah bersiap, sebelum bibimu pulang dari pasar ... dia pasti akan menuduhku yang tidak-tidak kalau melihatmu pergi denganku hari ini!”
“Kenapa? Kenapa Bibi harus curiga, apa Bibi tidak tahu kalau makam Ibuku dipindahkan?”
“Tentu dia tahu, tapi sekarang sudah tidak peduli!” tandas Landu, ia terlihat tidak sabar.
Benar saja, penipuan itu pun berhasil dan Lela mau menuruti Landu, yang akan menunjukkan tempat untuk pemindahan kuburan ibunya yang baru.
__ADS_1
❤️❤️❤️