Pesona Sang Penoda

Pesona Sang Penoda
Pernah Trauma


__ADS_3

Pernah Trauma


“Tidak bisa!” tidak Lein tegas


“Dengar! Setelah dia selesai nanti, kita bisa mengambil gadis itu lagi dan mengurungnya di kamar serta merawatnya agar tetap sehat dan bugar! Baru kita bawa dia pada Tuan Lobo!”


Lein menatap suaminya lekat-lekat, sepertinya amarah sudah mulai berkurang dari dalam hati sebab ia melihat peluang ganda untuk mendapatkan uang saat ini juga. Lalu, ia pun setuju.


Tak jauh dari tempat Landu dan Lein berseteru, tampak seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap, sedang menunduk sambil memegangi perutnya.


Lexsi sengaja keluar dari ruangan pribadi yang disewa oleh Loyuan dan Lind, untuk tempat pesta bujang mereka. Ia sangat mual dan ingin muntah karena tidak kuat mencium aroma klub malam, yang dipenuhi dengan bau alkohol dan asap rokok yang tebal.


Pria itu tidak terbiasa dengan suasana ramai, ditambah suara musik yang menggema serta banyak orang berjoget di lantai dansa. Membuat Leksi sakit kepala.


Lexsi pernah merasakan mual yang sama, seperti saat masih sekolah dulu. Waktu itu ia pergi ke sebuah klub dipaksa ikut oleh beberapa temannya, dan secara tidak sengaja melihat dua orang yang sedang memadu kasih di lorong serta di dalam toilet.


Sejak saat itu ia bersumpah untuk tidak datang lagi ke tempat yang sangat menjijikkan. Selain karena tidak menyukai aroma dan suara hingar bingar musik, ia tidak ingin melihat adegan mesum di tempat yang sama lagi.


“Tuan, Anda bisa menggunakan wastafel di toilet pria!” Lasonda mengingatkan Lexsi yang bisa saja akan malu kalau benar-benar muntah di tempat itu.


“Tidak! Demi Tuhan aku tidak akan mendatangi tempat menjijikkan itu!”

__ADS_1


Maksud Lexsi adalah toilet pria. Ia masih mengingat masa kanak-kanaknya, dengan jelas. Trauma seorang anak tidak akan mudah dihapuskan begitu saja. Ingin sekali segera pergi kalau tidak ingat dengan tujuannya datang ke sana.


Ia harus meneruskan pengintaian pada Lein dan Landu, sebuah nama yang memiliki hubungan erat dengan Lela, malam ini mereka berada di tempat yang sama.


Lexsi mendapatkan nama itu dari penyelidikan Lasonda, ia sangat puas dengan kecepatan laki-laki itu menemukan Lela. Berkat pria itu, semua data diri dan keadaan tentang Lela bisa diketahuinya dengan cepat.


Ia sudah tahu apa yang akan dilakukannya jika bertemu dengan Lein dan Landu, yaitu akan melamar Lela untuk dijadikan istrinya.


Saat Lexsi membungkuk karena ingin muntah, tidak ada apa pun yang keluar dari dalam perutnya, tapi rasa mual itu tidak hilang juga. Saat itulah secara tidak sengaja ia mendengar pertengkaran dua orang dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya berada.


Ia semakin menajamkan telinga saat mendengar nama Lela disebut. Ia pun menjadi gusar ketika dua orang itu membicarakan tentang wanita sewaan. Ia segera menegakkan punggung dan melangkah secara perlahan. Hingga jarak Lexsi lebih dekat dengan keduanya.


Namun, saat Lexi sudah ada di dekat Landu dan Lein, justru dua orang itu sudah selesai karena mereka tidak bicara lagi. Akan tetapi Landu menerima panggilan telepon tidak lama setelah itu.


Landu mendapatkan panggilan dari mucikari di klub malam, yang memintanya untuk segera datang ke ruangan untuk menemuinya.


"Baik! Aku akan segera ke sana!" katanya lagi.


Setelah berada di dalam dan menemui sang mucikari, wajah Landu terlihat begitu senang. Wanita gemuk itu mengatakan kalau Lela sudah berhasil di sewa oleh seorang pria, yang justru datang ketika acara pemilihan gadis malam itu hampir usai. Ia sendiri tidak menyangka kalau masih ada seorang pria yang akan memilih wanita, padahal hanya tinggal satu orang saja yang tersisa yaitu Lela.


“Jadi, akhirnya anak itu dapat lelaki juga,” ucap Landu terdengar ceria. Mereka bertiga duduk secara berhadap-hadapan dalam satu meja.

__ADS_1


“Ya! Padahal menurutku dia sama sekali tidak menarik, tapi aku heran justru dialah yang dipilih oleh Tuan Lasio!” kata mucikari itu.


“Ah! Tidak masalah, aku tidak peduli akan dipakai oleh siapa perempuan itu! Kalau memang laki-laki itu menyukainya ya, biarkan saja!”


Mucikari itu masih memiliki hati, ia pun heran pada Lein dan Landu yang seharusnya menjadi wali, menjaga dan merawat Lela, tapi justru mengeksploitasi keponakannya sendiri dan menikmati uangnya.


“Jadi, ini uang bagianmu! Keponakan kalian itu hanya bisa menghasilkan segitu!” kata Wanita gemuk tapi tetap seksi itu.


Memang seperti itulah perjanjiannya, berapapun hasil dari pemberian laki-laki yang memilih si wanita, akan dibagi dua.


Landu menerima uangnya dengan bahagia, tapi hanya sebentar karena ia melirik pada istrinya yang tengah melotot. Keinginannya untuk menikmati uang sepuasnya pun akhirnya gagal sudah. Mau tidak mau, akhirnya ia menyerahkan uang hasil dari menjadikan Lela, sebagai wanita penghibur itu kepada istrinya.


"Apa kau puas sekarang bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi dari gadis itu?" tanya Landu setelah berdua berada di luar ruangan mucikari dan mereka menuju mobil Lein, di tempat parkir.


"Kau tahu, siapa Tuan Lasio?" tanya Lein pada Landu, saat sudah mengendarai mobilnya, ia menjalankan kendaraan itu menuju rumah dengan kecepatan sedang.


"Ya. Mudah mencarinya, dia pemilik Panti Jompo di pusat kota!"


"Baguslah kalau kau tahu, kita mudah kalau menjemput Lela nanti!"


"Hmm ...!"

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2